Nama : Mohammad Syahru
Assabana
Prodi : PAI-C
NIM : 21086030044
Mata Kuliah : Tafsir dan Hadits Tarbawi
PEREMPUAN SEBAGAI MAYORITAS PENGHUNI NERAKA
Kaum
laki-laki maupun perempuan memang memiliki derajat yang sama di sisi Allah SWT.
Allah SWT tak pernah membeda-bedakan hamba-Nya lewat jenis kelamin ataupun
strata sosial. Di sisi Allah SWT hanya yang bertaqwa yang paling tiggi
derajatnya. Namun dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi
diceritakan bahwa penghuni neraka terbanyak dari golongan perempuan. Hal ini
tentu menjadi pertanyaan bagi kita seolah-olah ada sekat dan pembeda antara
laki-laki dan perempuan. Pun dengan adanya hadits tersebut, perempuan
seolah-olah menjadi kaum yang patut disalahkan.
Hadis
yang menyatakan bahwa perempuan sebagai mayoritas penghuni neraka (aktsar
ahl al-nâr) dan makhluk yang lemah dari segi akal dan agamanya (nâqishât
„aql wa dîn), terdapat dalam beberapa kitab hadis di antaranya: Pertama,
Kitab Shahîh Bukhari, bâb al-hayd, no. 293 dengan redaksi: Sa‟id ibn Abi
Maryam menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad Ibn Ja‟far
menceritakan kepada kami, ia berkata: Zaid Ibn Aslam menceritakan kepada
kami dari „Iyad Ibn Abdillah dari Ibnu Sa‟id al-Khudri berkata:
“Rasulullah Saw. keluar pada Hari Raya Adha atau Hari Raya Fitri menuju
tempat shalat. Kemudian beliau melewati tempat kaum perempuan dan
bersabda: “Wahai kaum perempuan, bersedekahlah! sesungguhnya aku
diperlihatkan bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.”
Mereka bertanya: “Apa sebabnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalian
banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. Dan aku tidak
pernah melihat orang-orang yang kurang akal dan agama mampu melumpuhkan
hati seorang laki-laki yang tegas melebihi salah seorang dari kalian”.
Mereka bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa maksud dari kurang agama
dan akal kami?” Beliau menjawab:
“Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian lakilaki?”
Mereka menjawab: “Benar”. Beliau berkata lagi: “Itulah kekurangan akalnya.
Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid, dia tidak shalat dan
puasa?” Mereka menjawab: “Benar”. Beliau berkata: “Itulah kekurangan
agamanya”.
Kemudian, hadis di atas
terdapat pula dalam Kitab Shahîh Muslim, bâb al-Îmân, no. 114
dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan tambahan beberapa lafadz,
Berikutnya, terdapat pada Kitab Musnad Imâm Ahmad, Musnad ibn „Umar, no.
5091, Kemudian pada Kitab Sunan Tirmidzi, bâb mâ jâ‟a fî istikmâl al-Îmân, no.
2538, Dan terakhir, hadis ini terdapat pada Kitab Sunan al-Nasâ‟i, bâb
hatsu al-Imâm „alâ al-shadaqah fî al-khutbah, no. 1561.
Kaum Wanita, Mayoritas Penghuni Neraka
Karena Banyak Melaknat
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa kaum perempuan secara mayoritas akan
menjadi penghuni neraka disebabkan oleh dua hal yaitu banyak melaknat dan
mengingkari kebaikan suami. Yang dimaksud dengan melaknat di sini adalah
menuduh seorang jauh dari rahmat Allah. Ulama sepakat bahwa melaknat adalah
perbuatan yang diharamkan. Seseorang tidak boleh melaknat orang lain apabila
tidak mengetahui dengan pasti akhir umurnya, baik muslim maupun kafir. Melaknat
dibolehkan bila teks syar‟i telah menyatakan bahwa orang tersebut adalah kafir,
seperti Abu Jahal dan Iblis. Melaknat pada sifat seseorang dan bukan pada
esensi (jati diri) seseorang tidaklah diharamkan, selama sifat-sifat tersebut,
telah dijelaskan oleh teks syar‟i, seperti sifat dzalim, orang fasik dan orang
kafir. Imam al-Nawawi menegaskan bahwa Islam sangat melarang seseorang untuk
mengucapkan kata-kata laknat.
penjelasan lain
disebutkan bahwa seorang perempuan banyak melakukan laknat karena dipengaruhi
dua faktor yakni rutinitas sosialnya dan aktifitas sosialnya. Kegiatan kaum
perempuan pada masa Rasulullah Saw. lebih terkonsentrasi pada lingkungan mereka
sendiri (rumah tangga) atau hubungan sesama kaum perempuan, sehingga rutinitas
mereka sangat sempit dan terbatas. Di samping itu, mereka juga belum disibukkan
dengan aktifitas dunia publik, seperti ekonomi, politik, militer dan
sebagainya, sehingga banyak waktu luang.
Siapa yang bersumpah bukan berdasarkan
ajaran Islam, maka dia termasuk apa yang dia ucapkan (dalam sumpahnya). Dan janganlah
seseorang bernazar dengan sesuatu yang bukan miliknya. Siapa yang bunuh diri di
dunia dengan menggunakan sesuatu, maka dia akan di siksa di akhirat dengan
menggunakan sesuatu yang digunakan untuk bunuh diri sewaktu di dunia. Siapa
yang melaknat seorang mukmin, maka seolah-olah ia telah membunuhnya. Siapa yang
menuduh kafir terhadap seorang muslim, maka dia seolah-olah telah membunuhnya.”
Mengingkari Kebaikan Suami Terkait dengan sebab kedua yang menyebabkan wanita
lebih banyak sebagai penghuni neraka yaitu mengingkari kebaikan suami.
Ingkar kepada kebaikan
berarti tidak bersyukur (tidak berterima kasih) terhadap seseorang yang
memberikan kebaikan kepadanya. Dalam konteks hadis ini, yang memberikan
kebaikan adalah suami,23 dan yang mengungkari adalah istri, namun tidak berarti
bahwa yang berpotensi untuk mengingkari kebaikan hanya kaum wanita saja,
sedangkan kaum laki-laki terlepas dari perbuatan itu. Keduaduanya berpotensi
untuk melakukannya. Ketika mengomentari hadis di atas, Ibnu Hajar al-„Asqalani
mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran menyampaikan nasihat kepada
wanita sebab nasihat dapat menghilangkan sifat tercela, sedangkan sedekah yang
dianjurkan kepada kaum wanita dapat menghindari azab dan menghapuskan dosa yang
terjadi di antara para makhluk. Dalam hal ini, penulis sependapat dengan apa
yang dijelaskan oleh Abdul Halim Abu Syuqqah di atas dan juga pendapat Ibnu
Hajar bahwa hadis tersebut tidak bersikap negatif terhadap kaum wanita. Bahkan
hakikatnya, Rasulullah Saw.
memberikan jalan keluar
bagi kelemahan wanita yang dapat menyebabkan mereka menjadi penghuni neraka.
Jalan keluar yang dimaksud adalah dengan memperbanyak sedekah, dan dalam
riwayat yang lain pula disebutkan supaya memperbanyak mengucapakan istighfâr.
di dalam hadis lain di jelaskan kembali bahwa maksud dari sedekah tersebut
adalah memperbanyak amal shaleh. Maka, dengan adanya solusi atas permasalahan
tersebut, maka kelemahan yang terdapat dalam diri wanita dapat diatasi dan
ditutupi. Sejatinya, setiap pribadi, baik perempuan maupun laki-laki,
masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan yang kesemuanya itu sebagai ujian
baginya. Dengan demikian, jelaslah bahwa maksud dari hadis di atas sebenarnya
bukan bertujuan merendahkan martabat wanita, akan tetapi menjelaskan tentang
jalan keluar atas kelemahan yang mereka miliki, sehingga pada hakkatnya hadis
tersebut menunjukkan bagaimana Islam memperhatikan dan memuliakan kaum
perempuan.
Kekurangan Kaum Perempuan
Kurang Akal (Nâqishaât
‘Aql) Jika diperhatikan hadis tersebut, kekurangan akal perempuan
diidentikkan dengan kesaksian kaum perempuan yang kekuatannya dinilai setengah
dibandingkan dengan kesaksian laki-laki “sahâdah al-mar‟ah mitsl
nishf syahâdah al-rajûl” (kesaksian perempuan sebanding dengan setengah
kesaksian laki-laki). Hadis ini sangat relevan dengan ayat al Qur‟an surat
al-Baqarah (2) ayat 282, yang berbicara
tentang perihal hutang piutang dan kesaksian.
Komentar
Posting Komentar