Langsung ke konten utama

Don't look at the outside, look at the inside


 Penulis : Agus Luthfi

Don't look at the outside, look at the inside

Selama hidup, Nabi Muhammad SAW banyak mengajarkan ajaran Islam termasuk kepada para sahabatnya. Salah seorang sahabatnya, Al Aqra bin Habis pernah mendapatkan pelajaran tentang khumul, yaitu  penampilan  yang tidak menonjolkan diri.

Kisah itu dijelaskan dalam Kitab Syarah Hikam yang berjudul Iqadzul Himam fi Syarhil Hikam karangan Al Imam Ibnu Ajibah Al Hasani yang diambil dari kutipan hadits. Kala itu, Rasulullah SAW sedang duduk bersama Aqra. Tiba-tiba lewatlah seorang anak lelaki Muslim yang miskin. Nabi berniat untuk menguji Aqra. Dia bertanya terkait pendapat Aqra terhadap orang tersebut. Lalu Aqra menjawab dengan tanggapan menarik. “Aqra menjawab, wahai Rasulullah, menurut saya orang itu miskin dan melarat. Jika dia berbicara tidak ada yang mendengarnya. Jika dia melamar perempuan, tidak ada yang menerima dan jika dia isti’dzan meminta sesuatu kepada seseorang, pasti tidak mendapatkan apa yang dia minta. Mendengar jawaban Aqra, Nabi terdiam,” Beberapa waktu kemudian, ada lagi seseorang yang lebih baik penampilannya lewat di hadapan Rasulullah dan Aqra. Kemudian, Nabi menanyakan lagi pendapat tentang orang tersebut. Aqra menjawab orang itu jika berbicara semua orang akan mendengarkan. Jika dia melamar perempuan diterima, dan jika isti’dzan akan dikabulkan.


Setelah mendengar dua jawaban dari Aqra, Nabi memberikan komentar. Orang yang disebut dia melarat atau miskin, adalah orang yang sangat luar biasa kebaikannya di sisi Allah. Jika orang itu bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkan sumpahnya. “Ibnu Ajibah juga mengomentari, ternyata kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya. Artinya dari cerita itu, agar kita tidak mudah memberikan penilaian kepada seseorang hanya dari penampilannya. Kan ada ungkapan don’t judge a book by its cover,” or
Don't look at the outside, look at the inside, Terpenting, adalah tanamkan selalu husnudzon kepada orang lain. Jika sudah suudzon, bisa menyebabkan kekeliruan yang nantinya akan membuat penyesalan. “Kita sudah berdosa jika melakukan suudzon. Generasi muda harus memahami, orang bisa berpenampilan apa saja. Pelajaran pentingnya adalah jangan mudah tergoda oleh penampilan,”. Begitupun kita sebagai Manusia yang dibekali ilmu dan piranti otak yang luar biasa hendaknya disalurkan dengan intuisi atau hati kita sehingga kita mampu membaca perubahan zaman. Jangan terkecoh dengan Indahnya cover seseorang atau hebatnya ilmu atau kayanya seseorang, begitu juga kita dalam menyoroti dan memotret serta menilai sebuah Tafsir Al-Quran.

Di dalam pelaksanaan pembelajaran mata kuliah Tafsir dan Hadits Tarbawi maka yang harus di lihat bukan cangkangnya atau kita harus mendalami isinya bukan dari pelengkapnya misalnya hal-hal yang menjadikan sebuah penafsiran itu terbentuk, namun. Yang harus diperdebatkan dan di bicarakan serta dipermasalahkan ialah isi dari sajian tafsir tersebut. Bagaimana seorang Mahasiswa seharusnya lebih Radikal di dalam menyoroti sebuah tafsir Al-Quran melalui metode atau cara serta alat yang digunakan di dalam membentuk penafsiran Al-Quran tersebut khususnya Tafsir dan Hadist Tarbawi sehingga menghasilkan kualitas tafsir yang mampu mencerahkan dan mendidik masyarakat ke arah yang lebih baik. Apalagi, mahasiswa Pascasarjana seharusnya sudah menguasi ilmu alat, ilmu bahasa, dan ilmu-ilmu yang lainnya di dalam menafsirkan sebuah ayat Al-Quran sehingga tidak ribut mempermasalahkan cangkangnya namun isinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Welcome To Campus Merdeka

Nama                  : Muhammad Faiz Amali NIM                    : 21086030046 Mata Kuliah    : Tafsir dan Hadis Tarbawi Pengampu           : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.A   Welcome To Campus Merdeka             Selama ini pada dasarnya sebuah kampus sendiri menerapkan sistem pembelajaran dengan SKS yang hampir keseluruhan mengharuskan adanya kegiatan belajar didalam kelas. Ini menunjukkan kurangnya kemerdekaan belajar yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa dalam melakukan pembelajarannya.   Apa itu Merdeka belajar?                       Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada  lembaga pendiikan, dan merdeka  dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit sert...

HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS

  Nama                           : Mohammad Syahru Assabana Prodi                            : PAI-C NIM                             : 210860300 44 Mata Kuliah               : Tafsir dan Hadits Tarbawi   HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS   Haid adalah darah yang dikeluarkan dari rahim apabila perempuan telah mencapai usia balig. Setiap bulan perempuan mengalami masa-masa haid dalam waktu tertentu. Jangka waktu haid minimal sehari semalam dan maksimal selama lima belas hari, namun umumnya adalah enam atau tu...

Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis

  Nama                    : Umi Azizaturrosyidah Prodi                     : PAI-C NIM                       : 21086030051 Mata Kuiah           : Tafsir dan Hadits Tarbawi      Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis Kewenangan dan hak pada perempuan dalam menentukan pilihan dan mengontrol tubuh, seksualitas, dan alat serta fungsi reproduksinya dapat dimulai dari adanya penelitian tentang hak reproduksi. Salah satu permasalahan yang dilekatkan pada perempuan adalah haid (menstruasi). Haid (menstruasi) merupakan siklus biologis-kodrati yang dialami perempuan dalam kelangsungan kesehatan reproduksi perempuan. Menstruasi sesungguhnya merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian pematangan seks, kesuburan, kesehatan tubuh, dan perubahan (p...