Tafsir dan Hadits Tarbawi
Nama
: Umi Azizaturrosyidah
Prodi : PAI-C
NIM
: 21086030051
Mata Kuliah :
Tafsir dan Hadits Tarbawi
Tafsir tarbawi berasal dari dua kata, yang pertama yaitu tafsir, Tafsir menurut bahasa mengikuti wazan “taf’il” yang artinya menjelaskan, menyingkap dan menerangkan makna-makna rasional. Kata kerjanya mengikuti wazan “dharaba – yadhribu” dan Nashara – Yanshuru”. Kata At-Tafsir mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup atau menyingkapkan maksud suatu lafadz yang musykil. sedangkan kata Tarbiyah berasal dari bahasa arab yaitu: rabba-yurabbi-tarbiyah, yang berarti raja/penguasa, tuan, pengatur, penanggung jawab, pemberi nikmat. Istilah tarbiyah dapat diartikan sebagai proses penyampaian atau pendampingan terhadap anak yang di empu sehingga dapat mengantarkan masa kanak-kanak tersebut kearah yang lebih baik. Jadi definisi tafsir tarbawi adalah pengungkapan atau penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan proses atau cara yang dilakukan oleh pendidik untuk mengambangkan pengetahuan, atau potensi peserta didik melalui berbagai metode, sehingga menyebabkan potensi yang dimiliki peserta didik tersebut dapat tumbuh dengan produktif dan kreatif.
Tafsir
Hadits Tarbawi adalah bagaimana kita mengkaji semua upaya ulama terkait dengan
isu-isu tarbawi dengan sumber al quran dan hadis, yang perlu di cermati tafsir
tentang isu tarbawi adalah isu pendekatan baru yang muncul pada abad ke 20,
berdasarkan dari kesadaran tarbawi sebagai disiplin ilmu, tentuya didahului
oleh fiqih, kalam, tasawuf maupun filsafat, dan tarbawi masih melebur pada
disiplin-disiplin ilmu tersebut, ketika kita kembali pada kajian awal
tafsir merupakan kajian baru, ta’wil bahkan lebih dulu karena dalam alquran
menggunakan ta’wil, oleh karena itu kajian tafsir adalah kajian yang bersifat
genuin. Pada Abad I, II, III esensi tafsir masih menggunakan
istilah ta’wil,karena memang disebut sepuluh kali di dalam quran, jadi kalau
kita kembali pada tafsir at-thabari majma'ul bayan, maka dalam kitab ini
jelas-jelas menggunakan istilah ta’wil bukan menggunakan tafsir, pada
perkembangannya ta’wil digunakan dan dianggap sebagai trademarknya
mu’tazilah, tafsir dominan digunakan selain oleh mu'tazilah, termasuk
ahlussunnah wal jamaah menggunakan istilah tafsir untuk menyebutkan upaya ulama
untuk menjelaskan alquran, tafsir kemudian meluas yang mengandung beberapa
pendekatan termasuk pendekatan tarbawi.
Adapun bentuk-bentuk tafsir Al-Qur'an yang dihasilkan secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga yaitu: Tafsir
bi al-Ma`tsur adalah tafsir
yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan
Al-Qur'an dengan Al-Qur'an. Tafsir
bi ar-Ra'yi adalah Dengan
bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu
qiraah, ilmu-ilmu Al-Qur'an, hadits dan
ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain seorang mufassir akan menggunakan
kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan
bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Tafsir Isyari adalah setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Dan Metodologi
Tafsir dibagi menjadi empat macam, yaitu metode
tahlili, metode ijmali, metode muqarin, dan metode maudlu’i.
Tafsir terbagi menjadi dua, yaitu cara memahami dan juga perspektif atau ideologi,kemudian jika mentafsir melihat dari sumbernya maka dapat dibagi menjadi dua yaitu sumber bil ma'tsur ( teks yang otoritatif) , atau bil ma'qul (selain teks otoritatif, atau sumber akal), tapi juga melihat keluasan dan kependekan membahasnya mentafsir dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu Ijmali (engga dalam, contohnya tafsir jalalain) dan ithnabi ( dalam atau detail), ithnabi dibagi menjadi dua yaitu bayani (tekstual dikupas habis tanpa ada pembanding) dan muqarin ( membandingkan), kemudian ithnabi kembali dibagi menjadi dua yaitu dengan cara maudhu'i ( tematik, ketika susunannya dikumpulkan menjadi satu tema dan bukan melihat dari susunan surat) dan tahlili ( ketika penjelasan ayat dan hadis tidak dikelompokan menjadi dua tema). berikutnya mentafsir juga memiliki latar belakang atau beberapa pendekatan seperti pendekatan fiqih, kalam, tasawuf, filsafat, maupun disiplin ilmu lainnya. Menafsirkan tentunya memiliki latar belakang, seperti tafsir dengan pendekatan asyaari, mu’tazili,qodari, jabari, maupun yang lainnya.
Selain
tafsir dengan pendekatan klasik, dalam perkembangan kontemporer ada beberapa
metode kajian kontemporer, seperti kajian maqasidhi dan juga. Paradigma tafsir
alquran maupun hadis kontemporer seperti maqashidi maupun mubadalah secara
garis besar dibagi menjadi dua paradigma, yaitu :
1.
Sejauh mana quran dan
hadis sebagai sumber nilai pendidikan nilai yang dimaksud adalah-nilai-nilai
dalam pendidikan, contohnya tentang karakteristik pendidik dan peserta
didik,kemudian relasi antara orang tua dan anak, tentang relasi guru dan murid.
2.
Sejauh mana quran dan
hadis sumber konsep, konsep tentang gradualitas, dimana konsep pendidikan
haruslah berjenjang, atau konsep tentang dialog dalam pendidikan, apakah metode
dialog itu efektif atau tidak, dan bagaimana quran maupun hadis membahas
tentang konsep tersebut.
Kemudian secara spesifik dan praktis dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.
Isu, artinya adalah
sejauh mana quran dan hadis membicarakan isu pendidikan, contohnya pendidikan
moral, siapa yang bertanggung jawab dalam pendidikan, siapa yang berhak
memanusiakan manusia, apa yang dimaksud dengan manusia dalam pendidikan,
bagaimana menjadikan seorang anak menjadi lebih dewasa, kekerasan dalam
pendidikan atau bahkan isu-isu pendidikan lainnya
2.
Metode, artinya dialog
andragogi, metode dialog dalam pendidikan, metode bagaimana pengelolaan
pendidikan dalam quran, maupun metode psikologi dalam pendidikan pada quran.
3.
Perspektif, Perspektif
yang dimaksud adalah perspektif tarbiyah, otomatis semua ayat dalam alquran
maupun hadis harus dilihat dan dimunculkan sisi tarbiyahnya, contohnya
pembahasan alif laam miim dalam perspektif tajwid yaitu tentang
bagaimana hukum bacaannya, kemudian alif laam miim dalam perspektif
fiqih khususnya dalam pembahasan shalat, apakah alif laam miim, termasuk
dalam satu ayat yang bisa dibaca dalam sholat, atau bahkan alif laam miim
dalam perspektif tarbiyah, apakah alif laam miim, ada tujuan
pendidikannya, kalau kita bilang tidak ada, maka kita menggunkan metode dan isu
tanpa menggunakan perspektif.

Komentar
Posting Komentar