Nama : Ariyanto
Prodi : PAI-C/ Pasca Sarjana IAIN SNJ Cirebon
MK :
Tafsir dan Hadis Tarbawi
Manajemen Cinta
Bila kita berbicara masalah cinta, tidak akan habis
waktu untuk membahasnya. Sayangnya bahasan cinta tidak jauh seputar masalah
antar makhluk. Padahal bahasan cinta itu begitu luas, segala hubungan baik
sesama makhluk maupun dengan sang pencipta dan juga segala kegiatan yang kita
lakukan.
Cinta memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia. Fenomena yang terjadi sehari-hari mengungkapkan bahwa cinta dapat
menjadi motivator aktivitas yang kita jalankan. Namun perlu juga kita sadari
bahwa cinta dapat juga merusak aktivitas kita.
Oleh
karena itu disadari atau tidak, cinta mempengaruhi kehidupan seseorang, baik
cinta kepada Allah maupun bukan kepada Allah. Cinta bukan kepada Allah sering
membawa kepada cinta buta yang tak terkendali sedangkan cinta kepada Allah akan
membawa kepada ketenangan dan kedamaian. Cinta kepada makhluk membawa
ketidakpastian, penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada Allah akan membawa
keyakinan dan keabadian.
Cinta yang bukan karena Allah biasanya didasari
oleh syahwat dan cinta kepada Allah didasari oleh iman. Syahwat akan
mengendalikan diri kita dan bahkan bila kita memperturutkan syahwat dapat
membahayakan kita. Oleh karena itu kita perlu mengetahui bagaimana mengelola
cinta agar bahagia dunia dan akhirat.
Cinta erat kaitannya dengan amal/aktivitas. Amal
tanpa cinta akan merusak amal yang dikerjakan, karena hanya akan menghasilkan
rutinitas dan penghayatan yang semu. Namun sebaliknya apabila amal berdasarkan
cinta akan menghasilkan amal saleh yang dihayati dengan mendalam. Ibadah kepada
Allah perlu didasari kecintaan. Dengan adanya cinta kepada Allah maka kita akan
rela dan ikhlas melaksanakan semua perintahnya bahkan rela berkorban jiwa dan
harta.
II.
Pembagian Cinta
1.
Sesuai syariat
Cinta seorang mu’min lahir dari ketulusan imannya
kepada Allah SWT. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mesti diiringi nilai Islam
yang benar. Kesalahan dalam mencintai Rasul akan membawa kepada taqlid yang
membabi buta dan menimbulkan figuritas yang berlebihan bahkan cenderung menjadi
tuhan baru.
Cinta berdasarkan syariat akan kekal, tidak saja
terjadi di dunia tetapi akan berlanjut sampai di akhirat. Kasih sayang sebagai
wujud dari cinta akan menghaluskan akhlaq dan melembutkan jiwa. Cinta yang
sesuai syariah akan mengarahkan manusia untuk menyayangi yang lemah dan
melindungi yang tua, mengajak kepada kebaikan dan menguatkan iman.
2.
Tidak sesuai syariat
Cinta yang tidak sesuai dengan syariat berdasarkan
atas keinginan syahwat. Cinta tanpa iman hanya memenuhi tuntutan syahwat semata
(hawa nafsu). Cinta seperti ini tidak kekal dan biasanya bersifat materi. Cinta
seperti ini hanya akan menyengsarakan manusia karena akan menggelincirkan
manusia pada kehinaan dan penyesalan.
Namun satu hal perlu yang kita perhatikan adalah
kecintaan pada syahwat (QS. Ali Imran (3) : 14) seperti wanita, anak, harta
benda, binatang, ladang dan lain-lain dibenarkan keberadaannya oleh Allah
karena kecintaan ini merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah agar cinta
ini dapat membawa kita pada ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat
yang perlu dilakukan ialah mengarahkan bahwa cinta ini perlu dikendalikan oleh
syariat bukan dibunuh/dihilangkan. Dengan panduan syariat kecintaan yang
bersifat syahwati akan menuntun pada kebahagiaan yang hakiki sedangkan tanpa
syariat kecintaan syahwati ini akan membawa kesesatan dan kesengsaraan.
III.
Tanda-tanda Cinta
1.
Banyak mengingat yang dicintainya, (QS. Al Anfal (8) : 2)
2.
Kagum
Kagum
muncul karena adanya suatu kelebihan yang dilihatnya, apakah bersikap subjektif
atau objektif. Kagum diawalai dengan mengenali sesuatu yang lebih dibandingkan
dengan yang lain. (QS. Al Hasyr (59) : 24)
3.
Ridha
Cinta
menimbulkan keridhaan kepada yang dicintai apapun yang diperintahkan atau
dilarang ia rela melakukannya. (QS. At Taubah (9) : 62)
4.
Tadhhiyah (siap berkorban)
Cinta
akan membuat kesiapan untuk berkorban demi kepentingan yang dicintainya. Ia
akan membela habis-habisan sebagai wujud dari cintanya. (QS. Al Baqarah (2) :
207)
5.
Takut
Ketakutan
yang muncul dari cinta adalah dalam bentuk harap dan cemas berharap agar yang
dicintainya ridho dan cemas bila yang dicintainya tidak ridho kepadanya. (QS.
Al Anbiya (21) : 90)
6.
Berharap
Cinta
menumbuhkan harapan kepada yang dicintainya. (QS. Al Ahzab (33) : 80)
7.
Taat
Bukti
dari cinta adalah mentaati kepada yang dicintainya. (QS. An Nisaa (4) : 80)
Setelah memahami tanda-tanda cinta tersebut,
diharapkan kita dapat membuat porsi-porsi yang tepat dalam mengelola cinta.
Cinta yang menempati urutan pertama dan utama adalah cinta kepada Allah, dengan
mencintai Allah kita akan mendapat berkah dan rahmat dari Allah karena Dialah
penguasa sejati kita, pencipta kita. Setelah itu mencintai apa yang dicintai
Allah yaitu Rasulullah SAW sebagai utusannya dan penerus risalah terakhir
kepada manusia, terutama sesama muslim karena Allah telah mempersaudarakan umat
muslim dimanapun mereka berada.
IV.
Kisah-kisah Cinta
1. Seorang sahabat bernama Jabir secara fisik kata
orang ia tidak ganteng dan secara ekonomi ia miskin. Ketika Rasul SAW
menawarkannya untuk menikah, dia menyatakan kesediaan meskipun semula dia tidak
yakin akan adanya orang tua yang akan menikahkan putrinya kepadanya. Dan
ternyata Rasul SAW mempertemukan dirinya dengan seorang wanita yang tak hanya
sholehah, tapi juga cantik dan keturunan bangsawan. Tapi beberapa hari sesudah
pernikahan, bahkan kata orang suasananya masih suasana pengantin baru, ketika
datang panggilan jihad, maka tak segan-segan dia mendaftarkan diri kepada Rasul
SAW untuk menjadi pasukan perang, lalu ia betul-betul berangkat ke medan jihad
hingga syahid.
2.
Kisah kaum Anshor menyambut muhajirin
Ketika Rasulullah telah berhijrah, beliau
mempersaudarakan antara kaum Muhajiri dan kaum Anshor, di rumah Anas bin Malik.
Mereka saling memberikan hak waris setelah kematiannya, sedangkan kaum
kerabatnya tidak menerima hak waris tersebut, hal ini berlaku sampai turun
surat Al Anfal ayat 75.
Selain itu Rasulullah SAW juga mempersaudarakan
Abdur Rahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar-Rabi. Sa’ad bin Ar-Rabi berkata kepada
Abdur Rahman : “Aku termasuk orang Anshor yang mempunyai banyak harta. Harta
itu akan kubagi dua, setengah untuk anda dan setengah untuk aku, aku mempunyai
dua orang isteri, lihatlah mana yang anda pandang paling menarik. Sebutkan
namanya, dia akan segera aku cerai. Setelah habis masa iddahnya Anda
kupersilahkan menikahinya. Abdur Rahman menjawab: “Semoga Allah memberkahi
keluarga dan kekayaan Anda. Tunjukkan saja kepadaku, dimanakah pasar kota
kalian?.
Kaum Anshor berkata kepada Nabi SAW, “Bagikanlah
pohon kurma di antara kami dan ikhwan kami”. Beliau berkata, “Tidak”. Kaum
Muhajirin berkata, “Kalian memenuhi kebutuhan kami dan kami ikut bekerja
bersama kalian dalam mengurus buah itu”, kaum Anshor berkata, “Kami dengar dan
taat”.
Hal
ini menunjukkan kepada kita bahwa kaum Anshor sangat ramah terhadap saudara
mereka, kaum Muhajirin. Sangat tampak sikap rela berkorban, mengutamakan orang
lain dan cinta kasih kaum Anshor. Sedangkan kaum Muhajirin sangat menghargai
keikhlasan budi kaum Anshor. Mereka tidak menggunakan hal itu segai kesempatan
untuk kepentingan yang bukan pada tempatnya. Mereka hanya mau menerima bantuan
dari kaum Anshor sesuai dengan jerih payah yang mereka curahkan di dalam suatu
pekerjaan.
Sungguh persaudaraan itu merupakan suatu kebijakan
yang unik dan tepat, serta dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi
oleh kaum muslimin.
V.
Hadits tentang Cinta
1.
“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah itu ada beberapa orang yang bukan
golongan nabi dan syuhada, namun para nabi dan syuhada menginginkan keadaan
seperti mereka, karena kedudukannya di sisi Allah. Sahabat bertanya, “Ya
Rasulullah tolong beritahu kami siapa mereka?” Rasulullah SAW menjawab : “mereka
adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak
saudara, kerabat diantara mereka serta tidak adak hubunga harta benda yang
terdapat pada mereka. Maka demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya,
sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut dan mereka tidak
berduka cita dikala orang lain berduka cita”. (HR. Abu Daud)
2.
“Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya yang muslim,
lalu ia memegang tangannnya (berjabatan tangan) gugurlah dosa-dosa keduanya
sebagaimana gugurnya daun dari pohon kering jika ditiup angin kencang. Sungguh
diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilaut”. (HR. Tabrani)
3.
“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman: “Dimanakah orang yang cinta
mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dihari yang
tiada naungan melainkan naungan-Ku”. (HR. Muslim)
4.
“Allah SWT berfirman: “Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta-
mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi
karena Aku”. (Hadits Qudsi)
5.
“Bahwa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus
malaikat untuk membuntutinya. Tatkala malaikat menemaninya, ia berkata: “Kau
mau kemana?” Ia menjawab: “Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini. “Lalu
malaikat bertanya: “Apakah kamu akan memberikan sesuatu kepada saudaramu?” Ia
menjawab: “Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah
SWT”. Malaikat berkata: “Sesungguhnya aku diutus Allah kepadamu, bahwa Allah mencintaimu
sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena-Nya”. (HR. Muslim)
6.
“Tiga perkara, barangsiapa memilikinya memilikinya, ia dapat merasakan manisnya
iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain
keduanya, cinta kepada seseorang kepada Allah dan membenci kekafiran
sebagaimana ia tidak mau dicampakkan ke dalam api neraka”. (HR. Bukharim
Muslim)
Referensi
:
1.
Riyadhu Asholihin, Imam Nawawi
2.
Shiroh Nabawiyah, Syaikh Syaffiyyur Rahman Al Mubarakfury
3.
Manajemen Cinta, Abdullah Nashih Ulwan
4.
Materi Tutoring, FK UPN “Veteran” Jakarta
5.
Materi Tutoring Agama Islam, SMUN 1 Bogor
6.
Materi Khutbah Jum’at, Khairu Ummah
7.
Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qoyyim al Jauziyah
Komentar
Posting Komentar