Don't
look at the outside, look at the inside
Selama hidup, Nabi Muhammad SAW banyak
mengajarkan ajaran Islam termasuk kepada para sahabatnya. Salah seorang
sahabatnya, Al Aqra bin Habis pernah mendapatkan pelajaran tentang khumul, yaitu penampilan yang tidak menonjolkan diri.
Kisah itu dijelaskan
dalam Kitab Syarah Hikam yang berjudul Iqadzul
Himam fi Syarhil Hikam karangan Al Imam Ibnu Ajibah Al Hasani yang diambil
dari kutipan hadits. Kala itu, Rasulullah SAW sedang duduk bersama Aqra.
Tiba-tiba lewatlah seorang anak lelaki Muslim yang miskin. Nabi berniat untuk
menguji Aqra. Dia bertanya terkait pendapat Aqra terhadap orang tersebut. Lalu
Aqra menjawab dengan tanggapan menarik. “Aqra menjawab, wahai Rasulullah, menurut saya orang
itu miskin dan melarat. Jika dia berbicara tidak ada yang mendengarnya. Jika
dia melamar perempuan, tidak ada yang menerima dan jika dia isti’dzan meminta
sesuatu kepada seseorang, pasti tidak mendapatkan apa yang dia minta. Mendengar
jawaban Aqra, Nabi terdiam,” Beberapa waktu kemudian, ada lagi seseorang yang
lebih baik penampilannya lewat di hadapan Rasulullah dan Aqra. Kemudian, Nabi menanyakan lagi pendapat tentang orang
tersebut. Aqra menjawab orang itu jika berbicara semua orang akan mendengarkan.
Jika dia melamar perempuan diterima, dan jika isti’dzan akan dikabulkan.
Setelah mendengar dua jawaban dari Aqra, Nabi
memberikan komentar. Orang yang disebut dia melarat atau miskin, adalah orang
yang sangat luar biasa kebaikannya di sisi Allah. Jika orang itu bersumpah atas
nama Allah, Allah akan mengabulkan sumpahnya. “Ibnu Ajibah juga mengomentari, ternyata kita tidak bisa menilai orang
dari penampilannya. Artinya dari cerita itu, agar kita tidak mudah memberikan
penilaian kepada seseorang hanya dari penampilannya. Kan ada ungkapan don’t
judge a book by its cover,” or Don't look at the outside, look at the inside, Terpenting,
adalah tanamkan selalu husnudzon kepada orang lain. Jika sudah suudzon, bisa
menyebabkan kekeliruan yang nantinya akan membuat penyesalan. “Kita sudah berdosa jika
melakukan suudzon. Generasi muda harus memahami, orang bisa berpenampilan apa
saja. Pelajaran pentingnya adalah jangan mudah tergoda oleh penampilan,”. Begitupun kita sebagai
Manusia yang dibekali ilmu dan piranti otak yang luar biasa hendaknya
disalurkan dengan intuisi atau hati kita sehingga kita mampu membaca perubahan
zaman. Jangan terkecoh dengan Indahnya cover seseorang atau hebatnya ilmu atau
kayanya seseorang, begitu juga kita dalam menyoroti dan memotret serta menilai
sebuah Tafsir Al-Quran.
Di
dalam pelaksanaan pembelajaran mata kuliah Tafsir dan Hadits Tarbawi maka yang
harus di lihat bukan cangkangnya atau kita harus mendalami isinya bukan dari
pelengkapnya misalnya hal-hal yang menjadikan sebuah penafsiran itu terbentuk,
namun. Yang harus diperdebatkan dan di bicarakan serta dipermasalahkan ialah
isi dari sajian tafsir tersebut. Bagaimana seorang Mahasiswa seharusnya lebih
Radikal di dalam menyoroti sebuah tafsir Al-Quran melalui metode atau cara
serta alat yang digunakan di dalam membentuk penafsiran Al-Quran tersebut
khususnya Tafsir dan Hadist Tarbawi sehingga menghasilkan kualitas tafsir yang
mampu mencerahkan dan mendidik masyarakat ke arah yang lebih baik. Apalagi,
mahasiswa Pascasarjana seharusnya sudah menguasi ilmu alat, ilmu bahasa, dan
ilmu-ilmu yang lainnya di dalam menafsirkan sebuah ayat Al-Quran sehingga tidak
ribut mempermasalahkan cangkangnya namun isinya.

Komentar
Posting Komentar