KEDUDUKAN ORANG YANG
BERILMU DALAM AL-QURAN
Nama :
Mohamad Imron
Kelas :
PAI C Senja Cirebon
Mata Kuliah :
Tafsir Hadist Tarbawi
Dalam
Islam, Belajar merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim, baik laki-laki
maupun perempuan. Ini telah dibuktikan melalui banyaknya ayat-ayat dan
hadist-hadist yang menunjukkan pentingnya belajar tidak dipandang dari usia,
keturunan, bahkan pangkat dan kejayaan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita
sebagai kaum Muslimin yang teguh berpegang kepada Al-Qur’an dan hadist untuk
tetap belajar dimanapun dan kapanpun kita berada. Al-Qur’an datang dengan membuka lebar-lebar
mata manusia, agar mereka menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di
pentas bumi ini. Juga, agar mereka tidak terlena dengan kehidupan ini, sehingga
mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya di mulai dengan kelahiran dan
berakhir dengan kematian. Al-Qur’an mengajak mereka berpikir tentang kekuasaan
Allah. Dan dengan berbagai argumentasi, kitab suci itu juga mengajak mereka
untuk membuktikan keharusan adanya Hari Kebangkitan, bahwa kebahagiaan mereka
pada hari itu akan ditentukan oleh persesuaian sikap hidup mereka dengan apa
yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha esa.
Konsep-
konsep yang dibawa Al-Qur’an selalu relevan dengan problem yang dihadapi
manusia, karena ia turun untuk berdialog dengan setiap umat yang ditemuinya,
sekaligus menawarkan pemecahan terhadap problem yang dihadapi, kapan dan
dimanapun mereka berada. Sejalan dengan itu, Al-Qur’an menjelaskan tentang
pentingnya tanggung jawab intelektual dalam melakukan berbagai kegiatan. Dalam
kaitan ini, Al-Qur’an menganjurkan manusia untuk belajar dalam arti
seluas-luasnya hingga akhir hayat, mengharuskan seseorang agar bekerja dengan
dukungan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Ilmu dalam
hal ini tentu saja tidak hanya berupa pengetahuan agama tetapi juga pengetahuan
yang relevan dengan tuntutan kemajuan zaman. Selain itu, ilmu tersebut juga
harus bermanfaat bagi kehidupan orang banyak disamping bagi kehidupan diri
pemilik ilmu itu sendiri. Dengan ilmu/pengetahuan yang bermanfaat maka dunia
akan tentram karena dijalankan dengan hukum yang berlaku, sedangkan pemiliknya
juga akan mendapatkan pahala yang terus mengalir walau telah meninggal dunia.
Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW :
إِذَا
مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim: 163)
Dari hadits diatas menjelaskan bahwa ilmu yang memberikan manfaat
bagi orang lain, maka pahalanya akan terus mengalir meski ia telah meninggal dunia sekalipun. Untuk mendapatkan ilmu tentulah
seseorang harus berusaha, salah satunya yaitu melalui dengan belajar hingga ia berilmu. Islam memberikan
perhatian sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Banyak ayat dan hadist yang memerintahkan
kaum muslimin untuk mencari ilmu. Dari sini tampaklah pentingnya ilmu
pengetahuan, itulah sebabnya Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany menegaskan,
tidak dapat seseorang membangun dirinya menjadi ahli atau pandai pada bidang
tertentu tanpa memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar teorinya. Selain itu,
ia juga tidak dapat membentuk sikap yang positif terhadap suatu pekerjaan atau
suatu hal tanpa pengetahuan tentang hal itu.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ
فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang
yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam
majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang
kamu kerjakan”
Ayat diatas tidak menyebut
secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat seorang berilmu. Tetapi
menegaskan bahwa mereka. memiliki derajat-derajat
yakni yang lebih tinggi dari yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata
meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah
yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat
dari faktor di luar ilmu itu.
Tentu saja, yang dimaksud اُوْتُوا
الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri
mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat diatas membagi kaum beriman kepada
dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh dan yang
kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok
kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang
disandangkanya, tetapi juga amal danpengajarannya kepada pihak lain, baik
secara lisan, atau tulisan, maupun dengan keteladanan.
Ayat diatas memberikan
pengertian bahwasannya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman
dan orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajat atau kemuliaan dalam
kehidupannya. Dengan kata lain, bahwa manusia mulia dihadapan Allah apabila
memiliki pengetahuan yang bisa dimiliki dengan jalan benar. Peranan ilmu dalam
Islam sangat penting sekali. Karena tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku
mukmim, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannya. Seorang
muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan dan ilmu yang
diperoleh seharusnya menambah dekatnya hubungan manusia dengan sang Khaliq.
Berdasarkan ayat diatas
dapat diketahui bahwa dalam menjalankan kehidupan yang penuh dengan
permasalahan yang beraneka ragam ini orang membutuhkan llmu Pengetahuan. Ilmu
pengetahuan yang dimiliki dapat dijadikan sebagai kunci bagi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi selain sebagai bekal dalam menjalankan
kehidupan di dunia. Ilmu pengetahuan juga dapat mengantarkan seseorang untuk
mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Dan Ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh
dengan melalui belajar.
Dalam konteks kedudukan
orang-orang yang berilmu, terdapat salah satu model pemecahan masalah yang
dapat digunakan dalam menganalisis kedudukan orang berilmu baik dimata Allah
maupun dimata manusia yakni membutuhkan suatu penafsiran. Bahwa penafsiran
Al-Qur’an merupakan pintu yang perlu dilalui dalam menyelami belantara isi
Al-Qur’an. Munculnya tafsir Al-Qur’an dilatarbelakanggi oleh realitas pemeluk
Islam yang memiliki kualitas pemahaman secara berbeda-beda terhadap susunan
redaksi dan pesan dikandung Al-Qur’an. Begitu pula sebagaimana mulia kedudukan
orang-orang berilmu berdasarkan firman Allah dan hadist, rupanya hal tersebut
tidak terlepas dari berbagai penafsiran para ulama.
Semoga kita semua di jadikan
menjadi insan yang selalu giat dalam menuntut ilmu dan bisa bermanfaat bagi
sesama, Aamiin.

Komentar
Posting Komentar