Nama : Mohammad Syahru
Assabana
Prodi : PAI-C
NIM : 21086030044
Mata Kuliah : Tafsir dan Hadits Tarbawi
PERGAULAN
REMAJA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
Pergaulan bebas anak usia remaja
pada era milenial masih menjadi polemik. Era milenial berjalan semakin cepat
seiring dengan diikutinya peningkatan kemajuan teknologi yang memberikan nilai
tambah dengan mudahnya mengakses segala informasi, hal ini memiliki dampak
terhadap pola kehidupan masyarakat dari berbagai kalangan terutama anak usia remaja.
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak remaja menuju masa dewasa.
Di mana pada masa ini remaja seharusnya mulai belajar memiliki tanggung jawab
sebagai seorang remaja yang mampu berfikir dan bertindak sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat. Namun dengan adanya arus modernisasi pada era ini
memberikan kemudahan bagi remaja untuk mengakses segala informasi dan seluk
beluk mengenai hal-hal yang berbau dengan pergaulan bebas.
Tindakan seksual
dikalangan remaja di satu sisi merupakan tuntutan dari dalam diri. Mengingat
usia remaja sudah pada tingkat kematangan seksual. Tapi disisi lain hal ini
juga akan berpengaruh pada proses pembelajaran sosial dan akademik bagi remaja
dalam menempuh pendidikannya. Banyak alasan remaja melakukan hubungan seks di
luar nikah, alasan kasih sayang, cinta dan pengorbanan adalah yang paling
sering dikedepankan. Utamanya inisiatif hubungan seks datang dari laki-laki.
Laki-laki secara seksual memang lebih agresif dibandingkan dari seorang
perempuan.
Islam merupakan
agama wahyu, yang sangat besar kepeduliannya terhadap akhlaqul karimah dalam
konteks hubungan sesama manusia. Islam sebagai
satu-satunya agama yang universal, telah membicarakan berbagai macam kehidupan
manusia termasuk masalah pergaulan. Mengingat pentingnya pergaulan bagi setiap
pribadi muslim, Islam telah menempatkannya sebagai bahagian terpenting dalam
kehidupan manusia, sejak dari zaman Rasulullah sampai sekarang ini. Allah SWT
mengutus Muhammad Rasulullah SAW adalah untuk memperbaiki budi pekerti umat
manusia. Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa salah satu tugas misi nubuwwah
beliau adalah untuk memperbaiki budi pekerti yang mulia. Yang artinya Artinya:
Dari Abi Hurairah ra, Ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Aku diutus hanya
untuk menyempurnakan akhlak manusia". (HR. Bukhari)”
Upaya pembinaan ke arah ketaqwaan
dan beretika harus dilakukan pada setiap pribadi muslim sejak dini. Bila hal
tersebut menjadi realita dalam kehidupan umat, maka akan lahirlah para generasi
penerus bangsa yang bermoral sekaligus menjadi panutan bagi umat beragama
lainnya. Untuk mengatasi dekedensi moral tersebut, umat Islam harus disadarkan
tanggung jawabnya dalam membimbing dirinya, keluarganya dan orang lain serta
mewujudkan dunia ini menjadi tempat yang aman untuk kebahagiaan umat manusia
seluruhnya.
Masalah pergaulan anak remaja
mendapat tempat yang paling penting dalam pendidikan Islam dewasa ini. Dalam
penerapannya, selain berpedoman pada konsep Al-Qur’an dan hadits, juga perlu
diterapkan ide-ide pemikiran dari para tokoh pemikir dalam dunia Islam. Para
ulama dan moralis Islam telah mengutarakan hal-hal yang berhubungan dengan
pergaulan menurut persepsi dan pendekatan (approach) mereka masing-masing.
Namun semua mereka telah mengarahkan umat Islam pada tujuan yang sama, yaitu
mencari keredhaan Allah SWT.
Menurut konsep
Al-Qur’an pergaulan merupakan “suatu sikap yang mencerminkan kelembutan dan
kerendahan hati dengan tidak menampilkan sifat-sifat yang tidak baik seperti
sombong, angkuh lagi membanggakan diri. Sedangkan remaja menurut pengertian
global remaja adalah anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa tetapi masih
memerlukan arahan dan bimbingan dari pihak lain”. Oleh karena itu, dalam
pergaulan remaja seharusnya memperlihatkan prilaku yang esensial dalam kehidupannya,
baik dalam wujud individu, keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan
bernegara.
Lingkungan keluarga merupakan
fondasi awal, dan yang paling kuat pengaruhnya terhadap pendidikan remaja. Hal
ini disebabkan karena keluarga merupakan lingkungan pertama seorang remaja
melakukan interaksi. Dalam hal ini orang tualah yang berperan utama dalam
memberi pendidikan kepada remaja, keteladanan orang tua akan menjadi kunci
utama keberhasilan pendidikan remaja. Sabda Rasulullah: yang Artinya: Hadits
Abu Salamah Ibn Abdurrahman dari Abu Hurairah ra. berkata: Bersabda Rasulullah
saw, Tidaklah anak yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka ibu
bapaknyalah yang menjadikan Yahudi dan Nasrani atau Majusi. (H.R. Bukhari).
Oleh karena itu kedudukan orang tua
sangat berperan dalam membentuk pribadi remaja, baik dan buruknya seorang
remaja tergantung dibawah kendali orang tuanya. Bambang Mulyono mengatakan
bahwa “keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi
menempati kedudukan yang primer dan fundamental dalam kehidupan manusia”.
Para orang tua, kaum pendidik dan
penegak hukum sering dipusingkan dengan masalah remaja. Berbagai kasus
kenakalan remaja, seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang (narkoba),
pemerkosaan, perkelahian, perampokan, dan sebagainya. Masalahnya kembali kepada
akhlak remaja itu sendiri. Remaja yang nakal biasanya remaja yang tidak
mempunyai akhlak. Sebaliknya tidak sedikit pula remaja yang menyejukkan
pandangan mata, karena kesopanan, dan tingkah lakunya yang baik dan selalu
berbuat kebaikan. Remaja yang demikian adalah remaja yang saleh, yang
berakhlak.
Di dalam kehidupannya manusia butuh
pada orang lain, dalam hal ini manusia disebut zoon polition (makhluk sosial),
segala sisi kehidupan remaja tidak pernah terlepas dari masyarakat sosial.
Lingkungan utama yang akan dilewati remaja adalah lingkungan keluarga. Keluarga
adalah tempat beradaptasi yang pertama bagi seseorang, pada masa ini ia harus
dapat memahami posisinya yang bukan lagi seorang kanak-kanak. Ia tidak boleh
berpangku sepenuhnya lagi kepada keluarganya.
Pada umumnya, masyarakat mengangap
bahwa tugas orang tua di rumah adalah mendidik dan menanamkan nilai-nilai
positif yang menyadarkan serta mengarahkan anak bersifat positif karena pada
kenyataannya anak merupakan amanat dari Allah SWT bagi kedua orang tua. Seorang
anak membutuhkan komunikasi yang intim, perhatian dan motivasi yang maksimal
dari orang tuanya untuk menentukan kepribadiannya. Orang tua mengemban tugas
dan tanggung jawab dalam proses pembentukan kepribadian anak tersebut.
Pergaulan remaja menurut konsep
Islam haruslah selalu berpedoman sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, karena
Islam telah mengatur cara-cara berakhlak yang baik dan bergaul yang benar.
Setiap aktifitas mereka dalam bergaul, bermain, berorganisasi dan mengembangkan
kreativitas dan kepribadiannya selalu dalam nuansa-nuansa Islam. Sebab mereka
secara langsung maupun tidak langsung sudah terkader untuk menda’wahkan Islam,
sehingga menjadi generasi muda muslim yang siap menerima amanah dalam mensyi’arkan
Islam.
Pergaulan anak remaja menurut
tinjauan pendidikan Islam haruslah diatur dan dibimbing oleh berbagai pihak, di
antaranya yang paling bertanggung jawab dalam hal pembentukan kepribadian
remaja tersebut ialah orang tua atau keluarga, guru, dan masyarakat. Sebab
ketiganya merupakan orang yang sangat penting dalam mengarahkan remaja untuk
membentuk pribadi yang berakhlak baik dengan memberikan pendidikan-pendidikan
islam yang berlandaskan Al-Quran dan Hadits.
Inilah sobat sedikit penjelasan tentang
pergaulan remaja, semoga kita bisa bergaul dengan baik dan bisa membawa
teman-teman kita menjadi orang yang lebih baik lagi.
Komentar
Posting Komentar