Nama : Mohamad Imron
NIM :
21086030043
Teladan Mengendalikan Amarah
Di antara
wujud ketakwaan terhadap Allah adalah belajar mengendalikan kemarahan. Dalam
hal ini, dahulu ada seorang sahabat—ada yang mengatakan sahabat ini adalah
Abdullah bin Umar, Abu Darda’, dan Sufyan bin Abdullah as-Tsaqafi—yang serius
meminta nasihat kepada Nabi Muhammad saw. Lalu secara simpel dijawab oleh
beliau agar ia tidak marah. Berulang kali ia meminta nasihat, Nabi saw masih
saja menasihatinya agar tidak marah menuruti hawa nafsu. Dalam hadits shahih
diriwayatkan:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ
رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، أَوْصِنِيْ. فَقَالَ: لَا تَغْضَبْ.
فَرَدَّدَ مِرَارًا. قَالَ: لَا تَغْضَبْ. أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ
Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, sungguh ada seorang laki-laki
berkata kepada Rasullullah saw: ‘Rasulullah saw, berwasiatlah kepadaku.’ Lalu
beliau menjawab: ‘Jangan marah.’ Laki-laki itu kemudian mengulang-ulang
permintaan nasihat kepadanya. Rasulullah pun tetap menjawab: ‘Jangan marah’,”
(HR al-Bukhari).
Kadang kita
sebenarnya sudah berusaha menahan diri untuk mengendalikan kemarahan, namun ada
saja orang yang memancing-mancing emosi kita. Lalu bagaimana kita
menghadapinya? Sayyidina Mu’awiyah yang terkenal sebagai ahlamul ‘arab atau
orang Arab yang paling bijak dan mampu mengendalikan kemarahan dapat dijadikan
teladan. Ia mempunyai prinsip tidak akan marah, baik terhadap orang yang mampu
dibalasnya maupun terhadap orang yang tidak mampu dibalasnya. Suatu ketika ada
orang yang mengklaim dapat membuatnya marah. Berangkatlah orang itu ke tempat
Sayyidina Mu’awiyah dan dengan penuh ketidaksopanan ia berkata: “Nikahkanlah
ibumu denganku, sebab dubur atau pantatnya besar.” “Nah karena itulah ayahku
mencintainya,” jawab sayyidina Mu’awiyah secara cerdik tanpa kemarahan. Tidak
hanya mampu menggendalikan kemarahan dalam situasi sulit seperti itu, bahkan
Sayyidina Mu’awiyah ra memberi uang 1.000 dinar kepada yang telah memancing
kemarahannya tersebut agar digunakannya untuk menikahi perempuan lain.
(Muhammad bin Abdillah al-Jurdani ad-Dimyathi, al-Jawâhir al-Lu’lu’iyyah fî
Syarhil Arba’înan Nawawiyyah, [Mansurah, Maktabah al-Îman], halaman 147).
Demikianlah
akhlak menjaga kemarahan dari Sayyidina Mu’awiyah yang dapat kita teladani.
Meskipun dipancing-pancing untuk marah, semestinya kita tetap berusaha
semaksimal mungkin untuk tidak menuruti nafsu amarah yang menyala-nyala di hati
kita, seiring pesan Nabi saw yang diulang-ulang kepada umatnya: “Jangan marah”.
Komentar
Posting Komentar