PORTOFOLIO MINGGU KE -2
Nama : FADLULLAH
Alamat : Jln Pamijen Desa
Sampih Kecamatan Susukan Lebak
E- Mail : fadlufadlo@gmail.com
Semester : 1( SATU) C
MATERI
Paradigma Berpikir Tafsir Hadis
Paradigmaataukerangkaberpikir, disebut juga mainstream, adalahbagiandarisistemberpikir yang sangatpentingdalam dunia pendidikan. Denganparadigmadiharapkandapatterciptasistem dan polapikir yang lebihmendekatikepola yang diharapkanataudiidealkan. selainituparadigma juga dapatdiartikansebagaimetodologi, pendekatan, ataubahkansecaraspesifikdapatdiartikansebagai media dalam tafsir tarbawi.
Tafsir tarbawiberasaldaridua kata, yang pertamayaitu tafsir, Tafsir menurutbahasamengikutiwazan “taf’il” yang artinyamenjelaskan, menyingkap dan menerangkanmakna-maknarasional. Kata kerjanyamengikutiwazan “dharaba – yadhribu” dan Nashara – Yanshuru”. Kata At-Tafsir mempunyai artimenjelaskan dan menyingkap yang tertutupataumenyingkapkanmaksud suatulafadz yang musykil. sedangkan kata Tarbiyahberasaldaribahasaarabyaitu: rabba-yurabbi-tarbiyah, yang berarti raja/penguasa, tuan, pengatur, penanggungjawab, pemberinikmat. Istilahtarbiyahdapatdiartikansebagaiproses penyampaianataupendampinganterhadapanak yang di empusehinggadapatmengantarkan masa kanak-kanaktersebutkearah yang lebihbaik. Jadidefinisi tafsir tarbawiadalahpengungkapanataupenjelasanayat-ayat al-Qur’an yang berkaitandengan proses ataucara yang dilakukan oleh pendidikuntukmengambangkanpengetahuan, ataupotensipesertadidikmelaluiberbagaimetode, sehinggamenyebabkanpotensi yang dimilikipesertadidiktersebutdapattumbuhdenganproduktif dan kreatif.
Dalammatakuliah pada program pascasarjana tafsir alquran juga disandingkandenganhadis, hadis juga dalampandangan imam syafiiberfungsisebagai bayan al-quran. oleh karenaituhadisadalahadalahbayanulquran, bayan artinyapenjelasanquran, tafsir hadisadalahtentangbagaimanakajianterhadapquranbaikberupahadismaupunberupahadistentangtarbawi.
Tafsir HaditsTarbawiadalahbagaimanakitamengkajisemuaupaya ulama terkaitdenganisu-isutarbawidengansumber al quran dan hadis, yang perlu di cermati tafsir tentangisutarbawiadalahisupendekatanbaru yang muncul pada abadke 20, berdasarkandarikesadarantarbawisebagaidisiplinilmu, tentuyadidahului oleh fiqih, kalam, tasawufmaupunfilsafat, dan tarbawimasihmelebur pada disiplin-disiplinilmutersebut, ketikakitakembali pada kajianawal tafsir merupakankajianbaru, ta’wilbahkanlebihdulukarenadalamalquranmenggunakanta’wil, oleh karenaitukajian tafsir adalahkajian yang bersifatgenuin.
Pada Abad I, II, III esensi tafsir masihmenggunakanistilahta’wil,karenamemangdisebutsepuluh kali di dalamquran, jadikalaukitakembali pada tafsir at-thabarimajma'ul bayan, makadalam kitab inijelas-jelasmenggunakanistilahta’wilbukanmenggunakan tafsir, pada perkembangannya ta’wildigunakan dan dianggapsebagaitrademarknyamu’tazilah, tafsir dominandigunakanselain oleh mu'tazilah, termasukahlussunnahwaljamaahmenggunakanistilah tafsir untukmenyebutkanpendekatanterhadapmetodepenjelasanquran, tafsir seringdidefinisikansebagaisemuailmuatauupayaintelektualuntukmemahami al quran, semuailmu-ilmuketikadigunakanmemahamiquranmakadikatakansebagaiilmu tafsir, kemudian tafsir menjadidisiplinilmu, yaituilmutentangupaya ulama untukmenjelaskanalquran, tafsir kemudianmeluas yang mengandungbeberapapendekatantermasukpendekatantarbawi.
Tafsir terbagimenjadidua, yaitucaramemahami dan juga perspektifatauideologi,kemudianjikamentafsirmelihatdarisumbernyamakadapatdibagimenjadiduayaitusumberbilma'tsur ( teks yang otoritatif) , ataubilma'qul (selainteksotoritatif, atausumberakal), tapi juga melihatkeluasan dan kependekanmembahasnyamentafsirdapatdibagilagimenjadiduayaituIjmali (enggadalam, contohnya tafsir jalalain) dan ithnabi ( dalamatau detail), ithnabidibagimenjadiduayaitubayani (tekstualdikupashabistanpaadapembanding) dan muqarin ( membandingkan), kemudianithnabikembalidibagimenjadiduayaitudengancaramaudhu'i ( tematik, ketikasusunannyadikumpulkanmenjadisatutema dan bukanmelihatdarisusunansurat) dan tahlili ( ketikapenjelasanayat dan hadistidakdikelompokanmenjadiduatema). berikutnyamentafsir juga memilikilatarbelakangataubeberapapendekatansepertipendekatanfiqih, kalam, tasawuf, filsafat, maupundisiplinilmulainnya. Menafsirkantentunyamemilikilatarbelakang, seperti tafsir denganpendekatanasyaari, mu’tazili,qodari, jabari, maupun yang lainnya.
Selain tafsir denganpendekatanklasik, dalamperkembangankontemporeradabeberapametodekajiankontemporer, sepertikajianmaqasidhi dan juga mubadalah yang dikarang oleh Dr. K. H. Faqiuddin, M.Ag. dariapa yang telahdisarankan oleh beberapa ulama kontemporer yang menjadiparadigmakajianbarudalam tafsir tarbawi yang memilikiperspektifsendiri, bisamengandungdisiplin-disiplinilmudalammenjelaskanparadigma tafsir tarbawi
Paradigma tafsir alquranmaupunhadiskontemporersepertimaqashidimaupunmubadalahsecaragarisbesardibagimenjadiduaparadigma, yaitu :
1. Sejauh mana quran dan
hadissebagaisumbernilaipendidikannilai yang
dimaksudadalah-nilai-nilaidalampendidikan,
contohnyatentangkarakteristikpendidik dan pesertadidik,kemudianrelasiantara
orang tua dan anak, tentangrelasi guru dan murid.
2.
Sejauh
mana quran dan hadissumberkonsep, konseptentanggradualitas,
dimanakonseppendidikanharuslahberjenjang, ataukonseptentang dialog
dalampendidikan, apakahmetode dialog ituefektifatautidak, dan
bagaimanaquranmaupunhadismembahastentangkonseptersebut.
Kemudiansecaraspesifik dan praktisdibagimenjaditiga, yaitu :
1. Isu, artinyaadalahsejauh mana quran dan
hadismembicarakanisupendidikan, contohnyapendidikan moral, siapa yang
bertanggungjawabdalampendidikan, siapa yang berhakmemanusiakanmanusia, apa yang
dimaksuddenganmanusiadalampendidikan,
bagaimanamenjadikanseoranganakmenjadilebihdewasa,
kekerasandalampendidikanataubahkanisu-isupendidikanlainnya
2. Metode, artinya dialog andragogi, metode
dialog dalampendidikan, metodebagaimanapengelolaanpendidikandalamquran,
maupunmetodepsikologidalampendidikan pada quran.
3. Perspektif, Perspektif yang
dimaksudadalahperspektiftarbiyah,
otomatissemuaayatdalamalquranmaupunhadisharusdilihat dan
dimunculkansisitarbiyahnya, contohnyapembahasanaliflaammiimdalamperspektif
tajwid yaitutentangbagaimanahukumbacaannya, kemudianaliflaammiimdalamperspektiffiqihkhususnyadalampembahasanshalat,
apakahaliflaammiim, termasukdalamsatuayat yang bisadibacadalamsholat,
ataubahkanaliflaammiimdalamperspektiftarbiyah, apakahaliflaammiim,
adatujuanpendidikannya, kalaukitabilangtidakada, makakitamenggunkanmetode dan
isutanpamenggunakanperspektif.
Komentar
Posting Komentar