Langsung ke konten utama

SHILATURRAHIM SEBAGAI UPAYA MENYAMBUNGKAN TALI YANG TERPUTUS

 

 

SHILATURRAHIM     SEBAGAI    UPAYA    MENYAMBUNGKAN TALI YANG TERPUTUS

 

Muhammad Abduh

 

ABSTRAK

Di dalam al-Quran kata taqwa dan shilaturrahim selalu dirangkai, itu artinya shilaturrahim merupakan salah satu karakteristik bagi orang-orang yang beriman. Shilaturrahim memiliki makna yang sangat universal yaitu segala perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain baik berbentuk material maupun moral, dan tidak mengenal batas waktu dan bentuk, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa yang dinamakan shilaturrahim adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya. Jadi shilaturrahim tidak sekedar datang berkunjung ke rumah tetangga atau saudara untuk meminta maaf. Namun shilaturrahim adalah sebuah komunkasi tinggi yang dilandasi iman kepada Allah. Dengan saling menyayangi, menghormati sesama umat manusia, karena ketika sudah tidak ada lagi kasih sayang, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan permusuhan. Dalam kehidupan yang singkat ini teruslah untuk selalu menaburkan kebaikan di muka bumi, merajut kasih sayang kepada sesama tanpa melihat tingkat posisi, kedudukan, dan status sosial. Kasih sayang itu tentunya harus diberikan untuk seluruh umat manusia yang di temui di muka bumi.

 

Kata Kunci: Shilaturrahim, menyambungkan tali yang terputus.


 

Pendahuluan

Manusia sebagai mahkuk sosial tidak bisa hidup sendirian, mereka saling membutuhkan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk sosial harus saling menyayangi dan menghormati. Dengan kasih sayang akan terjalin hubungan yang harmonis sesuai dengan yang tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah.

Prinsip kasih sayang dan saling menghormati kepada sesama bersifat mutlak. Islam adalah agama yang satu sisi menekankan hubungan manusia dengan Tuhan dan pada sisi yang lain juga menekankan hubungan antar umat manusia. Keduanya merupakan dua sisi mata rantai yang tidak dapat dipisahkan (Ghafur, 2005, p. 236).

Persaudaraan Islam adalah salah satu aspek yang sangat vital. Perintah shilaturrahim selain disebutkan di dalam al-Quran juga di dalam hadis Nabi. Rasulullah dalam salah satu sabdanya menyebutkan bahwa shilaturrahim itu tidak hanya saling berkunjung, membalas kunjungan saudaranya atau saling memberi hadiah. Namun yang dinamakan shilaturrahim adalah mampu menyambungkan yang terputus.

Hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah al-Quran syarat akan berbagai ajaran Islam yang berkelanjutan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat manusia. Oleh karena itu, umat Islam harus mampu memahami, merekam dan melaksanakan tuntunannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasul, di antaranya adalah tentang shilaturrahim.

Pengertian Shilaturrahim.

Shilatur rahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata bahasa Arab, shilah dan rahim. Kata shilah berakar dari kata washl yang berarti “menyambung” dan “menghimpun”. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh shilah. Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang”, kemudian berkembang yang berarti “tempat mengandung janin”(Shihab, 1999, p. 317).

Dalam perspektif bahasa Arab, Ahmad Warson mengungkapkan bahwa shilaturahmi itu sebagai terjemahan Indonesia dari bahasa Arab الرحم صلة . Dilihat dari aspek tarkib, lafadz الرحم صلة merupakan tarkib idhofi, yaitu tarkib (susunan) yang terdiri dari mudhof (صلة) dan mudhof ilaih (الرحم). Untuk memahami makna shilaturahmi, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang makna صلة dan الرحم , kemudian makna shilaturahmi.

Lafadz صلة merupakan mashdar dari وصل , Ahmad Warson mengartikan bahwa صلة adalah perhubungan, hubungan, pemberian dan karunia. Kata رحم adalah rahim, peranakan dan kerabat. Kata rahim dapat dihubungkan dengan rahim al-mar`ah (rahim seorang perempuan) yaitu tempat bayi yang ada di dalam kandungan. Dan kata rahim diartikan kerabat karena kerabat itu keluar dari satu rahim yang sama (Munawir, 1997, p. 483).

Sementara kata rahim berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut:

Artinya: Dari Abu Hurairah Radari Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya rahim itu diambil dari nama Allah “al-Rahman” kemudian Allah berfirman: “Barang siapa yang mengadakan shilah (hubungan baik) dengan engkau maka Allah shilah kepadanya dan barang siapa yang memutuskan hubungan dengan engkau maka Akupun memutus


 

hubungan dengannya”. (HR. Bukhari Muslim). (Maktabah Syamila).

Berdasarkan hadis tersebut di atas bahwa asal usul kata rahim itu diambil dari kata al-Rahman salah satu nama Allah yang ada dalam Asma al-Husna. Kata Rahim secara etimologi mempunyai dua makna.

Pertama, makna secara pisik yaitu “tempat mengadung janin” yang hanya dimiliki oleh seorang perempuan. Kemudian diartikan kerabat atau sanak famili. Makna secara pisik ini akan melahirkan keturunan yang harus dijaga keutuhan dan kejelasannya dengan pernikahan yang syah

Kedua, makna non pisik, kata rahim dari akar kata “al-Rahman” yang merupakan salah satu Asma Allah. Makna rahim secara non pisik akan melahirkan keramah tamahan dan sikap kasih sayang terhadap keluarga (Haris, n.d., p. 85).

Jika dilihat dari segi obyeknya, shilaturrahim dibagi menjadi dua macam, yaitu rahim secara khusus dan rahim secara umum.

Pertama, Shilaturrahim secara khusus, yaitu shilaturrahim yang dilakukan berdasarkan hubungan persaudaraan atau kerabat yang dihubungkan oleh nasab atau keturunan terdekat. Nilai shilaturrahim yang berdasarkan kerabat atau nasab mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena memiliki tanggung jawab baik secara moral atau material. Sesuai dengan sabda

Rasulullah saw:

Artinya: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “shadaqah terhadap orang miskin hanya mendapat pahala shadaqah, sedangkan terhadap kerabat (rahim) mempunyai dua pahala yaitu pahala shadaqah dan pahala shilah. (HR. Ibnu Huzaimah) (Maktabah Syamila).

Kedua, Shilaturrahim secara umum, yaitu shilaturrahim yang dilakukan berdasarkan hubungan sesama umat manusia (hubungan yang seagama) sebagaimana dalam (QS. Al- Hujurat [49]: 10).

Artinya: orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Dari ayat di atas bahwa setiap orang yang beriman adalah bersaudara. Agar persaudaraan itu bisa terjalin dengan kuat dan kokoh maka satu sama lain harus berbuat baik dengan saling menyayangi dan mengasihi.

Shilaturrahim harus dilakukan untuk seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun hubungan persaudaraan sesama umat muslim. Bahkan kepada kaum non muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik dengan saling menghormati dan menghargai, hanya saja bentuk dan etikanya yang berbeda.

Sifat kasih sayang dengan umat manusia ini sangat penting, karena ketika sudah tidak ada lagi kasih sayang, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan permusuhan bahkan juga bisa menimbulkan pertumpahan darah. Oleh karena itu, shilaturrahim baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum ini sangat diperlukan demi tercapainya kedamaian, kerukunan dan persatuan umat manusia di muka bumi.


 

Rasulullah saw sendiri telah mengajarkan agar senantiasa menjalin hubungan shilaturrahim. Dengan mempererat persaudaraan Islam merupakan salah satu bentuk penegakan kekuatan Islam. Karena umat Islam satu dengan yang lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling melengkapi dan menguatkan.

Shilaturrahin sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus.

Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia, di antaranya mengajarkan agar menjalin tali shilaturrahim sebagaimana dalam (QS. An-Nisa [4]: 1).

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Dari ayat di atas bahwa perintah shilaturrahim dirangkai dengan perintah untuk bertaqwa kepada Allah. Dalam menjalin tali persaudaraan sesama umat manusia hendaknya dibina berdasarkan ketaqwaan, bukan berdasarkan kekayaan, kecantikan, keturunan, pangkat maupun jabatan.

Persaudaraan yang dibina karena maksud-maksud tertentu, bukan berdasarkan ketaqwaan maka akan mudah sirna sehingga tidak bertahan lama. Berbeda dengan persaudaraan yang dibina berdasarkan ketaqwaan maka akan membuat ketentraman lahir dan batin serta membawa berkah.

Dalam al-Quran QS. Al-Nisa [4]: 1) dan (QS. Al-Hujurat [59]: 10) kata taqwa dan shilaturrahim selalu dirangkai/disandingkan, itu artinya ada dua hal pokok yang tidak dapat dipisahkan. Jadi orang yang bertaqwa kepada Allah, tentu akan menyambungkan tali shilaturrahim. Karena shilaturrahim merupakan salah satu karakteristik bagi orang-orang yang beriman (Rakhmat, 1999, p. 174).

Demikian pula di dalam hadis, Nabi juga mengajarkan untuk melakukan shilaturrahim. Bahkan menurut Nabi yang dikatakan shilaturrahim adalah menyambungkan tali yang terputus, sebagaiman hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.



Artinya: Dari Abdillah bin Amr bin al-Ash dari Nabi saw. bersabda: “Tidaklah orang

yang mengadakan shilaturrahim itu orang yang membalas akan tetapi ia adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya”. (HR. Bukhari).

 (Maktabah Syamila).

Dari hadis tersebut di atas dapat dilihat dari ragam tingkat masyarakat dalam mengaplikasikan shilaturrahim.

1.      Washil (penyambung/pelaku shilatur rahim), adalah orang yang aktif dalam


 

melakukan shilaturrahim dengan niat yang ikhlas, bukan karena maksud tertentu demi terciptanya persaudaraan dan persatuan umat. Shilaturrahim yang dilakukan bukan karena membalas kebaikan atau membalas budi orang lain, namun semata- mata karena Allah.

2.      Mukafi (pembalas shilaturrahim), adalah orang yang melakukan shilaturrahim karena membalas budi atau kebaikan orang lain. Kebaikan orang lain dibalas secara seimbang dengan cara menumbuhkan rasa saling menghormati dan saling mencintai.

3.      Qathi’ (pemutus shilaturrahim), yaitu orang yang bersikap pasif atau orang yang

memutus tali persaudaraan (Haris, n.d., p. 90).

Di antara ketiga tingkatan tersebut di atas, yang paling utama adalah golongan pertama (washil). Pada tingkat pertama inilah makna shilaturrahim yang sebenarnya, karena dalam melakukannya tentu tidak mudah, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai kesabaran dan ketulusan hati demi tegaknya persaudaraan. Shilaturrahim yang dilakukannya benar-benar ikhlas karena Allah bukan ada tendensi atau maksud-maksud tertentu.

Di antara indikasinya dalam bershilaturrahim pada tingkat pertama ini (washil) tidak pilih kasih, bukan pada kelompok tertentu, dan tidak untuk mencari popularitas, tetapi shilaturrrahim yang dilakukannya benar-benar manifestasi iman kepada Allah sebagaimana sabda Nabi:


Artinya: Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda: Barang siapa yang beriman

kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunnya, barang siapa yyang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah bershillatur rahim kepadanya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau hendaklah diam. (HR. Bukhari)

(Maktabah Syamila)

Kedua, mayoritas masyarakat dalam melakukan shilaturrahim adalah pada tingkat kedua yakni Mukafi, yaitu shilaturrahim yang berimbang atau sepadan sesuai dengan (QS. Al-Nisa [4]: 86).

Artinya: apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.

Tingkat yang kedua ini akan membuat interaksi dan feed back secara seimbang sehingga akan menumbuhkan saling menghormati dan saling mencintai di antara keduanya, itupun harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Ketiga, adalah qathi yaitu pemutus shilaturrahim. Kelompok ketiga ini sangat berbahaya bagi kelangsungan dan keharmonisan keluarga dan ukhuwah Islamiyah. Karena akan


 

menyulut permusuhan dan pertikaian. Jika terjadi saling memutuskan tali shilaturrahim, maka akan menimbulkan permusuhan, pertikaian dan bahkan bisa juga menimbulkan pertumpahan darah. Dan bagi pihak yang memulai shilaturrahim terlebih dahulu atau memulai berdialog dan bernegosiasi inilah yang disebut washil.

Jika dilihat dari ragam implikasi shilaturrahim, maka para ulama memberikan pendapat yang beragam.

a.      Abu Jamrah menjelaskan bahwa shilaturrahim dapat dilaksanakan dengan bantuan harta benda untuk memenuhi kebutuhan, menolak bencana (madharat), memberikan senyum dan mendoakan.

b.      Al-Qadhi Iyadl bahwa shilaturrahim mempunyai beberapa tingkatan yang berbeda. Shilaturrahim tingkat minimal adalah tinggal diam dengan sesamanya (tarku al- muhajaroh). Shilaturrahim juga dapat dilaksanakan dengan menyampaikan salam. Dengan demikian shilaturrahim dapat dilakukan secara bervariasi sesuai dengan kemampuan dan perkembangan serta situasi dan kondisi yang ada (Haris, n.d., p. 92).

Sebetulnya shilaturrahim tidak sekedar datang berkunjung ke rumah tetangga atau

saudara untuk meminta maaf. Namun shilaturrahim adalah sebuah komunkasi tinggi yang dilandasi iman kepada Allah, dan tidak ada motif-motif tertentu. Shilaturrahim yang dilakukannya benar-benar ikhlas karena Allah.

Sebagaimana sabda Nabi bahwa yang dikatakan dengan shilaturrahim adalah sebuah komunikasi yang bertujuan untuk menyambungkan yang terputus. Dengan shilaturrahim akan tersambung atau terhubung kembali jalinan tali yang terputus sehingga bisa mengetahui kondisi atau keadaan saudaranya, baik dari sisi kesehatan atau keadaan ekonominya. Apabila mereka perlu bantuan, makapelaku shilaturrahim denganikhlas akanmengulurkantangannya untuk memberikan bantuan kepada keluarga yang membutuhkannya (Zuhri, 2005, p. 106).

Shilaturrahim merupakan intisari dari budaya Islam; buah dari semua ibadah yang ada di dalam Islam. Shalat, puasa dan haji akan membuahkan shilaturrahim. Tentu saja apabila dalam shalatnya telah menyadarkan dirinya sebagai hamba Allah, puasa yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan ridha Allah, dan haji yang ditunaikannya berorientasi hanya kepada Allah.

Namun faktanya dalam melakukan shilaturrahim masih banyak terjadi ketimpangan, masih ada dinding yang membatasi, seperti ada orang kaya tetapi kehadirannya tidak membuat saudara atau tetangga kiri kananya yang lapar menjadi kenyang. Orang pintar tetapi kehadirannya tidak membuat orang-orang di sekitarnya bertambah ilmunya. Dengan demikian keberadaannya sama dengan tidak ada, karena kehadirannya (keberadaannya) tidak bermakna bagi masyarakat di sekitarnya.

Agar kehadiran atau keberadaannya bermakna di tengah-tengah masyarakat, maka bagi yang kaya dengan rela berderma kepada yang miskin, orang yang berilmu dengan tulus mengajarkan ilmunya kepada yang bodoh. Seberapa besar makna kehadirannya seseorang harus dibuktikan dengan berbuat baik kepada makhluk yang ada di bumi.


 

Oleh karena itu, teruslah menabur kebaikan di mana pun kita berada. Kalaupun suatu hari kita lupa di mana benih itu ditanam, maka hujan akan memberitahu di mana engkau menanamnya. Oleh karena itu, lakukanlah kebaikan di mana saja berada, kapan saja untuk bisa melakukannya. Dan tentunya dilakukannya untuk makhluk yang ada di bumi ini. Meskipun kita tidak tahu, kapan dan di mana bisa memetik buahnya. Kalaupun buah itu tidak sempat dipetik di dunia, maka kita pasti akan memetiknya di akhirat. Tetaplah menjadi baik, jika engkau beruntung akan menemukan orang yang baik pula. Namun jika engkau belum beruntung Insya Allah akan ditemukan oleh orang baik.

Dalam menabur kebaikan supaya bermakna bagi orang lain dan bermakna pula bagi Allah, maka syaratnya harus ikhlas. Amal yang dilakukan dengan ikhlas akan memiliki kekuatan untuk terbang ke langit ke Hadraturrabbani untuk dinilai Allah. Sebaliknya, bila amal dilandasi karena pamprih, maka amal itu akan tetap tinggal di bumi (hanya dinilai dan dihargai manusia) maka akan sis-sia (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Shilaturrahim yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman setelah mereka sukses menjalankan puasa, maka akan diberikan jaza yaitu berupa ampunan. Diampuni dosa- dosanya, bertambah sehat dan bertambah rizkinya. Di samping itu, shilaturrahim di Hari Raya Idul Fitri berdampak positif di bidang bisnis transportasi, industri pakaian, industri makanan dan lain sebagainya. Mereka yang bergerak di bidang tersebut tidak semuanya muslim. Inilah jaza yang diturunkan oleh Allah terhadap ibadah yang dilakukan oleh umat Islam. Balasan tersebut tidak hanya diturunkan untuk umat Islam saja, melainkan berimbas kepada seluruh makhluk-Nya.

Dari beberapa hadis tentang perintah shilaturrahim selalu disandingkan dengan beriman kepada Allah. Allah Maha Pengasih dan penyayang tidak hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada semua makhluk ciptaan-Nya yang ada di muka bumi. Kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu (QS al-Araf [7]: 156).

Artinya: dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.

Manusia tidak dapat hidup tanpa rahmat dan kasih sayangnya Allah. Sifat-sifat Allah inilah sebagai Pengasih dan penyayang yang harus diteladani dan diikuti oleh umat manusia tanpa adanya perbedaan. Oleh karena manusia harus mampu bercermin dengan sifat Rahman dan Rahimnya Allah.

Keluasan dan kasih sayang Allah sangat luar biasa. Allah memanggil orang-orang yang berbuaat dosa dengan panggilan yang sangat mesra: Ya Ibadi (QS. [39]: 53).


 

Artinya: Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Hidup ini adalah cerita pendek yaitu berasal dari tanah, berdiri di atas tanah dan akan kembali menjadi tanah. Dalam kehidupan yang singkat ini teruslah untuk selalu menaburkan kebaikan di muka bumi, merajut kasih sayang kepada sesama tanpa melihat tingkat posisi, kedudukan, status sosial, dan lain-lain. Sehingga tidak lagi dibatasi oleh dinding yang tinggi, tetapi semata-mata ikhlas karena Allah. Kasih sayang itu tentunya harus diberikan untuk seluruh umat manusia yang di temui di muka bumi.

Kehidupan yang dilandasi dengan saling menyayangi dan mengasihi itu sangat indah. Karena akan menjuhkan diri dari sifat-sifat iri hati, dengki, berburuk sangka, berpikir negatif, sikap permusuhan dan sifat-sifat buruk yang lainnya. Dengan demikian akan tercipta hubungan yang harmonis di antara sesama. Dan shilaturrahim termasuk amalan yang bisa memasukkan ke dalam surga sesuai dengan sabda Nabi:


Artinya: Dari Abu Ayyub Al-Anshari r.a bahwa ada seorang berkata kepada Nabi

saw., ”Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, ”Ada apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah saw. Berkata, ”Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan bersilaturahimlah.” (H.R. Bukhari). (Maktabah Syamila).

Makna shilaturrahim sangat universal akan tetapi intinya satu yaitu berbuat baik. Sedangkan teknik, metode, sarana dan prasarana shilaturrahim dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Karena implikasi dari shilaturrahim yang terpenting adalah tumbuhnya kesadaran untuk saling mencintai dan menyayangi sesama kerabat dan sesama muslim, tanpa membedakan keturunan, ras, agama, dan bangsa.

Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa shilaturrahim merupakan salah satu cara untuk mendekati surga dan menjauhi api neraka. Tidak ada kebaikan yang lebih cepat mendapat pahala selain shilaturrahim dan tidak ada kejahatan yang lebih cepat mendatangkan azab Allah, selain memutuskan tali shilaturrahim.

Dengan shilaturrahim akan mampu mencairkan hubungan yang beku, sehingga akan terwujud hubungan yang harmonis. Dan untuk itulah shilaturrahim perlu dilakukan karena shilaturrahim merupakan bagian dari karakteristik orang yang beriman.

Dan salah satu tanda orang yang beruntung nanti di hari kiamat adalah orang-orang yang selama di dunia senang menyambungkan tali shilaturrahim (QS. Ar-Radu [13]: (21).

Artinya:dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.


 

.Selama di dunia mereka senang menyambungkan tali kekeluargaan, maka Allah akan menyambungkan tali kekeluargaan nanti pada hari kiamat (Rakhmat, 1999, p. 173). Sebagaimana sabda Nabi:



Artinya: Dari Abu Hurairah Radari Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya rahim itu

diambil dari nama Allah “al-Rahman” kemudian Allah berfirman: “Barang siapa yang mengadakan shilah (hubungan baik) dengan engkau maka Allah shilah kepadanya dan barang siapa yang memutuskan hubungan dengan engkau maka Akupun memutus hubungan dengannya”. (HR. Bukhari Muslim). (Maktabah Syamila).

Menyambungkan tali shilaturrahim merupakan akhlak yang baik dan nantinya akan beruntung karena dapat dipertemukan kembali dengan keluarganya pada hari kiamat. Mereka pun melakukan shilaturrahim bukan di sembarang tempat, melainkan di tempat yang lebih baik, fani’ma ‘uqbad dar . Tempat yang paling baik adalah surga Adn, sehingga mereka dapat berkumpul kembali bersama (QS. Ar-Rad [13]: 21- 24)

Artinya: dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.

dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),

(yaitu) syurga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang- orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

(sambil mengucapkan): Salamun alaikum bima shabartum. Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Di dalam menyambung tali shilaturrahim diprioritaskan dengan keluarga terdekat (al- Qurba) keluarga yang dihubungkan dengan nasab. Islam mengajarkan agar berbuat baik pada saudara dan kerabat. Dan jangan sampai di antara keluarga menyakiti perasaannya. Perasaan sakit hati yang ditimbulkan bisa jadi tanpa disadari atau disengaja namun bisa menimbulkan putusnya tali shilaturrahim.

Silaturahmi merupakan aktivitas ibadah yang memiliki keutamaan yang besar, baik berupa karunia dunia maupun pahala di akhirat. Shilaturrahim memiliki arti yang sangat penting, khususnya dalam kehidupan seseorang dan umumnya bagi umat Islam secara keseluruhan.

Shilaturrahim menjadi tonggak yang mengokohkan banyak hal, mulai dari persatuan, perhatian, kasih sayang, mata pencaharian, sehingga memudahkan seseorang untuk masuk ke dalam surga. Jika setiap individu mampu membangun shilaturahim dengan baik, maka


 

akan banyak kemudahan. Oleh karena itu, wahana shilaturrahim harus terus selalu dibangun dan dilestarikan.

Manfaat Shilaturrahim.

Shilaturrahim mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kehidupan umat manuisa, di antaranya adalah (Haris, n.d., p. 94):

Dimudahkan rizki serta dipanjangkan umurnya, sebagaimana sabda Rasulullah


Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang

siapa yang senang diperluas rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah bershilah al-rahim. HR. Bukhari. (Maktabah Syamila).

Sebagian ulama mengartikan banyak rizki dan banyak harta dan sebagian lain memberikan arti diberkahi rizkinya. Seseorang yang banyak bershilaturrahim tentu banyak kenalan, banyak teman, dan banyak yang simpatik. Perangai yang baik akan menumbuhkan kecintaan dan kasih sayang dari sesamanya serta mampu membangun relasi yang harmonis dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain.

Diampuni segala dosanya. Shilaturrahim termasuk amal perbuatan baik sedang perbuatan baik itu dapat menghapus perbuatan buruk (QS. Hud [11]: 114)

Artinya: dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

 

Sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dengan bershilaturrahim dibalas den- gan balasan yang sejenis yakni disambut dengan shilah pula, yakni dengan rahmat-Nya


Artinya: Dari Abdullah bin Umar ra. Rasulullah saw. bersabda: Rahim itu bergantung

pada Arasy dan barang siapa yang bershilaturrahim kepadaku, maka Allah shilah kepadanya dan barang siapa yang memutus shilatur rahim kepadaku, maka Allah memutus shilah kepadanya. (HR. Ahmad). (Maktabah Syamila).

 

Memutuskan tali shilaturrahim akan dilaknat oleh Allah sebagaimana firman Allah dalam (QS. Muhammad [47]: 22-23).


Artinya: Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? mereka Itulah orang- orang yang dilanati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka

 

Simpulan

Berdasarkan hadis Nabi saw yangdiriwayatkanolehImamBukharibahwayangdinamakan shilaturahim adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya.

Silaturahmi merupakan aktivitas ibadah yang memiliki keutamaan yang sangat besar, baik berupa karunia dunia maupun pahala di akhirat. Shilaturrahim memiliki arti yang sangat penting, khususnya dalam kehidupan seseorang dan umumnya bagi umat Islam secara keseluruhan. Shilaturrahim menjadi tonggak yang mengokohkan banyak hal, mulai dari persatuan, perhatian, kasih sayang, mata pencaharian, sehingga memudahkan seseorang untuk masuk ke dalam surga. Jika setiap individu mampu membangun shilaturahim dengan baik, maka akan banyak kemudahan. Oleh karena itu, wahana shilaturrahim harus terus selalu dibangun dan dilestarikan.

Makna Shilaturrahim sangat universal yaitu segala perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain baik berbentuk material maupun moral, dan tidak mengenal batas waktu dan bentuk, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada. Shilaturrahim adalah sebuah komunkasi tinggi yang dilandasi iman. Oleh karena itu, menyambung kekerabatan (bershilaturrahim) merupakan kebutuhan mutlak yang harus dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Dengan shilaturrahim akan mampu mencairkan hubungan yang beku, sehingga akan terwujud hubungan yang harmonis.


 

Daftar Pustaka

 

Ghafur, W. A. (2005). Tafsir Sosial. Yogyakarta: eLSAQ Press.

Haris, A. (n.d.). al-Hadis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Munawir, A. W. (1997). Kamus al-Munawwir (14th ed.). Surabaya: Pustaka Progresif. Rakhmat, J. (1999). Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Shihab, M. Q. (1999). Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Zuhri, M. (2005). Tasawuf Transformatif. Sekarjalak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Welcome To Campus Merdeka

Nama                  : Muhammad Faiz Amali NIM                    : 21086030046 Mata Kuliah    : Tafsir dan Hadis Tarbawi Pengampu           : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.A   Welcome To Campus Merdeka             Selama ini pada dasarnya sebuah kampus sendiri menerapkan sistem pembelajaran dengan SKS yang hampir keseluruhan mengharuskan adanya kegiatan belajar didalam kelas. Ini menunjukkan kurangnya kemerdekaan belajar yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa dalam melakukan pembelajarannya.   Apa itu Merdeka belajar?                       Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada  lembaga pendiikan, dan merdeka  dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit sert...

HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS

  Nama                           : Mohammad Syahru Assabana Prodi                            : PAI-C NIM                             : 210860300 44 Mata Kuliah               : Tafsir dan Hadits Tarbawi   HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS   Haid adalah darah yang dikeluarkan dari rahim apabila perempuan telah mencapai usia balig. Setiap bulan perempuan mengalami masa-masa haid dalam waktu tertentu. Jangka waktu haid minimal sehari semalam dan maksimal selama lima belas hari, namun umumnya adalah enam atau tu...

Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis

  Nama                    : Umi Azizaturrosyidah Prodi                     : PAI-C NIM                       : 21086030051 Mata Kuiah           : Tafsir dan Hadits Tarbawi      Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis Kewenangan dan hak pada perempuan dalam menentukan pilihan dan mengontrol tubuh, seksualitas, dan alat serta fungsi reproduksinya dapat dimulai dari adanya penelitian tentang hak reproduksi. Salah satu permasalahan yang dilekatkan pada perempuan adalah haid (menstruasi). Haid (menstruasi) merupakan siklus biologis-kodrati yang dialami perempuan dalam kelangsungan kesehatan reproduksi perempuan. Menstruasi sesungguhnya merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian pematangan seks, kesuburan, kesehatan tubuh, dan perubahan (p...