Nama : Mohamad Imron
NIM : 21086030043
Ketakwaan menjadi bekal utama dan sangat berharga saat kita bertemu
dengan Allah swt kelak, dan orang yang paling bertakwa akan mendapatkan posisi
yang paling mulia di sisi Allah swt. Selain menguatkan ketakwaan, sudah menjadi
kewajiban kita untuk senantiasa mengungkapkan dan meningkatkan rasa syukur
kepada Allah swt yang telah memberikan karunia Iman dan Islam, serta berbagai
kenikmatan kehidupan lainnya di dunia ini. Kenikmatan yang kita syukuri ini
telah dijanjikan oleh Allah swt akan ditambah. Sebaliknya jika kita mengufuri
nikmat Allah, maka balasan berupa siksa pedih dari Allah akan kita terima.
Kemudian dengan mensyukuri nikmat iman dan Islam ini, tidak hanya akan
memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, namun juga akan memberikan
kemaslahatan bagi orang lain. Di antara buah dari keteguhan iman dan Islam
adalah terwujudnya kebaikan dan kemaslahatan bagi orang lain yang terwujud
dalam bentuk perdamaian di kehidupan masyarakat. Iman, Islam, dan perdamaian merupakan
satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Jika seseorang memiliki iman dan
Islam yang baik, maka bisa dipastikan kedamaian akan menghiasi dan menaungi
kehidupannya bersama masyarakat. Jamaah Jumat Rahimakumullah, Dilihat dari kata
‘Islam’ itu sendiri, para ulama memaknainya dengan arti perdamaian sehingga
Islam dan perdamaian adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama
lainnya. Orang akan tergolong mengingkari nilai keislaman itu sendiri jika
tidak mengedepankan perdamaian dengan sesama umat Islam dan juga seluruh
manusia pada umumnya. Allah swt berfirman dalam Surat Al-Bararah ayat 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ
كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُبِينٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”
Melalui
ayat ini, Allah mengingatkan kepada manusia untuk tidak setengah-setengah dalam
masuk ke dalam agama Islam. Allah mengingatkan untuk masuk pada agama Islam
dengan kaffah (menyeluruh) yang di dalamnya juga terkait bagaimana
mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam seperti perdamaian.
Dengan terwujudnya perdamaian dalam kehidupan, maka segala sektor kehidupan
akan dapat berjalan dengan baik seperti pembangunan dan termasuk juga
ketenangan dalam beribadah. Kita bisa merasakan sendiri bagaimana nikmatnya
beribadah di tengah-tengah perdamaian jauh dari konflik dan peperangan. Jika
saat ini kita berada dalam situasi perang, maka bisa dipastikan kita tidak bisa
beribadah dengan tenang seperti ini. Oleh karenanya nikmat perdamaian yang
merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam ini harus terus kita
pertahankan. Bukan hanya mendapatkan efek positif dalam kehidupan dunia,
perdamaian juga merupakan sebuah sikap yang memiliki nilai pahala. Rasulullah
sendiri menyebutkan bahwa ketika seseorang mampu mewujudkan perdamaian, maka
pahalanya akan bisa melebihi pahala shalat, zakat, dan sedekah. Sebagaimana
ditegaskan oleh Rasulullah saw melalui hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan At-Tirmizi:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ
بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَالصَّدَقَةِ؟ "
قَالُوا: بَلَى. قَالَ: " إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ. وَفَسَادُ ذَاتِ
الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
Artinya: “'Maukah jika aku kabarkan kepada kalian
sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah?'” Para sahabat
berkata, 'Tentu ya Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Mendamaikan orang yang sedang
berselisih. Rusaknya orang yang berselisih adalah pencukur (mencukur amal
kebaikan yang telah dikerjakan).'”
Dari
hadits ini kita bisa mengetahui bahwa Nabi Muhammad sangat mendorong kita untuk
mampu menjadi juru perdamaian. Hal ini selaras dengan misi nabi yang merupakan
penyempurna akhlāq al-karīmah. Orang yang mengedepankan perdamaian memiliki
akhlak yang baik dengan memberi tauladan untuk menebar kasih sayang dan
menghindari permusuhan. Baca Juga: Khutbah Idul Fitri: Mari Perkuat
Persaudaraan dan Perdamaian! Terlebih di negara kita ini yang telah ditakdirkan
oleh Allah swt menjadi sebuah bangsa yang penuh dengan keanekaragaman suku,
agama, budaya, dan adat istiadat. Prinsip perdamaian dalam perbedaan harus
terus kita pegang dan semai bersama. Bukan hanya saat ini saja, namun para
generasi penerus juga harus mampu meneruskannya. Bukan kepada sesama umat Islam
saja, namun kepada seluruh masyarakat yang ada dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Kita perlu mengingat firman Allah swt dalam Al-Qur’an surat
Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ
اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا
وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami
jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Komentar
Posting Komentar