Nama
: Umi Azizaturrosyidah
Prodi
:
PAI-C
NIM
: 21086030051
Mata Kuliah : Tafsir dan Hadits
Tarbawi
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN MORAL DAN KARAKTER SISWA
Assalamu’alaikum
sahabat remaja dan para orang tua yang dimulyakan Allah swt. Dalam pekan
kemarin kita membahas tentang pergaulan remaja, dan di pekan ini kita membahas
tentang moral dan karakter, kitapun perlu tau bagaimana moral dan karakter
dalam perspektif pendidikan islam. Baik untuk remaja maupun orang tua. Agar
kita menjadi seorang remaja yang bisa menjadi contoh yang baik untuk re
generasi. Mari kita baca dan pelajari sekarang sobat.
Pendidikan Agama Islam (PAI)
merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Di antara peran
strategis PAI dalam sistem pendidikan nasional terletak pada fungsi pentingnya
dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, utamanya dalam mengembangkan manusia
Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur sebagai bagian esensial
dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Mengembangkan keimanan dan
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta pembentukan budi pekerti luhur
merupakan tugas dari pendidikan agama. Nabi Muhammad diutus ke dunia ini dalam
rangka untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Pendidikan agama Islam menurut
Muhaimin dan Mujib adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang
dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga dengan
mudah ia membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam. Pengertian ini mengacu
pada perkembangan kehidupan manusia masa depan, tanpa menghilangkan
prinsip-prinsip Islam yang diamanatkan Allah SWT kepada manusia sehingga
manusia mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya, seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Susan & Munir menyebutkan bahwa asal usul dari istilah
pendidikan Islam ini memiliki banyak arti, antara lain pendidikan Islam dapat
merujuk pada usaha yang dilakukan oleh masyarakat Islam untuk mendidik dirinya
guna menyampaikan warisan pengetahuan Islam melalui sumber utamanya yaitu
al-Qur’an dan al-Sunnah. Pendidikan dari umat Islam ini biasanya bertempat di
Masjid, sekolah, Perguruan Tinggi, dan lembaga-lembaga organisasi yang
didirikan oleh umat Islam. Secara garis besar ada empat tipe dari pendidikan
Islam, yaitu: pendidikan dari orang Islam di dalam keyakinan Islam mereka;
pendidikan untuk orang Islam yang memasukkan disiplin ilmu agama dan sekuler;
pendidikan tentang Islam bagi mereka yang bukan muslim; dan pendidikan di dalam
semangat dan traidisi Islam.
Pendidikan agama Islam sebagai suatu
usaha membentuk manusia seutuhnya, mempunyai landasan ke mana semua kegiatan
dan semua perumusan tujuan pendidikan itu dihubungkan. Zakiah Daradjat (1992:
19-20) mengatakan bahwa dasar pendidikan pendidikan Islam ada tiga, yaitu;
al-Qur’an, al-Sunnah, dan ijtihad. Mudawi juga menyebutkan bahwa sumber dari
pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah serta Ijtihad. Tentang dasar dari
pendidikan Islam ini kebanyakan ahli bersepakat bahwa dasar dari pendidikan
Islam adalah: al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad.
Secara umum, pendidikan agama Islam
bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan
peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman
dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Menurut Maimun & Ismail bahwa
pendidikan Islam itu menekankan pada konsep-konsep berikut: 1) pendidikan
seumur hidup. 2) pengembangan secara total potensi jiwa, pikiran dan tubuh
secara terintegrasi dan memadai dalam tiga aspek: kognitif, afektif dan
psikomotor. 3) kemampuan untuk melaksanakan tugas sebagai hamba Tuhan dan
sebagai Khalifah Allah di muka bumi dan melakukan amal shaleh untuk mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
Sedangkan menurut Mahmood dan Khan
bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai kedekatan kepada Tuhan dan
mencerahkan kesadaran manusia. Untuk itu, seorang siswa harus diarahkan pada
tujuh kualitas: 1) keimanan, 2) keyakinan pada diri sendiri, 3) kejujuran, 4)
kebenaran, 5) amanah (dapat dipercaya), 6) motivasi dan 7) kasih sayang. Dari
tujuan pendidikan agama Islam sebagaimana tersebut di atas, tersirat bahwa
penampilan moral harus dapat diwujudkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Istilah etika berasal dari bahasa
Yunani, Ethos dalam bentuk tunggal
yang berarti adat, dalam bentuk jamak adalah ta etha artinya adat kebiasaan. Sedangkan etika menurut Burhanuddin
Salam adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral
yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik
secara pribadi maupun sebagai kelompok Dengan demikian, etika adalah ilmu
tentang baik dan buruk, dan memiliki kmponen-komponen dasar, menjadi pedoman
bagi seseorang atau suatu kelompok dalam dalam mengatur tingkah laku, etika
juga kumpulan asas atau nilai moral.
Agama mempunyai hubungan erat dengan
moral. Dalam praktek sehari-hari, motivasi kita yang terpenting dan terkuat
bagi perilaku moral adalah agama. Atas pertanyaan “mengapa perbuatan ini atau
itu tidak boleh dilakukan”, hampir selalu diberikan jawaban spontan “karena
agama melarang” atau “karena hal itu bertentangan dengan kehendak Tuhan”.
Setiap agama mengandung suatu ajaran
moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Jika kita
membandingkan pelbagai agama, ajaran moralnya barangkali sedikit berbeda,
tetapi secara menyeluruh perbedaannya tidak terlalu besar. Boleh dibilang,
ajaran moral yang terkandung dalam suatu agama meliputi dua macam aturan.
Bentuk akhlak mulia di masyarakat
ini dapat dilakukan dengan cara; 1) menyayangi yang lemah, 2) menyanyangi anak
yatim, 3) suka menolong, 4) bersikap pemurah dan dermawan, 5) melakukan amar
ma’ruf nahi munkar, 6) mentaati ulama, 7) bersikap toleran, dan 8) sopan dalam
bepergian, dalam kendaraan, dalam
bertamu, dan menerima tamu, dalam bertetangga, dalam makan dan minum dan dalam
berpakaian.
Pada dasarnya pendidikan moral dan
karakter ini menurut Zamroni, berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai,
kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan sikap yang positif guna mewujudkan individu
yang dewasa dan bertanggung jawab. Jadi pendidikan karakter ini berkaitan
dengan pengembangan kemampuan pada diri anak didik untuk merumuskan ke mana
tujuan hidupnya, apa saja yang baik yang harus dilakukan dan apa yang jelek
yang harus dihindari. Oleh karena itu pendidikan karakter merupakan proses yang
berlangsung terus menerus tanpa henti.
Pendidikan Islam bertujuan untuk
mencapai kedekatan kepada Tuhan dan mencerahkan kesadaran manusia. Untuk itu,
seorang siswa harus diarahkan pada tujuh kualitas: 1) keimanan, 2) keyakinan
pada diri sendiri, 3) kejujuran, 4) kebenaran, 5) amanah (dapat dipercaya), 6)
motivasi dan 7) kasih sayang. Tujuan tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional, utamanya dalam mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kretaif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Wujud dari hasil pendidikan terbut bisa
dilihat dari penampilan moral siswa dalam kehidupan sehari-hari. Agar karakter
dan moral siswa itu bisa terbentuk, maka diperlukan strategi yang tepat
sehingga tujuan dari pendidikan agama Islam untuk mengembangkan nilai-nilai,
kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan sikap yang positif guna mewujudkan individu
yang dewasa dan bertanggung jawab bisa dicapai.
Inilah
sobat sedikit penjelasan tentang moral dan karakter, semoga kita bisa bergaul
dengan siapapun tanpa melupakan karakter dan
moral yang baik. dan bisa membawa teman-teman kita menjadi orang yang
lebih baik lagi.
Komentar
Posting Komentar