Langsung ke konten utama

Awali bulan Safar dengan Pendalaman Tafsir


 Penulis : Agus Luthfi

Awali bulan Safar dengan Pendalaman Tafsir

Safar adalah bulan kedua setelah Bulan Muharram di dalam penanggalan bulan dan Tahun Hijriah. Safar memiliki makna tersendiri dalam penanggalan Islam atau kalender hijriah. Safar bukanlah bulan kemalangan atau bulan sial untuk mengadakan pernikahan atau hajat besar lainnya. Arti dan keutamaannya akan dijabarkan berikut ini. Safar dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai ‘kosong’ yang mengacu pada era pra-Islam, ketika rumah kosong saat orang-orang keluar mengumpulkan makanan. Dahulu, sebagian besar bulan Islam diberi nama sesuai dengan cuaca saat itu. Safar juga dimaknai sebagai siulan angin. Karena kemungkinan kondisi saat itu berangin sepanjang tahun.

Dari laman berbagai sumber, bulan Safar adalah bulan istimewa karena terdapat keutamaaan di dalamnya. Antara Lain, Pertama, Memperkuat keimanan, Sama halnya dengan bulan-bulan lainnya, bulan safar menjadi bulan untuk memperbanyak amal perbuatan yang baik dan bermanfaat. Adapun kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial adalah keliru, karena segala sesuatu terjadi hanya atas izin Allah. Sebagaimana dalam firman Allah Surah Yunus ayat 107 yang artinya“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan (bahaya) kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan begi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. DIa memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambaNya dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang". Kedua, Yakin Mendapat Ketetapan Allah. Allah telah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 51 yang artinya: “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. DIalah pelindung kami dan hanya kepada Allah, orang-orang beriman harus bertawakal.’’ Ketiga, Menghindari Segala Hal yang Bertentangan, Ketauhidan dalam bulan Safar ini, kita diperingatkan untuk selalu percaya dan beriman kepada ketetapan Allah. Bahwa segala sesuatu yang dipercaya selain Allah, merupakan wujud menyekutukan Allah dan bertentangan dengan ketauhidan. Keempat, Meningkatkan Ketaqwaan dan Tawakkal kepada Allah dengan kesadaran bahwa segala hal yang menimpa adalah kehendak Allah, maka akan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Kita akan bertawakkal dan meningkatkan ibadah wajib dan sunnah dengan tujuan mendapat ridha Allah SWT.

Safar Bukan Bulan KemalanganTidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan perintah Allah,” (surat At Taghobun, ayat 11) “Tidak ada pertanda buruk di bulan Safar dan tidak ada roh jahat". (shahih Muslim, nomor 2222) Sehingga dari ayat dan hadist di atas dengan jelas menyangkal semua kepercayaan dan takhayul yang salah tentang bulan Safar. Kepercayaan salah tersebut sejak zaman pra-Islam Jahilliyyah. Demikian penjelasan tentang arti bulan safar dan keutamaan bulan safar yang perlu diketahui setiap muslim. Semoga bermanfaat bagi kita semua. (dari Artikel Yulia Kartika Dewi dalam Suarabekaci.id).

Dalam melakukan penafsiran terhadap al-Qur’an, seorang mufassir harus menguasai kaidah-kaidah Bahasa al-Qur’an, sehingga tafsiran yang dilakukannya tidak keluar dari konteks isi kandungan al-Qur’an untuk melakukan tafsiran secara benar, seorang mufassir harus menggunakan metode-metode atau pokok-pokok pegangan sebagai berikut, Pertama, Menghubungkan ayat dengan ayat. Hal ini dilakukan karena sering kali ayat itu bersifat ringkas pada suatu tempat, sedang keterangannya terdapat di tempat lain. Oleh karena ayat itu ditafsirkan dengan ayat. Kedua, Menghubungkan ayat dengan as-Sunah atau Hadits, Apabila mufasir tersebut tidak mendapati keterangan dalam ayat lain, maka ia hendaknya mencari As-Sunah atau hadits. Ketiga, Mengetahui Asbabun Nuzul ayat. Keempat. Melihat keterangan atau pendapat Para Shahabat. Apabila Mufasir tersebut tidak mendapati keterangan dalam As-Sunah, maka ia hendaknya mencari keterangan para sahabat ketrangan mereka itu lebih mengetahui maksud-maksd ayat yang di dengarnay dari nabi dan mereka pun menyaksikan sebab-sebab ayat itu turunkan. Kelima, Menguasai kaidah yang berlaku dalam bahasa Arab. Apabila mufasir tersebut tidak mendapat keterangan dari para sahabat, maka barulah ia menggunakan undang-undang bahasa Arab, atau menggunakan ijtihadnya.Bila kita hendak memahamkan Al-Qur’an, maka kita hendaknya menggunakan kitab tafsir yang mutabar serta kitab-kitab tafsir yang lain untuk mengetahui penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh ulama terhadap tafsir ayat yang dimaksud. Dalam melakukan penerjemahan terhadap suatu ayat, maka yang perlu diperhatikan tentang tafsir lafazh ayat, agar terjemahan tidak tidak meleset. Karena dalam menerjemahkan al-Qur’an, tidak cukup dengan hanya mengandalkan penguasaan Bahasa Arab saja atau hanya dengan memahami satu tafsir saja.

Selain beberapa metode penafsiran yang sudah dijelaskan di atas, seorang mufassir juga disyaratkan diantaranya ialah Pertama,  Mempunyai Aqidah yang benar. Aqidah memiliki pengaruh kuat bagi seorang mufassir. Apabila seorang mufasir beraqidah buruk, maka kemungkinan ia akan merubah nash-nash dan akan berkhianat dalam meriwayatkan yang ditafsirkannya, ia akan menjuruskan tafsirnya kepada madzhabnya yang tidak benar. Kedua, Tidak di pengaruihi oleh Hawa Nafsunya. Hawa nafsu kadang-kadang menjerumuskan para mufassir untuk membela madzhabnya. Kemudian mereka menipu manusia dengan perkataan-perkataan yang indah seperti yang dilakukan oleh Madzhab Qodariyah, Rafidlah, Mutazilah dan lain-lain. Ketiga, Mengetahui Ilmu Bahasa Arab dan cabang-cabangnya. Keempat, Mengetahui Ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan al-Qur’an. Kelima, Mendalamnya paham yang memungkinkan mufassir dalam mentarjihkan suatu makna atas makna yang lain, atau mengistibathkan makna yang sesuai dengan nash-nash syariah. Demikianlah harapannya di awal Bulan Safar ini kita termotivasi agar terus mendalami ilmu-ilmu Al-Quran khususnya Ilmu Tafsir Al-Quran.   

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Welcome To Campus Merdeka

Nama                  : Muhammad Faiz Amali NIM                    : 21086030046 Mata Kuliah    : Tafsir dan Hadis Tarbawi Pengampu           : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.A   Welcome To Campus Merdeka             Selama ini pada dasarnya sebuah kampus sendiri menerapkan sistem pembelajaran dengan SKS yang hampir keseluruhan mengharuskan adanya kegiatan belajar didalam kelas. Ini menunjukkan kurangnya kemerdekaan belajar yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa dalam melakukan pembelajarannya.   Apa itu Merdeka belajar?                       Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada  lembaga pendiikan, dan merdeka  dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit sert...

HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS

  Nama                           : Mohammad Syahru Assabana Prodi                            : PAI-C NIM                             : 210860300 44 Mata Kuliah               : Tafsir dan Hadits Tarbawi   HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS   Haid adalah darah yang dikeluarkan dari rahim apabila perempuan telah mencapai usia balig. Setiap bulan perempuan mengalami masa-masa haid dalam waktu tertentu. Jangka waktu haid minimal sehari semalam dan maksimal selama lima belas hari, namun umumnya adalah enam atau tu...

Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis

  Nama                    : Umi Azizaturrosyidah Prodi                     : PAI-C NIM                       : 21086030051 Mata Kuiah           : Tafsir dan Hadits Tarbawi      Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis Kewenangan dan hak pada perempuan dalam menentukan pilihan dan mengontrol tubuh, seksualitas, dan alat serta fungsi reproduksinya dapat dimulai dari adanya penelitian tentang hak reproduksi. Salah satu permasalahan yang dilekatkan pada perempuan adalah haid (menstruasi). Haid (menstruasi) merupakan siklus biologis-kodrati yang dialami perempuan dalam kelangsungan kesehatan reproduksi perempuan. Menstruasi sesungguhnya merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian pematangan seks, kesuburan, kesehatan tubuh, dan perubahan (p...