Langsung ke konten utama

PERSPEKTIF PENDIDIKAN KRITIS DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -13

Nama               : FADLULLAH

Alamat              : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak  CIREBON

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

PERSPEKTIF PENDIDIKAN KRITIS DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS

a.Pengertian Kritisisme dalam Islam Berpikir kritis

 merupakan salah satu ajaran yang mendasar dalam Islam. Akar kritisisme dalam Islam berawal dari sejarah Islam itu sendiri yang ditampakkan oleh Nabi Muhammad saw. saat awal mula melakukan dakwah Islam di Makkah. Ditilik dari pespektif historis, masyarakat Jahiliyah dengan sekelumit kehidupannya adalah tantangan utama Nabi saw. dalam menyebarkan akidah islamiyah.

Jika Nabi melawan hegemoni kesesatan dan kemaksiatan pada awal menyebarkan Islam, maka Paulo Freire (salah satu tokoh yang menggagas pendidikan kritis) menghadapi hegemoni kapatalisme yang menyeruak dunia pendidikan yang dalam pandangannya sangat memprihatinkan. Peserta didik digembleng sesuai dengan tuntutan pasar serta aktivitas pendidikannya terbentang jarak dengan realitas sosial. Maka dari itu, Freire menawarkan suatu konsep pendidikan yang dalam prosesnya membangun keakraban peserta didik dengan lingkungan sosialnya. Kemampuan untuk berpikir kritis merupakan produk dari proses pendidikan sebagaimana yang diusung oleh Freire, yang penekanannya pada upaya untuk memanusiakan manusia.

b. Perspektif Pendidikan Kritis dalam Al-Qur’an dan Hadits Kritisisme

memiliki perhatian yang cukup serius terhadap humanisme. Dalam Islam, pandangan tentang humanisme dapat dieksplorasi dengan mengembalikan pemaknaan agama pada nilai-nilai kemanusiaan. Manusia perlu ditempatkan sebagai subjek dan objek dalam proses humanisasi agama. Apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat adalah tujuan dari pembelaan agama. Secara vertikal dan transendental, bisa saja pengamalan agama untuk orientasi kepada Tuhan, tetapi dalam agama juga terkandung dimensi horizontal, imanental dan humanistik, yaitu beragama manusia dan demi memenuhi harapan kemanusiaan.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” 9 (QS. al-Hujurāt: 6)

Urgensi Pendidikan Kritis dan Logika Keislaman Ketika dunia didera gelombang globalisasi, pendidikan kian bergeser dari status dan fungsi awalnya. Pendidikan mau tidak mau dipaksa tereduksi hanya sebagai komoditas dan harus terbingkai dalam logika pasar. Peserta didik disibukkan oleh rutinitas studi-studi berdasarkan kurikulum yang terasing dari kehidupan sosial. Peserta didik digiring untuk mesin-mesin industri berat, bukan teknologi tepat guna yang murah, mudah dijalankan dan langsung memberi manfaat pada masyarakat kecil.

Pendidikan kritis merupakan suatu proses penyadaran peserta didik dalam memahami realitas kehidupannya, sehingga pada proses selanjutnya peserta didik menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk religius serta makhluk sosial. Dalam Islam, kemampuan untuk berpikir kritis sangat dianjurkan agar umat Islam lebih teliti atau jeli dalam menerima suatu kabar/berita. Akar kritisisme dalam Islam dapat dipahami dari firman Allah dalam QS. al-Hujurāt: 6 serta diperkuat denga hadis Nabi tentang larangan bersikap imma’ah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Karena pentingnya daya nalar kritis dalam menyikapi realita, maka Paulo Freire, salah satu tokoh pendidikan kritis, mengusung suatu konsep pendidikan yang memberikan kebebasan serta perhatian yang lebih pada sisi kemanusiaan. Islam adalah solusi dari setiap keadaan yang terjadi. Melihat realita yang terus mengalami degradasi dari hari ke hari, maka perlu adanya rekonstruksi pendidikan dengan wajah baru yang lebih peka serta produknya tidak hanya disiapkan untuk kebutuhan pasar, tetapi lebih dari itu proses pendidikan yang dilakukan untuk menjadikan mereka (peserta didik) sebagai manusia seutuhnya. Dalam praktik pendidikan kritis, peserta didik dipersiapkan menjadi generasi yang cerdas dalam melihat realitas sosial serta memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ‘abdun dan khalīfah Allah fī al-ardh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -2

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            : fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

Paradigma Berpikir Tafsir Hadis

  Paradigmaataukerangkaberpikir, disebut juga mainstream, adalahbagiandarisistemberpikir yang sangatpentingdalam dunia pendidikan. Denganparadigmadiharapkandapatterciptasistem dan polapikir yang lebihmendekatikepola yang diharapkanataudiidealkan. selainituparadigma juga dapatdiartikansebagaimetodologi, pendekatan, ataubahkansecaraspesifikdapatdiartikansebagai media dalam tafsir tarbawi.

Tafsir tarbawiberasaldaridua kata, yang pertamayaitu tafsir, Tafsir menurutbahasamengikutiwazan “taf’il” yang artinyamenjelaskan, menyingkap dan menerangkanmakna-maknarasional. Kata kerjanyamengikutiwazan  “dharaba – yadhribu” dan Nashara – Yanshuru”. Kata At-Tafsir mempunyai  artimenjelaskan dan menyingkap yang tertutupataumenyingkapkanmaksud  suatulafadz yang  musykil. sedangkan kata Tarbiyahberasaldaribahasaarabyaitu: rabba-yurabbi-tarbiyah, yang berarti raja/penguasa, tuan, pengatur, penanggungjawab, pemberinikmat. Istilahtarbiyahdapatdiartikansebagaiproses  penyampaianataupendampinganterhadapanak yang di empusehinggadapatmengantarkan  masa kanak-kanaktersebutkearah yang lebihbaik. Jadidefinisi tafsir tarbawiadalahpengungkapanataupenjelasanayat-ayat al-Qur’an yang berkaitandengan proses ataucara yang dilakukan oleh pendidikuntukmengambangkanpengetahuan, ataupotensipesertadidikmelaluiberbagaimetode, sehinggamenyebabkanpotensi yang dimilikipesertadidiktersebutdapattumbuhdenganproduktif dan kreatif.

Dalammatakuliah pada program pascasarjana tafsir alquran juga disandingkandenganhadis, hadis juga dalampandangan imam syafiiberfungsisebagai bayan al-quran. oleh karenaituhadisadalahadalahbayanulquran, bayan artinyapenjelasanquran, tafsir hadisadalahtentangbagaimanakajianterhadapquranbaikberupahadismaupunberupahadistentangtarbawi.

Tafsir HaditsTarbawiadalahbagaimanakitamengkajisemuaupaya ulama terkaitdenganisu-isutarbawidengansumber al quran dan hadis, yang perlu di cermati tafsir tentangisutarbawiadalahisupendekatanbaru yang muncul pada abadke 20, berdasarkandarikesadarantarbawisebagaidisiplinilmu, tentuyadidahului oleh fiqih, kalam, tasawufmaupunfilsafat, dan tarbawimasihmelebur pada disiplin-disiplinilmutersebut,  ketikakitakembali pada kajianawal tafsir merupakankajianbaru, ta’wilbahkanlebihdulukarenadalamalquranmenggunakanta’wil, oleh karenaitukajian tafsir adalahkajian yang bersifatgenuin.

Pada Abad I, II, III esensi tafsir masihmenggunakanistilahta’wil,karenamemangdisebutsepuluh kali di dalamquran, jadikalaukitakembali pada tafsir at-thabarimajma'ul bayan, makadalam kitab inijelas-jelasmenggunakanistilahta’wilbukanmenggunakan tafsir, pada perkembangannya  ta’wildigunakan dan dianggapsebagaitrademarknyamu’tazilah, tafsir dominandigunakanselain oleh mu'tazilah, termasukahlussunnahwaljamaahmenggunakanistilah tafsir untukmenyebutkanpendekatanterhadapmetodepenjelasanquran,  tafsir seringdidefinisikansebagaisemuailmuatauupayaintelektualuntukmemahami al quran, semuailmu-ilmuketikadigunakanmemahamiquranmakadikatakansebagaiilmu tafsir, kemudian tafsir menjadidisiplinilmu, yaituilmutentangupaya ulama untukmenjelaskanalquran, tafsir kemudianmeluas yang mengandungbeberapapendekatantermasukpendekatantarbawi.

Tafsir terbagimenjadidua, yaitucaramemahami dan juga perspektifatauideologi,kemudianjikamentafsirmelihatdarisumbernyamakadapatdibagimenjadiduayaitusumberbilma'tsur ( teks yang otoritatif) , ataubilma'qul (selainteksotoritatif, atausumberakal), tapi juga melihatkeluasan dan kependekanmembahasnyamentafsirdapatdibagilagimenjadiduayaituIjmali (enggadalam, contohnya tafsir jalalain) dan ithnabi ( dalamatau detail), ithnabidibagimenjadiduayaitubayani (tekstualdikupashabistanpaadapembanding) dan muqarin ( membandingkan), kemudianithnabikembalidibagimenjadiduayaitudengancaramaudhu'i ( tematik, ketikasusunannyadikumpulkanmenjadisatutema dan bukanmelihatdarisusunansurat) dan tahlili ( ketikapenjelasanayat dan hadistidakdikelompokanmenjadiduatema). berikutnyamentafsir juga memilikilatarbelakangataubeberapapendekatansepertipendekatanfiqih, kalam, tasawuf, filsafat, maupundisiplinilmulainnya. Menafsirkantentunyamemilikilatarbelakang, seperti tafsir denganpendekatanasyaari, mu’tazili,qodari, jabari, maupun yang lainnya. 

Selain tafsir denganpendekatanklasik, dalamperkembangankontemporeradabeberapametodekajiankontemporer, sepertikajianmaqasidhi dan juga mubadalah yang dikarang oleh Dr. K. H. Faqiuddin, M.Ag. dariapa yang telahdisarankan oleh beberapa ulama kontemporer yang menjadiparadigmakajianbarudalam tafsir tarbawi yang memilikiperspektifsendiri, bisamengandungdisiplin-disiplinilmudalammenjelaskanparadigma tafsir tarbawi

Paradigma tafsir alquranmaupunhadiskontemporersepertimaqashidimaupunmubadalahsecaragarisbesardibagimenjadiduaparadigma, yaitu : 

1.      Sejauh mana quran dan hadissebagaisumbernilaipendidikannilai yang dimaksudadalah-nilai-nilaidalampendidikan, contohnyatentangkarakteristikpendidik dan pesertadidik,kemudianrelasiantara orang tua dan anak, tentangrelasi guru dan murid.

2.      Sejauh mana quran dan hadissumberkonsep, konseptentanggradualitas, dimanakonseppendidikanharuslahberjenjang, ataukonseptentang dialog dalampendidikan, apakahmetode dialog ituefektifatautidak, dan bagaimanaquranmaupunhadismembahastentangkonseptersebut.

        Kemudiansecaraspesifik dan praktisdibagimenjaditiga, yaitu :

1.      Isu, artinyaadalahsejauh mana quran dan hadismembicarakanisupendidikan, contohnyapendidikan moral, siapa yang bertanggungjawabdalampendidikan, siapa yang berhakmemanusiakanmanusia, apa yang dimaksuddenganmanusiadalampendidikan, bagaimanamenjadikanseoranganakmenjadilebihdewasa, kekerasandalampendidikanataubahkanisu-isupendidikanlainnya

2.      Metode, artinya dialog andragogi, metode dialog dalampendidikan, metodebagaimanapengelolaanpendidikandalamquran, maupunmetodepsikologidalampendidikan pada quran.

3.      Perspektif, Perspektif yang dimaksudadalahperspektiftarbiyah, otomatissemuaayatdalamalquranmaupunhadisharusdilihat dan dimunculkansisitarbiyahnya, contohnyapembahasanaliflaammiimdalamperspektif tajwid yaitutentangbagaimanahukumbacaannya, kemudianaliflaammiimdalamperspektiffiqihkhususnyadalampembahasanshalat, apakahaliflaammiim, termasukdalamsatuayat yang bisadibacadalamsholat, ataubahkanaliflaammiimdalamperspektiftarbiyah, apakahaliflaammiim, adatujuanpendidikannya, kalaukitabilangtidakada, makakitamenggunkanmetode dan isutanpamenggunakanperspektif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -3

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN PERSPEKTIF TAFSIR HADIST

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga merupakan buaian tempat anak melihat cahaya kehidupan pertama, sehingga apapun yang dicurahkan dalam sebuah keluarga akan meninggalkan kesan yang mendalam terhadap watak, pikiran serta sikap dan perilaku anak. Ini menunjukkan bahwa setiap orang tua pasti menginginkan keberhasilan dalam pendidikan anak-anaknya. Keberhasilan tersebut tentunya tidak akan dapat terwujud tanpa adanya usaha dan peran dari orang tua itu sendiri. Mendidik anak termasuk kewajiban terbesar bagi para orang tua. Sebagaimana seorang ayah bertanggung jawab dalam membina fisik dan tubuh anak-anaknya dan juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam mendidik dan membina akhlak dan spiritual mereka. Yaitu dengan jalan berupaya membersihkan jiwa-jiwa mereka dalam meluruskan akhlaknya. Pentingnya mendidik anak itu dimulai sejak dini karena perkembangan jiwa anak telah mulai tumbuh sejak kecil sesuai fitrahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian Agama yang sesuai dengan naluri), sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi.” ( H.R. Abu ya‟la, Thabrani dan Baihaqi

Melalui pendidikan terhadap anak khususnya, orang tua akan terhindar dari bahaya fitnah dan terhindar pula dari bahaya siksa api neraka, sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam surah At-Tahrim ayat 6.

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim ayat 6)

Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Mendidik Anak Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Salah satu bentuk tanggung jawab orang tua terhadap anak di dalam keluarga adalah dengan mendidik anak-anaknya. Bentuk tanggung jawab tersebut menjadi kewajiban dan kewajiban tersebut dipertegas dalam firman Allah berikut: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim:6)

PORTOFOLIO MINGGU KE -4

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

REWARD DAN HUKUMAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR HADIS

A.      MaknaPenghargaandanHukumandalamPendidikan

1.          Reward/Penghargaan

Penghargaan dalam proses pelaksanaan pendidikan sebagai bentuk bagian darimetode pembelajaran merupakan bagian terpenting untuk motivasi bagi pesertadidik.3 Melihat hal ini maka beberapa ahli memaknai “penghargaan” ini bervariatifsesuaidenganpengalamandanbidangmasing-masingparaahli.

Purwanto (2006) arti penghargaan adalah untuk setiap anak yang berhasilmelakukankebaikan/prestasi/keberhasilandisetiapaktifitasnyasehari-hari,baikdalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Setiap penghargaan yangdiberikan oleh anak tidak harus berwujud materi, namun nilai-nilai moral yangbersifat positif seperti pujian dan apresiasi juga merupakan penghargaan untuk anaksehingga anak mengetahui hakikat kebaikan. Pendidikan yang dilakukan terhadapanak mencakup wilayah yang komprehensif sehingga anak merasakan kenyamanandalambelajar secaraakademikmaupunmemahamiartikehidupan.4

Maslow sepertiyangdikutipolehMariaJ.Wantahmenjelaskanbahwapenghargaan menjadi motorpenggerakutama manusia untuk mampu melakukansesuatu dalam rangka mengaktualisasikan diri sebagai makhluk yang sempurna.Melalui berbagai media dan proses yang ada manusia terus berusaha mencapaikesempurnaan hidup sebagai bagian dari naluri manusia. Melalui penghargaan yangpositif, baik berupa materi maupun non materi, jika hal ini dilakukansecarakonsisten, maka akan mamberikan kontribusi positif terhadap manusia untukmelakukantindakanyanglebihbaikdalamdirinya.Bisadipastikanbahwapenghargaanyangpositifakanmampumeningkatkanproduktivitasmanusiadalam.

Penghargaan merupakan bentuk apresiasi terhadap pelaku kebaikan, siapapunitu. Bentuk penghargaan sendiri sangat variatif, bisa dalam bentuk materi atau nonmateri, prinsipnya adalah untuk membangkitkan semangat anak yang telah berhasilmelakukan kebaikan. Karena secara naluri siapapun yang telah melakukan kebaikanselalu ingin diberikan penghargaan, dan ini adalah bagian dari psikologi manusiasebagai makhluk. Maka dari itu Allah melalui Al-Qur’an juga memberikan apresiasikepadamanusiaataskebaikan yangtelahmerekalakukan.

Dalambeberapakajianyangtelahdilakukandalamlingkuppendidikanmenunjukkan hasil bahwa melalui pemberian penghargaan kepada siswa dalambentukhadiahternyatasangatefektifdalammeningkatkanmotivasibelajar.Pemberianhadiahlebihefektifdaripadamarahkepadasiswa,memberikanhukuman,ataubahkanhanyamembiarkansiswadisaatsiswamendapatkanprestasi. Disisi lain banyak juga yang tidak setuju dengan metode pemberian hadiahatau penghargaan yang terlalu sering. Hal ini dikarenakan mereka khawatir jikapemberian hadiah ini akan memunculkan persepsi dalam diri siswa bahwa tidakakanmelakukan sesuatujikatidakmendapatkan hadiah. Melihatduahalberbedaini maka hal yang tepat adalah dengan memberikan hadiah secara proporsionalitassecarawajar.Perkarayang berlebihandalamhalapapuntentunyaakanmengakibatkanhalnegatifdalamdirisiswa.

1.    Punishment/Hukuman

SepertiyangdijelaskanolehAmirDaienIndrakusumabahwahukumandiberikan kepadaanak sebagai bentuktindakan terakhiratas kesalahan yangdilakukan. Disaat anak telah diberikan peringatan sekaligus teguran yang positif,namunbelumadaperubahandalamdirianakdengankesalahannya,makadijatuhkanlahhukuman.

Hukuman diberikan kepada anak supaya anak mengetahui dan sadar diri ataskesalahanyangdilakukan.Bahwasetiapkesalahanatastindakansemuanyamemilikiresikodalammempertanggungjawabkannya.Anakharusbelajartanggungjawab atas kesalahan yang berulang dilakukan. Melalui hukuman inibanyak nilai yang akan tertanam dalam diri anak, mulai tanggungjawab, disiplin diri,dan sikap berhati-hati. Diharapkan dengan hukuman ini anak tidak akan melakukanpelanggaran terhadapaturan yangtelahdisepakati dengan penuhkesadaran.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akanKami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus,Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakanazab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. An-Nisa’,4:56).

 

 

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -5

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

METODOLOGI  PEMBELAJARAN TAFSIR DAN HADIST

 

  1. Latar Belakang Masalah

Al-qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS diturunkan secara mutawatir dan menjadi ibadah bila membacanya. Al-qur’an merupakan mukjizat terbesar nabi Muhammad Saw yang terjaga keasliannya sampai akhir kiamat kelak.

MenurutMuḥammadGhazalī, al-Qur’an adalah kitab luarbiasa yang berisikonsep dan tema-tema yang terbaikdalammendidikmanusia, membangunperadaban dan moralitas. MenurutFaḍil al-Jamalī, al-Qur’an adalah kitab pertama yang berbicaratentangpendidikansecaraumum; termasukpendidikansosial, pendidikan moral, dan khususnyapendidikan spiritual.

a.       PengertianIlmu Tafsir dan Tafsir Tarbawi

 

Sebelumdijelaskanterkaitmetode-metodedalammenafsirkan al-qur’an, alangkahbaiknyakitafahamiduluterkaitpengrtianilmu tafsir daribeberapaahli yang memlikikeilmuandidalamnya, yaitu :

1.      Hasby Ash-Ahiddieqymendefinisikanilmu tafsir sebagaiIlmu yang menerangkantentangsesuatu yang berhubungandengannuzululayat, keadaan-keadaanya, kisah- kisahnya, sebabturunnyatertibmakiyah, madaniyah, muhkam, mutasyabih, nasikh, am, mutlaq, mujmal, mufasar, (mufasahalnya) halal, haram, wa’ad, wai’d, amir, nahyu, ibar, dan amsalnya.

IbnuHayunmendefinisikanilmu tafsir sebagaiberikut:Ilmu tafsir ialahsuatuilmu yang di bahasakandidalamnyacaramenuturkan (menyembunyikan) lafazh-lafazh al-Qur’an, madlul-madlulnyabaikmengenai kata tunggalmaupunmengenai kata-kata tertib dan makna-maknanya yang dipertanggungkan oleh keadaansusunan dan beberapakesempurnaanbagi yang demikiansepertimengetahuinasikh, sebabnuzul, kisah yang menyatakanapa yang tidakterang (mubham) di dalam al-Qur’andan lain-lain yang mempunyaihubungandenganitu.

1.      Badruzzaman M. Yunus, Tafsir Tarbawi adalah disiplin keilmuan yang baru, yang menempati posisi strategis, karena dijadikan sebagai wadah kajian akademik dalam institusi perguruan tinggi. Akan tetapi bagaimanapun, menurutnya, Tafsir Tarbawi belum menjadi disiplin yang mapan karena ia belum mempunyai perangkat, metode dan pendekatan yang proporsional sebagaimana layaknya sebuah disiplin ilmu tafsir.

Dari pengertian para tokohtersebutdiatas, dapatditarikkesimpulanbahwa tafsir tarbawimemilikispesifikasikhususterhadapilmumenafsirkan al-qura’an yang mengkhususkankepadareformulasi

b.        Metode-metode dalam mentafsirkan al-Qur’an

Dalam melakukan penafsiran terhadap al-Qur’an, seorang mufassir harus menguasai kaidah-kaidah Bahasa al-Qur’an, sehingga tafsiran yang dilakukannya tidak keluar dari konteks isi kandungan al-Qur’an untuk melakukan tafsiran secara benar, seorang mufassir harus menggunakan metode-metode atau pokok-pokok pegangan sebagai berikut:

1.    Menghubungkan ayat dengan ayat.

Hal ini dilakukan karena sering kali ayat itu bersifat ringkas pada suatu tempat, sedang keterangannya terdapat di tempat lain. Oleh karena ayat itu ditafsirkan dengan ayat.

2.   Menghubungkan ayat dengan as-Sunah atau Hadits

Apabila mufasir tersebut tidak mendapati keterangan dalam ayat lain, maka ia hendaknya mencari As-Sunah atau hadits

3.    Mengetahui Asbabun Nuzul ayat

4.    Melihat keterangan atau pendapat Para Shahabat.

Apabila Mufasir tersebut tidak mendapati keterangan dalam As-Sunah, maka ia hendaknya mencari keterangan para sahabat ketrangan mereka itu lebih mengetahui maksud-maksd ayat yang di dengarnay dari nabi dan mereka pun menyaksikan sebab-sebab ayat itu turunkan.

5.  Menguasai kaidah yang berlaku dalam bahasa Arab

Apabila mufasir tersebut tidak mendapat keterangan dari para sahabat, maka barulah ia menggunakan undang-undang bahasa Arab, atau menggunakan ijtihadnya.Bila kita hendak memahamkan Al-Qur’an, maka kita hendaknya menggunakan kitab tafsir yang mutabar serta kitab-kitab tafsir yang lain untuk mengetahui penyelidikan-penyelidikan yang dilakukanoleh ulama terhadap tafsir ayat yang dimaksud.

Selain beberapa metode penafsiran yang sudah dijelaskan di atas, seorang mufassir juga disyaratkan:

1.   Mempunyai Aqidah yang benar.

Aqidah memiliki pengaruh kuat bagi seorang mufassir. Apabila seorang mufasir beraqidah buruk, maka kemungkinan ia akan merubah nash-nash dan akan berkhianat dalam meriwayatkan yang ditafsirkannya, ia akan menjuruskan tafsirnya kepada madzhabnya yang tidak benar.

2.   Tidak di pengaruihi oleh Hawa Nafsunya

Hawa nafsu kadang-kadang menjerumuskan para mufassir untuk membela madzhabnya. Kemudian mereka menipu manusia dengan perkataan-perkataan yang indah seperti yang dilakukan oleh Madzhab Qodariyah, Rafidlah, Mutazilah dan lain-lain.

3.   Mengtahui Ilmu Bahasa Arab dan cabang-cabangnya.

4.   Mengetahui Ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan al-Qur’an

5.   Mendalamnya paham yang memungkinkan mufassir dalam mentarjihkan suatu makna atas makna yang lain, atau mengistibathkan makna yang sesuai dengan nash-nash syariah.

A.     TAFSIR TARBAWI MEMBENTUK TRANSFORMASI PENDIDIKAN

Ahmad SyafiiMaarifdalambukunyaMembumikan Islam, salah seorang murid Fazrul Rahman (alm), beliaumengatakanjikakaumMusliminhendakkeluardarikrisisnya, merekaharuskembalikepadakeduasumber (al-qur’an dan hadist) dan menafsirkannyasebagaijawaban yang harusdigeneralisasisebagaiprinsip-prinsip moral yang mampumenghadapikondisi-kondisi yang selaluberubah.

Sehubungandenganini, dalambidang Pendidikan, Rahman  memberikansebuahsolusinyaberkaitandengan problem-problem yang terjadidibelahan dunia ini. Baginyatujuan Pendidikan menurut al-Qur’an adalahmengembangkankemampuan inti manusiadalamcara yang sedemikianrupasehinggaseluruhpengetahuan yang diperolehakanmenyatudengankepribadiankreatifnya.

B.      TAFSIR TARBAWI SURAT AT-TAHRIM AYAT 6

 

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواقُواأَنْفُسَكُمْوَأَهْلِيكُمْنَارًاوَقُودُهَاالنَّاسُوَالْحِجَارَةُعَلَيْهَامَلَائِكَةٌغِلَاظٌشِدَادٌلَايَعْصُونَاللَّهَمَاأَمَرَهُمْوَيَفْعَلُونَمَايُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalahdirimu dan keluargamudariapineraka yang bahanbakarnyaadalahmanusia dan batu; penjaganyamalaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidakmendurhakai Allah terhadapapa yang diperintahkan-Nya kepadamereka dan selalumengerjakanapa yang diperintahkan”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -6

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

MATERI 

 KARAKTERISITIK PESERTA DIDIK MENURUT AL QURAN DAN HADIS

 

A.    AYAT-AYAT AL-QUR’AN MENGENAI PESERTA DIDIK DAN OBYEK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

1.      At Tahrim Ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Terjemahnya:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalumengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6).

Tafsir Ibnu Katsir

اللَّهِ،ومُرواأَهْلِيكُمْبِالذِّكْرِ،يُنْجِيكُمُاللَّهُمِنَالنَّارِ.

يَقُوْلُ ( نَارًا وَ أَهْلِيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ قُوْا ): تَعَالَى قَوْلُهُ فِي مَعَاصِي وَ تَّقُوا اللَّه ، بِطَاعَةِ اعْمَلُوا : يَقُوْلُ (نَارًا وَ أَهْلِيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ قُوْا): عَبَّاسٍ ابْنِ عَنِ طَلْحَةَ ، أَبِي بْنُ عَلِيُّ وَ قَالَ

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala,  قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا  “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid (Sufyan As-Sauri mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari Mujahid, hal itu sudah cukup bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan Qatadah mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya.Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”

Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”

Dari uraian diatas, dapat kita ambil poin-poin penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :

1.      pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia untuk dapat membantu, melatih, dan mengarahkan anak melalui transmisi pengetahuan, pengalaman, intelektual, dan keberagamaan orang tua (pendidik) dalam kandungan sesuai dengan fitrah manusia supaya dapat berkembang sampai pada tujuan yang dicita-citakan yaitu kehidupan yang sempurna dengan terbentuknya kepribadian yang utama.

2.      Peserta didik adalah orang maupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan.

objek pendidikan adalah orang yang mendapat pencerdasan secara utuh dalam rangka mencapai kebahagian dunia dan akhirat atau keseimbangan materi dan religious spritual.

1.      Dalam surah at-tahrim ayat 6 dapat kita jadikan pegangan dalam membina diri sendiri dan orang lain :

2.      Proses pembinaan dimulai dari diri sendiri.

3.      Perintah menjaga diri sendiri dengan tetap menjalankan perintah Allah SWT, menjauhi laranagn Allah, dan bertaubat dari perkara yang menjadikan murka Allah dan mendatangkan siksa.

4.      mendidik diri sendiri dengan cara menjalankan terlebih dahulu perintah Allah dan rasulnya dan jauhkan larangan Allah dan rasulnya, sampai seseorang merasa senang dalam menjalankannya.

5.      Dalam surah as-syuara dapat disimpulkan bahwa Allah menyuruh Rasulullah SAW, agar memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya yang terdekat dan bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan para kerabat kecuali keimanannya.

6.      Dalam surah at taubah dapat di simpulkan bahwa Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

7.      Pada surat an-Nissa ayat 170, nabi Muhammad Saw diutus dengan membawa kebenaran kepada manusia, jadi manusia disini merupakan objek yang hendak dituju oleh Allah melalui rasulnya untuk diberikan kebenaran. Manusia sebagai tujuan dari dakwah Muhammad yang diutus oleh Allah merupakan objek dari dakwah Muhammad, dalam pendidikan manusia jugalah yang menjadi objek dikarenakan akal yang dimiliki manusia hendaklah dioptimalkan dan diberdayakan sehingga menjadi sesuatu yang baik dan terhindar dari kedzaliman .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -7

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

METODE METODE DALAM TAFSIR  TARBAWI

Pada pertemuan membahas tentang metode-metode yang ada dalam al-Quran dan Hadits. Bu Firna dan Ratu menyampaikan beberapa metode yang sudah ditafsirkan dari ayat Quran. Dari ayat-ayat yang disebutkan muncullah metode tarbawi atau metode untuk mendidik. Misalnya metode ceramah dan diskusi terdapat dalam surat an-Nahl ayat 125. Atau metode contoh (suri tauladan) dan ajakan terdapat dalam surat al-Maidah ayat 67.

Dengan runut kedua presenter menyampaikan secara umum metode-metode yang umumnya kita kenal ada 7 dengan penguatan melalui penjelasan ayat al-Quran. Diantaranya metode hiwar (percakapan), kisah, amtsal (perumpamaan), keteladanan, pembiasaan, ‘ibrah (menggali hikmah dan pelajaran) dan mau’izah (nasehat atau motivasi), dan metode targhib (reward) dan tarhib (punishment). Semua itu dituturkan bersamaan dengan ayat Qurannya.

Namun Dr Faqih menuturkan bahwa penyampaian tersebut perlu ada gagasan, atau yang dimaksud beliau adalah apa sebenarnya yang ingin disampaikan dari metode tarbawi? Beliau memberikan arahan serta contohnya dengan salah satu ayat saja atau salah satu metode saja, tapi bisa digali lebih dalam sehingga melahirkan gagasan.

Misal memulai ayat tersebut dengan pertanyaan. Bagaimana suarat al-Maidah ayat 67 bisa dikatakan ayat tarbawi? Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa ayat tersebut adalah ayat tarbawi? Apakah Rasulullah menyebutkan ayat tersebut sebagai ayat tarbawi? Dari pertanyaan tersebut maka akan muncul gagasan, agar menjadi argumentatif maka diperluka literature review.

Contohnya, dengan tafsir bil ma’tsur atau bil ra’yi dari surat al-Maidah ayat 67. Atau dicari asbabun nuzulnya, sehingga ayat tersebut lebih nyata dikategorikan sebagai ayat tarbawi. Bisa juga mencari fatwa, jurnal, buku kontemporer, kitab/tafsir yang akan menguatkan bahwa al-Maidah ayat 67 itu adalah ayat tarbawi untuk metode suri tauladan dan ajakan langsung kepada anak didik.

Intinya, Dr Faqih ingin kita (sebagai mahasiswa) berfikir lebih kritis dan meyampaikan gagasan yang kuat. Tidak hanya memindahkan pendapat satu ke pendapat lain, sumber satu ke sumber lain, tapi mahasiswa S2 harus mulai berpikir epistemology. Jika dikaitkan dengan al-Maidah ayat 67 tadi, maka kita harus berpikir bagaimana seorang penulis buku tertentu sampai pada kesimpulan bahwa surat al-Maidah ayat 67

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -8

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

MATERI

TEMA TEMA TARBAWI

1.      Tema Tarbawi Tentang Belajar

Ajaran Islam menekankan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan.

Dasar perintah membaca dalam Islam adalah Q.S. al-Alaq ayat 1-5. Ada berbagai penafsiran kata “iqra”, diantaranya yang diungkap oleh pemakalah adalah perintah bersiap-siap untuk membaca ayat-ayat Allah yang sudah mulai diturunkan dari surat al-Alaq ini dan ayat-ayat selanjutnya yang akan diturunkan kemudian. Dengan turunnya surat ini sebagai pertanda Nabi Muhammad diangakat menjadi Rasul Allah.

Kata iqra di gunakan dalam arti membaca, menelaah, meneliti dan menyampaikan. Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi rabbika, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Kaitannya dengan surat Al-Alaq sangat jelas, bahwa Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna yang diberikan potensi yang luar biasa yaitu akal. Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akal pikiran dengan sebaik-baiknya melalui proses iqra, sebagaimana disebutkan pada awal surat Al-Alaq. Apabila ditafsirkan, kata iqra ini sangat luas sekali maknanya, setidaknya dapat dipahami dalam kandungannya memberikan proses dasar pendidikan bagi manusia dengan mengembangkan kemampuan akalnya (intelektual) sendiri.

Dengan demikian, kaitan tema tarbawi tentang belajar dengan surat al-Alaq adalah terdapat dalam kata pertama yaitu iqra sebagai perintah membaca dimana membaca merupakan pintu gerbangnya ilmu pengetahuan. Adanya perintah membaca itu juga sudah dibekali sebelumnya dengan ruh, jasad, hati dan akal sebagai potensi yang telah dipersiapkan dan dirancang oleh Allah ketika menciptakan manusia, sehingga memiliki kemampuan untuk membaca, berfikir, memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu, terdapat juga dalam kalimat allama bil qalam, dimana melalui perangkat qalam (tulisan, buku, kitab) manusia dapat mempelajari segala ilmu pengetahuan.

2.      Tema Tarbawi Tentang Mengajar

Manusia, khususnya umat Islam, selain berkewajiban untuk menuntut ilmu juga berkewajiban untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain agar fungsi kekhalifahan dapat berlanjut kepada generasi berikutnya sehingga dalam menjalankan fungsinya manusia tidak tersesat karena adanya ilmu. Dalam Al-Qur'an surat at-Taubah ayat 122, maksudnya adalah mengapa tidak segolongan saja atau sebagian saja yang berangkat ke medan tempur sementara orang-orang mumin yang lainnya dapat mendalami agama mereka agar ketika para mujahid yang berangkat ke medan perang dimana mereka tentu tidak akan sempat memperdalam ilmu agama, dapat diajarkan tentang ilmu agama setelah kepulangan mereka oleh para penuntut ilmu.  

Ayat ini turun ketika semangat kaum muslimin untuk jihad ke medan pertempuran mencapai puncaknya, semua kalangan umat Islam berbondong-bondong untuk ikut berjihad dimedan perang. Sehingga tidak ada lagi orang yang tinggal untuk memperdalam ilmu ke-Islaman. Yang dilakukan kaum muslimin sangat beralasan, karena begitu mulianya orang yang berjihad ke medan pertempuran melawan kaum kafir, apalagi mati sebagai syuhada.  Inilah yang menjadi motivasi kaum muslimin. Orang yang syahid dianggap tidak mati, karna ia akan mendapat kemenangan disisi Allah subhanahu wata’ala. Allah sangat mengapresiasi mereka, tetapi agar ilmu keislaman tidak terputus, maka sebagian kaum muslimin diharuskan ada yang secara khusus memperdalam ilmu agama.

3.      Tema Tarbawi Tentang Fungsi Ilmu

Dalil tarbawi tentang fungsi ilmu diantaranya adalah terdapat dalam Al-Qur'an surat al-Mujadilah ayat 11. Dalam ayat tersebut dimulai dengan adab bermajlis agar berlapang-lapang di dalam majlis ilmu atau pendidikan. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa kedudukan orang beriman dan berilmu sangat tinggi derajatnya di hadapan Allah. Ayat ini juga sekaligus menjelaskan bahwa salah satu fungsi ilmu adalah agar Allah mengangkat derajatnya bagi para penuntutnya atau pembelajarnya sedangkan dia dalam keadaan beriman.

Pada sesi selanjutnya, disampaikan oleh pak dosen bahwa baik pemakalah yang sebelumnya atau pemakalah hari ini masih sama masalahnya tentang gagasan. Dalam membuat makalah maka perlu mengkaji terlebih dahulu banyak sumber baik dari buku maupun dari sumber lainnya. Perlu bagi pemakalah atau presenter siapapun untuk menerima masukan atau usulan dari yang lain sekiranya usulan tersebut dinilai baik, artinya tidak harus mempertahankan pendapatnya jika pendapatnya itu dirasa masih ada kekurangan.

Selanjutnya pak dosen memberikan pengarahan tentang masalah gagasan atau tema-tema yang perlu dikemukakan di dalam sebuah makalah. Misalnya tema-tema apa saja yang terdapat di dalam Al-Qur'an, walaupun dikemukakan secara global. Klasifikasi tema-tema pendidikan apa saja yang perlu diangkat dalam tafsir dan kajian Hadits, berikut metode-metode, materi-materi dan isu-isu lainnya. Misalnya bagaimana tanggungjawab negara terhadap pendidikan? Tentang perkembangan teknologi IT bagaimana menurut tinjauan Al-Qur'an dan Hadits? Bagaimana pandangan tafsir tarbawi tentang komersialisasi pendidikan yang akhir-akhir ini marak di dunia pendidikan, apakah dengan biaya yang semakin mahal di suatu lembaga pendidikan semakin meningkat pula kualitas pendidikannya? Atau bagaimana sesungguhnya? 

Selain itu, tema-tema apa saja yang sudah dibahas orang? Dan tema-tema apa saja yang belum banyak dibahas orang dalam hal tafsir tarbawi yang bersumber dari Al-Qur'an? Misalnya tentang berlapang-lapang di dalam majlis, jika dibahas secara tradisional atau klasik, itu kan sudah banyak dibahas orang. Tetapi bagaimana halnya jika ditinjau dalam konteks teknologi modern di zaman sekarang ini, di era online atau internet, dimana orang berkumpul itu sudah tidak lagi selalu berkumpul/bermajlis di satu tempat dengan berdesak-desakan. Di era sekarang orang-orang berkumpul dalam satu majlis/kelas tapi tempatnya saling yang berjauhan misalnya dengan aplikasi zoom meeting. Bagaimana adab majlis saling berlapang-lapang atau apabila ada perintah disuruh berdiri dalam konteks kontemporer melalui majlis zoom meeting tersebut. Apabila dapat dibahas dengan sudut pandang tafsir tarbawi, kan itu sangat keren. Demikianlah diantaranya satu pencerahan dan inspirasi yang disampaikan oleh pak dosen di akhir pertemuannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -9

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

 Bunyi hadist

a. Sebagai Orang Tua

 

Artinya: “

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya saya menempati posisi orang tuamu. Aku akan mengajarmu. Apabila salah seorang kamu mau buang hajat, maka janganlah ia menghadap atau mebelakangi kiblat, janganlah ia beristinjak (membersihkan dubur sesudah buang air) dengan tangan kanan. Beliau menyuruh beristinjak (kalau tidak dengan air), dengan tiga batu dan melarang beristinjak dengan kotoran (najis) dan tulang.”

b. Sebagai Pewaris Nabi

Sehubungan dengan kedudukan ini, Nabi SAW. bersabda:

Abu Dada’ berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan mencari  ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga. Seungguhnya Malaikatmenghamparkan sayapnya karena senang kepada pencari ilm. Sesungguhnya pencari ilmu dimintakan ampun oleh orang yang ada di langitdan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan orang berilmu dari orang yang beribadah adalah bagaikan kelebihan bulan malam purnama dari semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya”.

c. Asbabull wurud

Setelah diteliti penulis tidak menemukan asbabull wurud dari hadist ini

d. Sarahan hadist

1) Kedudukan pendidik Sebagai Orang Tua

Dalam hadis di atas dengan jelas Rasulullah saw. mengatakan bahwa diri beliau itu adalah bagaikan orang tua dari para sahabatnya. Pengertian bagaikan orangtua adalah  mengajar, membimbing dan mendidik anak-anak seperti yang dilakukan oleh orangtua. Rasulullah SAW. mengajarkan kepada sahabat bagaimana adab buang hajat. Sebenarnya, persoalan ini adalah pesoalan orangtua. Akan tetapi, Nabi yang tidak diragukan lagi bagi umat Islam, sebagai maha guru, pendidik ulung bagi umat Islam mau juga mengajarkan hal itu.

Pendidik (guru di sekolah) perlu menyadari bahwa ia adalah melaksanakan tugas yang diamanahkan oleh Allah dan orangtua peserta didik kepadanya. Mendidik anak harus didasarkan pada rasa kasih sayang. Oleh sebab itu,  pendidik harus memperlakukan peserta didiknya bagaikan anaknya sendiri. Ia harus berusaha dengan ikhlas agar peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara maksimal. Pendidik  tidak boleh merasa benci kepada peserta didik  karena sifat-sifat yang tidak disenanginya.

2) Kedudukan pendidik Sebagai Pewaris Nabi

Dalam hadis di atas dikemukakan beberapa hal penting. Yang berkaitan erat dengan tema ini adalah "ulama adalah pewaris Nabi". Pendidik, dalam hal ini terutama guru, adalah orang yang berilmu penegtahuan. Dengan demikian,  ia termasuk kategori ulama. Jadi, ia adalah pewaris para Nabi. Sebagai pewaris Nabi, tentu guru tidak dapat mengharapkan banyak harta karena beliau tidak mewariskan harta. Akan tetapi, Rasulullah SAW. tidak pernah melarang orang berilmu termasuk pendidik untuk mencari harta kekayaan selama proses itu tidak mengurangi upaya pengambilan warisan beliau yang sebenarnya, yaitu ilmu pengetahuan.

e. Analisis pendidikan

Masyarakat manganggab bahwa pekerjaan mendidik atau jabatan sebagai seorang guru adalah yang rendah jika di bandingkan dengan pekerjaan lai seperti di kantor BUMN pengusaha dan sebagai nya.

Ini disebabkan karena pandangan masyarakat bersifat materialistic yang mempetaruhkan harta benda. Tetapi kalu dilhat secara mendalam bahwa pekerjaan seorang guru adalah suatu pekerjaan yang luhur dan mulia, baik di tinjau dari sudut masyarakat, Negara, dan dari sudut ke agamaan.

Dalam ajaran islam pendidik sangatlah dihargai kedudukannya. Hal ini di jelaskan oleh Allah maupun rasul- Nya.

Firman Allah SWT, surat Al-Mujadillah; 11, yang berbunyi: 

f  ;M»y_uyŠ zOù=Ïèø9$##qè?ré& tûïÏ%©!$#ur Nä3ZÏB Æ(#qãZtB#uä ûïÏ%©!$# ª!$# tìsùötƒ  4   tbqè=yJ÷ès?$yJÎ/ ×ŽÎ7yz ª!$#ur 

Artinya: 

Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sabda rasulullah SAW,

Artinya: 

“ sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-quran dan  mengerjakannya”

Firman Allah dan sabda rasul tersebut menggabarkan tingginya kedudukan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Hal ini berasalan bahwa dengan pengetahuan dapat mengantarkan manusia untuk selalu berfikir dan menganalisa hakikat semua fenomena yang ada pada alam. Sehingga mampu membawa manusia semakin dekat dengan Allah. Dengan kemampuan yang ada pada manusia terlahir teori-teori untuk kemaslahatan manusia.

C. Keutamaan pendidik

1. Bunyi hadist

a. Terbebas dari Kutukan Allah

Sehubungan dengan ini terdapat hadis sebagai berikut:

Artinya:

“Abu Hurairah meriwayatkan  bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah ! bahwa sesungguhnya dunia dan segala isinya terkutuk kecuali zikir kepada Allah dan apa yang terlibat dengannya, orang yang tahu (guru) atau orang yang belajar.”

b. Didoakan oleh Penduduk Bumi

 

Artinya: 

“Abu Umamah al-Bahiliy berkata: diceritakan kepada Rasulullah saw. dua orang laki-laki, yang satu 'abid (orang yang banyak beribadah) dan yang satu lagi 'alim (orang yang banyak ilmu). Maka Rasulullah saw. bersabda: kelebihan seorang alim daripada orang yang beribadah adalah  bagaikan kelebihanku daripada seorang kamu yang paling rendah. Kemudian Rasulullah saw. berkata (lagi): Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi sampai semut yang berada dalam sarangnya serta ikan berselawat (memohon rahmat) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (pendidik, guru).”

c. Mendapat Pahala Berkelanjutan

Sehubungan dengan keutamaan ini ditemukan hadis sebagai berikut:

 

Artinya: 

“Abu Hurairah meriwatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila manusia telah meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya”.

2. Asbabull wurud

Setelah diteliti penulis tidak menemukan asbabull wurud dari hadist ini

3. Sarahan hadist

a. Terbebas dari Kutukan Allah

Dalam hadis ini ditegaskan bahwa orang yang tahu (guru, pendidik) adalah orang yang selamat dari kutukan Allah. Ini merupakan keutamaan yang sangat berharga. Dari hadis ini dapat dipahami bahwa tidak semua orang yang berpredikat guru dijamin Rasulullah SAW. selamat dari kutukan. Guru yang beliau maksudkan adalah guru yang berilmu, mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya dengan ikhlas untuk mendapatkan keridaan Allah.

b. Didoakan oleh Penduduk Bumi

Informasi dalam hadis di atas mencakup bahwa Allah memberikan rahmat dan barakah kepada guru. Selain itu, malaikat dan penduduk langit dan bumi termasuk semut yang berada dalam sarang, ikan yang berada dalam laut mendoakan keaikan untuk guru yang mengajar orang lain. Ini semua adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada guru.

c. Mendapat Pahala Berkelanjutan

Dalam hadis di atas terdapat informasi bahwa ada tiga hal yang selalu diberi pahala oleh Allah pada seseorang kendatipun ia sudah meninggal dunia. Yaitu; (1) sedekah jariyah (wakaf yang lama kegunaannya), (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) doa yang dimohonkan oleh anak yang saleh untuk orang tuanya. Sehubungan dengan pembahasan ini adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh seseorang ('âlim, guru) kepada orang lain dan tulisan (karangan) yang dimaksudkan oleh penulis untuk dimanfaatkan orang lain.  Pahala yang berkelanjutan merupakan salah satu keutamaan yang bakal diperoleh oleh pendidik (guru).

Keutamaan ini diberikan kepada guru karena ia sudah memberikan sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Al-Ghazali mengemukakan bahwa Hasan al-Bashri berkata: Kalau sekirarnya orang-orang berilmu tidak ada, niscaya manusia akan bodoh seperti hewan, karena hanya dengan mengajar, para ulama dapat menaikkan orang banyak dari tingkat kehewanan ke tingkat kemanusiaan. Selain dengan mengajar, seorang alim/guru juga dapat menyebarluaskan ilmu kepada orang lain melalui aktivitas karang mengarang.

4. Analisis pendidikan

Islam mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama yang paling betangagung jawab terhadap perkembangan anak didik adalah orang tua. Islam memerintahkan kedua orang tua untuk mendidik diri dan keluarganya terutama anak-anak nya agar mereka terhindar dari azab yang pedih. Dalam firman Allah surat At-Tahrim berbunyi:

Artinya: 

Hai orangorang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka  yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Karena kedua orang tua harus mencari nafkah untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan material, maka orang tua kemudian menyerahkan anak nya kepada pendidik disekolah ( murabbi, mualllim, atua muaddib) untuk pendidik. Dalam teknologi pendidikan modern, para pendidik ini disebut orang yang memberikan pelajaran kepada anak didik dengan memegang satu disiplin ilmu tertentu disekolah. Selain itu orang-orang yang terlibat dalam proses pendewasaan anak melalui pengembangan jasmamni dan rohaninya adalah pendidik.

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -10

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

aspek yang pertama dan utama dalam pengembangan pendidikan karakter adalah landasan-landasannya. Adapun yang dimaksud dengan landasan di sini adalah atas dasar apa pendidikan karakter ini lahir. Atau dapat juga di deskripsikan dengan sebuah pertanyaan “Mengapa karakter-karakter yang mulia ini lahir?. Maka, jawaban dari pertanyaan ini adalah yang disebut dengan landasanlandasannya. Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan karakter. Adapun yang menjadi dasar pendidikan karakter adalah alQur’an , Al-hadits dan Takwa, dengan kata lain dasar-dasar yang lain senantiasa dikembalikan kepada alQur’an ,al-Hadis serta ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam Islam, karakter atau akhlak mempunyai kedudukan penting dan dianggap mempunyai fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 90. Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah Allah yang menyuruh manusia agar berbuat adil, yaitu menunaikan kadar kewajiban berbuat baik dan terbaik, berbuat kasih sayang pada ciptaan-Nya dengan bersilaturrahmi pada mereka serta menjauhkan diri dari berbagai bentuk perbuatan buruk yang menyakiti sesama dan merugikan orang lain. Melalui ayat di atas dapat dipahami bahwa ajaran Islam serta pendidikan karakter mulia yang harus diteladani agar manusia yang hidup sesuai denga tuntunan syari’at, yang bertujuan untuk kemaslahatan serta kebahagiaan umat manusia. Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga tiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan karakter. Adapun yang menjadi dasar. pendidikan karakter adalah alQur’an dan alHadits, dengan kata lain dasar-dasar yang lain senantiasa dikembalikan kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Kemudian, ada sebuah ayat Al-qur’an lagi yang menjadi dasar pendidikan karakter adalah berfirman didalam Al Quran surah al-Isra’ ayat 23, yang artinya Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Ayat ini merupakan salah satu ayat yang memuat materi pendidikan yang harus ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Perintah Allah yang termaktub di dalam ayat ini, mencakup bidang pendidikan karakter (akhlak) berupa Aqidah, ibadah dan akhlak yang harus terbina bagi seorang anak. Demikian juga peran serta orang tua dalam memberikan bimbingan moral dan keluhuran dalam upaya membentuk karakter anak yang berkualitas.Sementara itu jika kita lihat dari petunjuk hadits, ada beberapa hadits yang bisa kita jadikan dasar bagi pembentukan karakter anak : :” Dari „Amar bin Syu‟aib, dari ayahnya dari kakeknya ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “perintahlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (lakilaki dan perempuan)!”. (HR.Abu Daud dalam kitab sholat) Hadits ini mengisyaratkan bahwa pembentukan karakter anak hendaklah melalui tahapan-tahapan yang dimulai ketika anak masih masa kanak-kanak, bahkan ketika anak masih berbentuk janin di dalam kandungan. Kemudian yang menjadi tujuan akhir dari pendidikan karakter adalah membentuk pribad

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -11

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

MATERI

KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN PERSPEKTIF DALAM AL QURAN

 

Pertemuan masih dalam suasana daring, dengan tema yang cuku[ ramai dibicarakan yaitu kekerasan pendidikan  dalam al-Quran. Pembelajaran dimulai dengan presentasi dari Pa Nanang dan Arif. Pa Nanang menjelaskan konsep kekerasan melaui empat definisi, diantaranya: 

1) kekerasan yang sifatnya fisik, jenis ini adalah jenis yang paling bisa dilihat dan dilacak seperti menjewer kuping, menyelentik kuping dan lain sebagainya,

2) kedua kekerasan secara psikis, seperti penggunaan kata-kata keras dan kasar yang membuat kejiwaan anak melemah dan memang jenis ini tidak bisa dilihat oleh orang lain,

3) kekerasan seksual yakni tindakan yang berupa ancaman atau memaksa untuk melakukan hubungan seksual adanya kasus pelecehan seksual seperti memegang bagian vital peserta didik adalah contohnya,

4) kekerasan dalam ekonomi biasanya terjadi di lingkungan keluarga yakni jika orang tua anak memaksa anak di bawah umur untuk menghasilkan uang sendiri seperti contoh memaksa anak mengamen dijalanan dan lain sebagainya.

Selanjutnya ayat al-Quran yang diangkat adalah QS Ali Imran ayat 159, Konteks "lemah lembut" dan "musyawarah" menjadi titik perhatian dan dikolerasikan sebagai karakter pendidik agar tidak melakukan kekerasan. Namun secara konteks mungkin ayat ini tidak sebagai indikasi pendidikan. Namun bisa juga melihatnya sebagai karakter pendidikan dengan menempatkan al-Quran sumber/inspirasi pendidikan.

Diskusi semakin hangat karena ada yang benar-benar menafikan kekerasan dalam pendidikan, ada juga perbedaan pemhaman kekerasan dalam konteks pendidikan, tidak ketinggalan hubungan kekerasan dalam pendidikan dengan UU Perlindungan Anak serta HAM. Tentu semua perspektif dibolehkan, Dr Faqih kembali mengingatkan bahwa perspektif itu dibebaskan sebagai sebuah tesis sekalipun dengan syarat penguatan metodologinya.

Misal, pendapat kekerasan dalam pendidikan umur remaja (SMP/SMA) sebagai bentuk punishment diangga[ tepat sebagai pemebntukan karakter. Maka dengan metodologi perlu dikuatkan, misalnya denga hadits yang memerintahkan dipukul jika tidak solat pada umur 10 tahun, atau penguatan dengan sudut pandangan psikis, 

Pada intinya pembahasan kekerasan ini harus ditinjau banyak perspektif dan terbuka untuk kita membahasanya sebagai khazanah, khususnya dalam tafsir, terkait ayat atau hadits tertentu dapat sampai pada kesimpulan tertentu harus melalui metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -12

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

PENDIDIKAN ILMU AGAMA DAN NON AGAMA DALAM AL QURAN

Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai ayat ayat Al Quran tentang pendidikan. Ayat ayat tersebut tersebar dibeberapa surat seperti surat luqman, surat al mujadilah, surat an nahl dan banyak lagi. Besar harapan kita lebih peduli lagi pada masalah pendidikan terutama pendidikan agama islam.

Pendidikan dan ilmu agama sendiri merupakan hal yang sangat penting untuk bekal mengarungi kehidupan. dalil dalil masalah pendidikan ini bisa dengan mudah kita temui dalam kitab suci Al Quran. Dalam Al Quran dijelaskan bagaimana pentingnya pendidikan supaya kita tahu mana yang benar dan salah sehingga hidup kita sesuai dengan syariat Nabi Muhammad SAW.


Jika kita tidak belajar dan menuntut ilmu, maka kita akan terjerumus dalam kebodohan dan kejahilan. Kita tidak tahu mana halal dan haram , mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Bahkan tanpa pedidikan agama kita tidak akan mengerti bagaimana tata cara beribadah, etika dan akhlak yang baik dan benar.

 


Di beberapa surat dalam Al-Quran Allah SWT berfirman masalah ilmu ini. Untuk mengetahuinya, simak berikut ini kumpulan dalil ayat Al Quran tentang pendidikan dan ilmu agama islam lengkap dalam teks arab dan terjemahan bahasa Indonesianya.


Ayat Al Quran Tentang Pendidikan

 

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Surat Al Ankabut ayat 45)

 

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (Surat al-Kahf ayat 66)

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (Surat Asy Syuara ayat 214)

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ



Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Surah al-Baqarah ayat 31)

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".(Surat Thoha ayat 114)



يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Surat Al A'Raf ayat 35)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(Surat Shod ayat 29)



اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ - خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ - اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ - الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ - عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan qalam. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui. (Surat al-‘Alaq ayat 1-5)

۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Surat At-Taubah ayat 122)

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Surat An Nahl ayat 125)

 وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ {14} وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ {15} يَابُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي اْلأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُ إِنَّ اللهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ {16} يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ {17}

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. - Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. - (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. - Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Surat Luqman ayat 14-17)

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Surat Az Zumar ayat ke 9)

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -13

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

MATERI

REWERD DAN PUNISHMENT DALAM PERSPEKTIF AL  QURAN


A. Pengertian Hadiah dan Hukuman dalam Pendidikan Islam

Menurut M. Ngalim Purwanto Hadiah adalah alat pendidikan repres yang menyenangkan, diberikan kepada anak yang memiliki prestasi tertentu dalam pendidikan, memiliki kemajuan dan tingkah laku yang baik sehingga dapat dijadikan tauladan bagi teman – temannya.

Berkaitan dengan konsep hadiah dan hukuman sebagaimana firman Allah Swt:

`

Artinya :“Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat dzarrahpun,

niscaya dia akan melihat (balasannya), dan barang siapa yang

melakukan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat

balasannya.” (Q.S. al-Zalzalah : 7-8).

Dengan menyimak ayat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa

balasan yang pertama adalah apa yang dikenal dengan istilah hadiah / ganjaran

(reward), sedangkan balasan yang kedua adalah hukuman (punishment), di

mana ayat ini juga menjelaskan bahwa hadiah dan hukuman merupakan

pedoman dari Allah SWT, dan Islam mengakui hal tersebut sebagai salah satu

hukum yang berlaku dalam kehidupan manusia atau masyarakat.

Hadiah di dalam al-Qur’an biasanya disebutkan dalam berbagai bentuk

uslub, di antaranya ada yang mempergunakan lafadz ‘ajr أجر ) dan tsawab (

ثواب ), seperti dalam surat al-Baqarah : 62, al-‘Ankabut : 58, dan

al-Bayyinah: 8.4

Dafid. L Sills mendefinisikan hadiah ialah : “reward is one educations

tools with given to the pupil as appreciation toward accomplish men was he

reached”.5 Hadiah ialah salah satu alat pendidikan yang diberikan pada murid

sebagai penghargaan terhadap prestasi yang dicapainya.

Sedangkan al-Ghazali mengartikan Hadiah ialah :

ثم مهم ا ظهر من الصبي خلق جميل وفعل محمود ,فينبغي ان یكرم عليه

ویجازي عليه بما یفرح به ویمدح بين اظهر الناس 6

Artinya :“sewaktu-waktu anak telah nyata budi pekerti yang baik dan

perbuatan yang terpuji, maka seyogyanya ia dihargai dan dibalas

dengan sesuatu yang menggembirakan dan dipuji di depan orang

banyak (diberi hadiah)”.

Yang perlu dingat dan digaris bawahi hadiah identik dengan tujuan

baik, sedang suap lebih identik dengan tujuan jelek. Meskipun beberapa studi

menunjukkan, bahwa untuk meningkatkan motivasi, pemberian hadiah lebih

efektif dibandingkan dengan cara lainnya; memberi sanksi, mengomeli,

memarahi dan lain sebagainya, tetapi sebagian orang tua kurang setuju dengan

hal itu. Dikhawatirkan anak terlalu mengharap hadiah yang akan diberikan,

sehingga hanya bekerja bila ada hadiah. Memang inilah yang menjadi

tantangan bagi para pendidik atau orang tua, oleh karena itu diusahakan

bagaimana caranya supaya dapat menghilangkan pemberian hadiah tidak

sesering mungkin terutama dalam bentuk materi, berikan hadiah sewajarnya

dan jangan terlalu berlebihan.

Dari penjelasan tersebut penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa

yang dimaksud Hadiah dalam Pendidikan Islam adalah suatu pemberian yang

diberikan kepada anak didik karena anak telah melakukan kebaikan dan juga

merupakan pembinaan yang dipandang sebagai proses sosial dapat melahirkan

anak yang berwatak sosial, yang meraih watak kemanusiaannya yang

memiliki bekal nilai-nilai dan yang mematuhi perintah serta larangan moral

dan sosial yang merupakan syarat bagi tercapainya kehidupan anak yang baik

dan stabil.

Berkaitan dengan hukuman (punishment) ada beberapa pandangan

bahkan ada yang berpendapat dan percaya tentang hukuman itu sendiri dan

juga sebaliknya. Untuk itu perlu ditegaskan pula apa yang dimaksud dengan

hukuman dalam pembahasan ini, sebagaimana Hadiah yang telah disinggung

di atas.

1.Hukuman dan hadiah menurut Alqur’an

Dalam al-Qur’an hukuman juga biasanya disebutkan dalam berbagai

bentuk uslub, di antaranya ada yang mempergunakan lafadz ‘iqab ( ,(عقاب

adzab عذاب ), rijz رجز ), ataupun berbentuk pernyataan (statement). Kata

adzab seperti dalam surat at-Taubah : 74, Ali Imron : 21, kata rijz seperti

dalam surat al-A’raf : 134 dan 165, dan kata ‘iqab seperti dalam surat al-

Baqarah : 61 dan 65, Ali Imron : 11.8

Hukuman dalam istilah psikologi adalah cara yang digunakan pada

waktu keadaan yang merugikan atau pengalaman yang tidak menyenangkan

yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja menjatuhkan orang lain. Secara

umum disepakati bahwa hukuman adalah ketidaknyamanan (suasana tidak

menyenangkan) dan perlakuan yang buruk atau jelek.9

Elizabeth B. Hurlock mendefinisikan hukuman ialah : “punishment

means to impose a penalty on a person for a fault offense or violation or

retaliation”.10 Hukuman ialah menjatuhkan suatu siksa pada seseorang karena

suatu pelanggaran atau kesalahan sebagai ganjaran atau balasannya.

Abdullah Nasih Ulwan berpendapat hukuman ialah “hukuman yang

tidak ditentukan oleh Allah untuk setiap perbuatan maksiat yang di dalamnya

tidak ada had atau kafarat”.Sehingga dapat dibedakan antara hukuman yang

khusus dikeluarkan negara dengan hukuman yang diterapkan oleh kedua

orang tua dalam keluarga dan para pendidik di sekolah. Karena baik hudud

atau hukuman ta’zir keduanya sama bertujuan untuk memberi pelajaran baik

bagi si pelaku ataupun orang lain, semua itu adalah sebagai cara yang tegas

dan cepat untuk memperbaikinya.

Berdasarkan pengertian di atas, adanya hukuman disebabkan oleh

adanya pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang. Jadi, yang dimaksud

menghukum yaitu memberikan sesuatu yang tidak menyenangkan

pembalasan dengan sengaja pada anak didik dengan maksud supaya anak

tersebut jera. Perlu dijelaskan di sini bahwa pembalasan bukan berarti balas

dendam, sehingga anak benar-benar insyaf dan sadar kemudian berusaha

untuk memperbaiki atas perbuatan yag tidak terpuji.

Sedangkan Athiyah al-Abrasyi berpendapat bahwa :

انّ الغرض منها في التّربية الإسلاميّة . . . الإرشاد والإصلاح لا الزّجر

والإنتقام

Artinya :“maksud hukuman dalam pendidikan Islam ialah … sebagai tuntutan

dan perbaikan, bukan sebagai hardikan dan balas dendam.”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa hukuman

memiliki tujuan perbaikan, bukan menjatuhkan hukuman pada anak didik

dengan alasan balas dendam. Maka dari itu seorang pendidik dan orang tua

dalam menjatuhkan hukuman haruslah secara seksama dan bijaksana.

Kalau dilihat secara ringkas mengenai kedudukan hukuman dalam

masyarakat Islam yang bersumber dari al-Qur’an, menurut Abdurrahman

Shaleh Abdullah. Islam mengenal tiga kategori hukuman yaitu hudud, qishas

dan ta’zir.14 Adapun dalam pembahasan ini, hukuman yang dimaksud besifat

edukatif atau mendidik dan dalam masyarakat Islam dikenal dengan sebutan

hukuman ta’zir. Kata “ta’zir” menurut kamus istilah fiqih adalah bentuk

masdar dari kata kerja “azzara” yang artinya menolak, sedang menurut istilah

hukum syara’ berarti pencegahan dan pengajaran terhadap tindak pidana yang

tidak mempunyai hukum had, kafarat dan qishas.15 Maka dari itu hukuman

haruslah mengandung unsur-unsur pendidikan baik diputuskan oleh hakim

maupun yang dilakukan orang tua dan para pendidik terhadap anaknya

 

 

 

 

 

PORTOFOLIO MINGGU KE -14

Nama               : FADLULLAH

Alamat                        : Jln Pamijen Desa Sampih Kecamatan Susukan Lebak

E- Mail            :fadlufadlo@gmail.com

Semester          : 1( SATU) C

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Welcome To Campus Merdeka

Nama                  : Muhammad Faiz Amali NIM                    : 21086030046 Mata Kuliah    : Tafsir dan Hadis Tarbawi Pengampu           : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.A   Welcome To Campus Merdeka             Selama ini pada dasarnya sebuah kampus sendiri menerapkan sistem pembelajaran dengan SKS yang hampir keseluruhan mengharuskan adanya kegiatan belajar didalam kelas. Ini menunjukkan kurangnya kemerdekaan belajar yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa dalam melakukan pembelajarannya.   Apa itu Merdeka belajar?                       Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada  lembaga pendiikan, dan merdeka  dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit sert...

HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS

  Nama                           : Mohammad Syahru Assabana Prodi                            : PAI-C NIM                             : 210860300 44 Mata Kuliah               : Tafsir dan Hadits Tarbawi   HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS   Haid adalah darah yang dikeluarkan dari rahim apabila perempuan telah mencapai usia balig. Setiap bulan perempuan mengalami masa-masa haid dalam waktu tertentu. Jangka waktu haid minimal sehari semalam dan maksimal selama lima belas hari, namun umumnya adalah enam atau tu...

Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis

  Nama                    : Umi Azizaturrosyidah Prodi                     : PAI-C NIM                       : 21086030051 Mata Kuiah           : Tafsir dan Hadits Tarbawi      Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis Kewenangan dan hak pada perempuan dalam menentukan pilihan dan mengontrol tubuh, seksualitas, dan alat serta fungsi reproduksinya dapat dimulai dari adanya penelitian tentang hak reproduksi. Salah satu permasalahan yang dilekatkan pada perempuan adalah haid (menstruasi). Haid (menstruasi) merupakan siklus biologis-kodrati yang dialami perempuan dalam kelangsungan kesehatan reproduksi perempuan. Menstruasi sesungguhnya merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian pematangan seks, kesuburan, kesehatan tubuh, dan perubahan (p...