Langsung ke konten utama

TAFSIR AL-QUR’AN TENTANG TEORI PENDIDIKAN ISLAM: Persepektif Pendidikan Islam Di Indonesia

 

 



TAFSIR AL-QUR’AN TENTANG TEORI PENDIDIKAN ISLAM:

Persepektif Pendidikan Islam Di Indonesia

 

 

1Muhammad Abduh

2Pasca sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

 

4Abstrak

 

5Al-Qur’an secara jelas memuat beberapa kalimat yang mengandung makna pendidikan, seperti darasa, rabb, ‘alima, dan faqiha.Manusia tentu membutuhkan segala pengetahuan sehingga dapat melaksanakan mandat Allah sebagai khalifah fi al-ardhsecara tepat. Manusia adalah makhluk yang efisien dalam menyampaikan gagasan- gagasannya kepada individu lain. Manusia juga memiliki bekal kecakapan yang memungkinkan dirinya untuk berpikir dan berpengetahuan. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menggunakan kemampuan berpikir tentang dirinya sendiri, tumbuh-tumbuhan, bumi, langit, hewan dan sebagainya, sehingga tujuan pendidikan Islam dapat tercapai yang meliputi pencapaian kesempurnaan manusia yang puncaknya adalah kedekatan kepada Allah Swt., dan perolehan kesempatan manusia yang puncaknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan di Indonesia sebenarnya telah banyak mengalami perubahan atau pembaharuan agar produk pendidikan tetap relevan dengan segala kebutuhan baik kebutuhan dunia kerja ataupun prasyarat pendidikan lanjut. Namun meskipun perkembangan pendidikan di Indonesia secara kuantitatif mengalami kemajuan, tetapi pemberdayaan masyarakat secara luas sebagai cermin dari keberhasilan itu, masih sulit terealisasi, karena sistem pendidikannya masih terkungkung


dalam paradigma-paradigma yang tunduk pada kekuasaan otoriter dan memperbodoh rakyat, terlebih ketika orde baru berkuasa.

6Kata kunci:Tafsir Al-Quran, Teori Pendidikan Islam

 

A.   Pendahuluan

1Islam  sebagai  agama  penyempurna  dari  agama-agama  yang telah diturunkan oleh Allah kepada umat-umat terdahulu memiliki arti bahwa Islam adalah agama terakhir. Oleh sebab itu pula sebagai agama yang sempurna tentunya Islam harus bersifat universal dan konprehensif, sesuai dengan setiap zaman dan setiap tempat dimana penganutnya berada.

2Masalah  pendidikan  adalah  masalah  hidup  dan  kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, manusia akan selalu memerlukan pendidikan agar ia mampu mempertahankan hidup atau dapat menjadikan kehidupannya lebih baik.


3 Al-Qur’an merupakan firman Allah yang dijadikan pedoman hidup (Way of Life) kaum Muslimin, tentu dan pasti memiliki kandungan ajaran-ajaran pokok menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kemudian ajaran-ajaran pokok itu dikembangkan sesuai dengan nalar masing-masing individu maupun kelompok bahkan oleh suatu bangsa untuk memecahkan problem kemanusiaan seperti masalah pendidikan.Bahkan al-Qur’an sendiri memberikan isyarat tentang pentingnya pendidikan, yang diindikasikan Allah melalui perintah-perintah untuk menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, fitrah manusia, juga melalui penggunaaan cerita untuk tujuan pendidikan dan memelihara keperluan sosial masyarakat.

4Jika   kita   menilik   realitas   masyarakat   Indonesia   sangat memprihatinkan. Masih banyak sekali masyarakat yang tidak terdidik baik formal maupun informal. Kemudian walaupun sebagian ada yang mengeyam pendidikan, namun mereka tetap saja seperti tidak berpendidikan seperti berperilaku anarkis atau premanisme, sehingga memunculkan asumsinya bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan kita? Jika ada yang salah, seperti apa sistem pendidikan kita? Apakah kita melupakan isyarat-isyarat al-Qur’an tentang pendidikan? Lalu seperti apa pendidikan di dalam al-Quran? Lalu apa tujuannya?

B.   Pembahasan

1.    Ragam Term Pendidikan dalam al-Qur’an

1Dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang secara jelas memuat

ّ

 
beberapa kalimat yang mengandung makna pendidikan, seperti darasa (رس د), rabb (رب), ‘alima (علم), dan faqiha (فقه). Kata darasa sendiri dapat ditemukan dalam QS. al-Ana>m: 105 dan QS. al-Qalam:37.

2Kata rabb yang menunjukkan makna al-Malik, as-Sayyid, dan al-Munim sebagai berikut: ar-Rabb: QS. Yu>suf: 41, 42, 50, dan 23. Rabb: QS. al-Fa>tih}ah: 2 dan al-Baqarah: 126. Rabba>: QS. al-Ana>m:

164. Rabbuka: QS. al-Baqarah: 21. Rabbukum: QS. al-Baqarah: 21. Rabbukuma: QS. al-Ara>f: 20. Rabbana>: al-Baqarah: 127. Rabbuhu: QS.  al-Baqarah:  37.  Rabbaha>:QS.  Ali  Imra>n:  37.  Rabbuhum:  QS. al-Baqarah: 5. Rabbuhuma>: QS. al-Ara>f: 22. Rabbi>: QS. al-Baqarah:

258. Arba>b: QS. Yu>suf: 39. Arbaba>: QS. Ali Imra>n: 64, 80, dan QS. at-Taubah: 31.


3Kata rabb yang menunjukkan makna ar-rabbah ( Jamaah atau kelompok) ar-rabbi: rabbiyyu>n sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imra>n: 146. Ar-rabba>ni (al-a>lim dan ar-ra>sikh dalam ilmu-ilmu agama  atau  jamaknya  rabbaniyyu>n)  di  antaranya:  ar-rabba>niyyun: QS. al-Ma>idah: 44 dan 63. Rabbaniyyi>n: QS. Ali Imra>n: 79. Ar-Raib atau anak dari suami yang terdahulu dan bentuk jamaknya raba>ib. Raba>ibukum: QS. an-Nisa>: 23.1

4Selanjutnya,  kata  ra-ba-wa  Raba>  yang  memiliki  makna

bertambah dan berkembang dan bentuk afal at-tafd}i>l arba>. Rabat: QS. al-H{ajj: 5. Yarbuwa: QS. ar-Ru>m: 39.  Ra>biya: QS. ar-Rad: 17. Ra>biyah: QS. al-Ha>qqah: 10. Arba>: QS. an-Nah}l: 92. Yurbi>: QS. al- Baqarah:  276.  Ar-Riba>:  QS.  al-Baqarah:  275.  Adapun  terma  yang digunakan al-Qur’an yang memiliki makna mendidik Rabbaya>ni: QS. al-Isra>’: 24. Riba>: QS. ar-Ru>m: 39.Sedangkan yang memiliki makna tempat yang tinggi, Rabwah: QS. al-Baqarah: 265 dan QS. al-Mukminu>n:50.2

5Kata   alima   di   mana   kata   al-ala>m   bermakna   al-jiba>l

(pegunungan)   ditunjukkan   dalam   QS.   asy-Syu>ra:   32.   Ala>mat (penunjuk   jalan),   terdapat   dalam   QS.   an-Nah}l:16.   Ilm   yang berbentuk mas}dar, al-afal, fail, mubalagah, afal at-tafd}i>l, dan mafu>l dari ilm dan alima, diantaranya ilmuha> QS. al-Ara>f:187. ilmuhum: QS. an-Naml: 66. Ilmi: QS. asy-Syuara>:112. Dari afal diantaranya alimta:QS. Hud:79. Alimat:QS. as}-S{affa>t:158. Alimtumuhunna: QS. al-Mumtahanah:10. Alimu>: QS. al-Baqarah:102. Fasatalamu>na: QS. T{a>ha: 135. Nalamu: QS. al-Baqarah: 143. Alim: QS. al-Ana>m: 73. Al- Alimun: QS. al-Ankabu>t:43. Alimin: QS. ar-Ru>m: 22. Alla>m: QS. al- Ma>idah: 102 dan 116. Al-malu>m: QS. al-H{ijr 38. Tuallimuhuna: QS. al-Maidah: 4. Nuallimahu: QS. Yusuf: 21. Yuallimuka: QS. Yu>suf:6.3

 

 

 


1 Hasan <Izzuddin bin <Abdul Fattah Ahmad Al-Jamal, Makhthutah al-Jamal: Mu>jam wa Tafsir Lughawy li Kalimat al-Qur>an, (Kairo: Al-Haiah al-Mashriyah al-

>Amah li al-Kutub, 2003-2008), juz. 2, hlm. 163-166.

2Hasan  <Izzuddin  bin  <Abdul  Fattah  Ahmad  Al-Jamal,  Makhthutah  al-J  - mal,.        , juz. 2, hlm. 169-171

3Ibid., juz. 3, hlm. 153-155.


6Kata faqiha dalam bentuk mud}ari’ s\ulas\i dantafaala. Yafqahu>: QS.  T{a>ha:28.  Yafqahuhu:  QS.  al-Ana>m:25.  Yatafaqqahu>:  QS.  at- Taubah:122.4

2.    Pengertian pendidikan

1Pendidikan merupakan istilah dari bahasa Inggris education

yang berasal dari bahasa Latin educare berarti memasukkan sesuatu, barangkali bermaksud memasukkan ilmu ke kepala seseorang.5Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.6

2Istilah pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai- nilai yang terdapat di dalam masyarakat dan bangsa.7 Sedangkan menurut Rokhimin dalam Tafsir Tarbawinyamendefinisikan pendidikan sebagai satu kegiatan manusia yang dilaksanakan untuk membantu sesama manusia agar mau dan mampu meraih harkat dan martabatnya sebagai manusia.8

3Menurut Muhammad Munir Marisy bahwa tarbiyyah berasal dari  kata  dasar  raba>-yurabbi>-tarbiyyatan  yang  berarti  tumbuh  dan bertambah. Begitu juga dengan pengertian yang dikemukakan oleh Ahmad Warson bahwa tarbiyyah berarti nama> wa za>da (tumbuh dan berkembang). Mendidik adalah mengembangkan potensi jasmani (badan), akal, dan akhlaq (budi pekerti). Sedangkan menurut Muhammad an-Naquib al-Attas,tarbiyyah pada dasarnya mengandung arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Namun menurutnya, pengertian tadi


4Ibid.,juz.3, hlm. 272-273.

5Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, ( Jakarta: Pustaka al-Hu - na, 1992), hlm. 4.

6Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 263.

7Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam: Men - gali Tradisi Meneguhkan Eksistensi, (Malang: UIN-Malang Press, 2007), hlm. 1.

8Rokhimin, Tafsir Tarbawi: Kajian Analisis dan Penerapan Ayat-Ayat Pe - didikan, (Yogyakarta: Penerbit Nusa Media, 2008), hlm. 7.


hanya mengacu pada gagasan “pemilikan” yang ada pada Allah Swt. yang kesemuanya terangkum dalam istilah tunggal ar-Rabb, seperti “pemilikan keturunan orang tua terhadap anak-anaknya untuk melaksanakan kewajiban tarbiyyah, yang sifatnya hanya menunjukkan jenis relasional saja. Sedangkan “pemilikan” sebenarnya hanya pada Allah Swt.9Beberapa contoh ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan tarbiyyah adalah:

5Wahai   Tuhanku,   kasihilah   mereka   berdua   (kedua   orang   tua), sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.” (QS. Al-

Isra>’: 24).

6

7Berkata Firau kepada Nabi Musa: Bukankan kami telah mengasuhmu di dalam keluarga kami, waktu kamu masih anak-kanak dan kamu

tinggal bersama beberapa tahun dari umurmu.” (QS. asy-Syuara>’: 18).

8Kata  rabbaya>ni  pada  ayatpertama  mempunyai  arti  rahmah

yakni ampunan atau kasih sayang. Hal ini mempunyai arti pemberian makanan dan kasih sayang, pakaian dan tempat berteguh dan perawatan. Sedangkan kata nurabbika pada: kedua berarti kami telah mengasuhmu walaupun pada kenyataannya Fir’aun melakukan tarbiyyah kepada Nabi Musa secara sederhana, yakni hanya membesarkannya tanpa mencakup penanaman pengetahuan dalam proses itu. Oleh karena itu, apabila pendidikan sekarang lebih menonjolkan pengetahuan dari pada kasih sayang, maka menurut Al- Attas, lebih tepat disebut tadi>b.10

9Penggunaan     istilah     pendidikan     sering     terbaurkan pengertiannya dengan pengajaran (tali>m) yang berasal dari kata (علم تعليما - يعلم -). Pengertian tali>m(pengajaran) sendiri adalah pemberian ilmu pengetahuan sehingga orang yang diajar menjadi berilmu pengetahuan.

10Jika    pendidikan    pada    masa    sekarang    dimaksudkan mengajarkan dan mengembangkan potensi jasmani (badan), akal,


9Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam...,


hlm. 2.


110Ibid., hlm 4.


dan akhlaq (budi pekerti) dengan penuh kasih sayang maka lebih tepatnya  menggunakan  istilah  tarbiyyah  wa  tali>m.  Karena  kedua istilah tersebut saling berkait-berkelindan, di mana tarbiyyah menekankan pada proses bimbingan agar anak/anak didik memiliki potensi  atau  sifat  dasar  (fit}rah)  dapat  tumbuh  berkembang  secara sempurna. Sedangkan tali>m sendiri menekankan pada penyampaian ilmu pengetahuan yang benar kepada anak/anak didik.

11Dengan demikian, pengertian pendidikan secara sederhana adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik dengan kasih penuh sayang terhadap pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang mulia.

3.    Manusia Sebagai Objek Pendidikan

1Manusia adalah inti dari pendidikan, oleh karenanya hanya

dengan pendidikan manusia dapat menggapai tujuan-tujuan tertentu. Seorang pendidik akan sangat terbantu dalam profesinya jika ia memahami dan memiliki gagasan yang jelas tentang fitrah dasar manusia sebagaimana halnya seorang pandai besi atau pun pelukis yang harus mengenal karakteristik material yang dihadapinya. Praktek-praktek pendidikan akan gagal kecuali dibangun atas konsep yang jelas mengenai fitrah manusia.

2Fitrah manusia ketika pertama kali diciptakan Allah Swt adalah untuk menjadi khalif> ah fi al-ard},sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 30, QS. an-Naml: 62, QS. S{a>d: 26, dan QS.Yu>nus: 14.

3

4Ingatlah    ketika    Tuhanmu    berfirman    kepada    para    Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

...5

6Dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi.”

7

8Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia


dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”

 

“Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.”

10Sebagai khalifah dibumi, manusia tentu membutuhkan segala pengetahuan sehingga dapat melaksanakan mandat Allah dengan benar. Hal itu terbukti ketika Allah Swt. mengajarkan tentang nama- nama (benda-benda) secara keseluruhan kepada Nabi Adam a.s. dalam QS. al-Baqarah: 31.

11

12Dan  Dia  mengajarkan  kepada  Adam  semua  nama-nama  (benda- benda).”

13Ilmu  sendiri  merupakan  peranti  dasar  bagi  manusia  dalam kehidupannya. Personalitasnya sangat dipengaruhi kualitas dan kuantitas ilmunya. Nilai penting ilmu diakui dalam seluruh definisi psikologis tentang intelegensi, bahkan definisi yang menekankan pada situasi baru. Definisi psikologis memandang intelegensi sebagai kemampuan mengatasi kesulitan dalam situasi baru yang mensyaratkan eksistensi ilmu yang relevan.11

14Salah satu istilah yang digunakan al-Quran bagi pengetahuan adalah kata ‘ilmun. Rosenthal menyebutkan frekuensi munculnya derivat kata ‘alima dalam al-Qur’an bukanlah suatu kebetulan dan kata ilmu sering disebut agar tidak ada seorang pun yang tidak memperhatikannya.12 Al-Qur’an sendiri juga sering dan banyak menyebutkan tentang kemuliaan orang-orang yang berilmu dan mencela orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu, kita bisa merasakan betapa besar desakan al-Qur’an tentang nilai penting pendidikan dan ilmu pengetahuan.

 


11Abdullah Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Qur’an serta Implementasinya, terj. Mutammam (Bandung: Penerbit CV. Diponegoro, 1991), , hlm. 110.

12Ibid.


15Tidak diragukan lagi superioritas ilmu Allah Swt. yang banyak kita temui dalam al-Qur’an. Namun, di samping itu pula Allah menunjukkan superioritas ilmu Nabi Adam a.s. ketika dihadapkan para malaikat yang meragukan kekhalifahannya. Dari sini dapat kita pahami bahwa ilmu adalah salah satu unsur manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi.

16Mengenai nama-nama yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Adam a.s. adalah tidak hanya spesies tertentu melainkan segala sesuatu yang ada. Hal ini dapat kita lihat dari hadis Nabi Saw. diriwayatkan

Imam al-Bَّ ukhaَriَ  dَ  ari Aَ nَas r.aَ . bahwa:                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

َ  َ                                                                              ْ


18Kamu  adalah  bapak  umat  manusia,  Allah  menciptakanmu  dengan

kekuasaannya, sujud kepadamu para malaikat, dan Ia mengajarimu nama-nama segala sesuatu.”13

19Selain Allah Swt. mengajarkan manusia yang direpresentasikan oleh Nabi Adam a.s. tentang al-asma>, Allah juga mengajari manusia tentang al-baya>n yang termaktub dalam QS. ar-Rah}ma>n: 1-4.

20(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.”

21Manusia adalah makhluk yang efisien dalam menyampaikan gagasan-gagasannya kepada individu lain, melalui ekspresi verbalnya. Ini pulalah yang membedakan manusia dari makhluk lain.14 Manusia dengan bekal kecakapan memungkinkan dirinya memberi nama terhadap segala sesuatu. Manusia juga mempunyai kemampuan untuk merumuskan konsep dan dari rumusan konsep itulah akan menelurkan dua faidah. Pertama ia akan memberikan fasilitas berpikir, sebab konsep itu memungkinkan manusia melakukan analisis dan sintesis apa yang dipikirkannya, sebagaimana halnya Allah


13Al-Bukhari, S}ah}i>h} Bukhari, (Kairo: Da>r T{auq an-Najah, 1422 H), hadis no. 4476, kitab Tafsir al-Qur>an, bab qaul al-Allah: Wa <Allama Adama al-Asma>, juz 6, hlm. 14.

14Abdullah Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan.............. ,

hlm. 132.


Swt. menyuruh manusia untuk menggunakan kemampuan berpikir tentang dirinya sendiri, tumbuh-tumbuhan, bumi, langit, hewan dan sebagainya.

1)       Tentang diri manusia sendiri

1Manusia merupakan ciptaan Allah Swt. yang paling istimewa,

bila dilihat dari sosok diri, serta beban dan tanggungjawab yang diamanat- kan kepadanya. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang perbuatannya mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan yang mampu menjadi sejarah. Firman Allah :

2

3Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.(QS. al-Ma>idah: 56)

4Di samping itu, ada nsur lain yang membuat dirinya dapat mengatasi pengaruh dunia sekitarnya serta problema dirinya. Islam berpandangan bahwa hakikat manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya orang lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua subtansi merupakan substansi alam. Sedang alam adalah makhluk. Maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt.15

5

6Dan   (juga)   pada   dirimu   sendiri,   maka   apakah   kamu   tiada memperhatikan.” (QS. az\-Z|a>riyat: 21)

2)       Tentang alam sekitar

1

2Maka  apakah  kamu  tidak  berjalan  di  muka  bumi,  lalu  mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena

 


15Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam ( Jakarta: Bumi Aksara,1995),

hlm. 92.


sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. al-H{aj: 46)

3)       Tentang tumbuh-tumbuhan

1

2Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. (QS. al- Wa>qiah:63)

4)       Tentang hewan-hewan

2Maka  apakah  mereka  tidak  memperhatikan  bagaimana  unta  itu diciptakan.” (QS. al-Ga>syiyah: 17)

5)       Tentang langit

2Dan bagaimana langit itu ditinggikan.” (QS. al-Ga>syiyah: 18)

6)       Tentang bumi

2Dan bagaimana bumi itu dihamparkan.” (QS. al-Ga>syiyah: 20)

3Faidah   kedua   adalah   memungkinkannya   manusia   ingat terhadap peristiwa-peristiwa lampau, di mana ia mencatat sejarahnya. Kemampuan membaca sejarah inlah yang kemudian manusia mempunyai kemampuan tertinggi pada aspek-aspek tertentu. Gagasan-gagasan manusia inilah yang hanya diterangkan dalam kemampuannya memberi nama-nama yang dilimpahkan kepada Nabi Adam a.s., di mana gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang dicapai tersebut tidak dapat dipisahkan dari peran sebagai khalifah.

4Kemampuan tertinggi tersebut dapat menciptakan kebudayaan yang nantinya akan diwariskan kepada generasi sesudahnya. Sebagai bentuk akibat dari manusia menggunakan akal pikirannya, perasaan dan ilmu pengetahuannya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt.

5   


Dan akan Kami jadikan mereka itu pemimpin dan penerima6

(waris.” (QS. al-Qas}as}: 5

7

Demikianlah telah Kami wariskan semua itu kepada kaum yang8

(lain.” (QS. ad-Dukha>n: 28

4.    Tujuan Pendidikan Islam

1Menurut  Imam  al-Ghazali,  tujuan  pendidikan  Islam  ada

dua. Pertama,kesempurnaan manusia yang puncaknya adalah dekat kepada Allah Swt. Kedua,kesempatan manusia yang puncaknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Kemudian menurut Muhammad Athiyyah al-Abrasyi, bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan  akhla>q  al-kari>mah.Para  ulama  dan  sarjana  Muslim dengan penuh perhatian berusaha menanamkan akhlak mulia yang  merupakan  fad}i>lah  dalam  jiwa  anak  didik  sehingga  mereka terbiasa berpegang pada moral yang tinggi dan terhindar dari hal- hal yang tercela dan berpikir secara rohaniyah dan jasmaniah serta menggunakan waktu untuk belajar segala ilmu yang bersifat duniawi maupun ukhrawi (keagamaan) tanpa memperhitungkan keuntungan materi.16 Menurut Nahlawy bahwa pendidikan Islam memiliki empat tujuan umum. Pertama,pendidikan akal dan persiapan pikiran, di mana Allah Swt. menyuruh manusia merenungkan kejadian langit dan bumi agar dapat beriman kepada-Nya. Kedua,menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak-kanak. Karena Islam adalah agama fitrah, di mana ajarannya tidak asing dari tabiat asal manusia. Ketiga,menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya baik laki-laki maupun perempuan. Keempat,berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi-potensi dan bakat-bakat manusia.17

2Dengan    demikian,    tujuan    pendidikan    Islam    secara keseluruhan adalah kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insa>n ka>mil dengan pola taqwa. Insa>n ka>mil ialah manusia yang utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara

 


 

hlm. 73.


16Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam...,

 

17Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisia Psikologi, Fi -


safat dan Pendidikan ( Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Husna, 1989), hlm. 61.


wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah Swt. Dengan begitu, pendidikan Islam mengharapkan terciptanya manusia yang berguna bagi dirinya, masyarakat, serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam, dalam berhubungan dengan Allah Swt. dan sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari semesta alam ini untuk kepentingan hidup di dunia dan akhirat.18 Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. an-Nah}l: 97 dan QS. al- Muja>dalah: 11.

3

4Barangsiapa  yang  mengerjakan  amal  saleh,  baik  laki-laki  maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang

telah mereka kerjakan.”  (QS. an-Nah}l: 97)

5Menurut  Muhammad  Sayyed  T}ant}awy,  kalimat  h}aya>tan  t} ayyibah adalah kehidupan dunia yang baik yang didapatkan seorang Mukmin hingga akhir hayatnya dan kehidupan akhirat yaitu kenikmatan surga.19  Sedangkan menurut Wahbah Zuhaily, h}aya>tan t} ayibah adalah mencakup segala bentuk kenyamanan, ketenangan dan kemakmuran. Seperti yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan bentuk rizki yang baik dan halal, kebahagiaan, perbuatan yang dipenuhi dengan ketaatan dan kenyamanan dalam ketaatan ataupun penuh dengan sifat menerima. Dan yang lebih benar adalah sebagaimana pendapat Ibnu Katsir bahwa h}aya>tan t}ayyibah mencakup keseluruhan semua itu.20

 

 

 

 

6


18Rokhimin, Tafsir Tarbawi..., hlm. 7.

19Muhammad  Sayyed  T{ant}awy,  At-Tafsi>r  al-Wasi>t}  li  al-Qur>an  al-Karim, (Kairo: Da>r An-Nahd}ah, 1997), jilid 8, hlm. 230-231.

20 Wahbah Zuhaily, At-Tafsi>r al-Muni>r fi al->Aqidah wa asy-Syari>ah wa al-Manhaj, (Damaskus: Da>r al-Fikr al-Mu>a>sir, 1418 H), jilid 14, hlm. 226- 228.


7Allah Swt akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah

Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Muja>dalah: 11)

8Sedangkan menurut Wahbah Zuhaily, ayatini mengindikasikan bahwa Allah Swt. akan mengangkat kedudukan orang Mukmin baik di dunia maupun di akhirat sesuai dengan kadar keilmuannya, khususnya kedudukan beberapa derajatkaramah (kemuliaan) yang tinggi di dunia dan pahala di akhirat bagi para ulama.21

5.    Metode Pendidikan dalam Al-Qur’an

1Membahas tentang metode pendidikan yang ditawarkan al-

Qur’an tentu tidak ada habisnya, terlebih dengan berbagai macam bentuk interpretasinya. Namun, di antara metode pendidikan dalam al-Quran adalah metode ams\a>l, yang mana tujuannya adalah menggugah manusia agar menggunakan akalnya secara jernih dan tepat.  Karena  ams\a>l  dalamal-Quran  merupakan  visualisasi  yang bersifat abstrak yang dituangkan dalam berbagai ragam kalimat dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa dan sebanding. Sehingga manusia bisa mengambil nilai-nilai pendidikan yang dapat ditarik untuk dijadikan sebagai acuan dan literatur dalam membina moral dan akhlak serta akidah.

2Ams\al   sendiri   memiliki   dimensi   hubungan   psikologi- edukatif yang ditunjukkan oleh keadaan makna dan ketinggian maksud yang ditampilkannya. Hal ini tampak jelas ketika ams\al al- Qur’an mengutarakan konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit, di mana interaksi indera manusia itu diberi peran yang menonjol. Cara ini mempunyai aplikasi langsung dalam pendidikan dan pengajaran, sehingga apapun yang ada di lingkungan sekitar (yang berhubungan dengan mas\al) akan membantu mempercepat proses pemahaman dan juga membina akal supaya terbiasa berpikir secara valid dan logis.22 Salah satu contohnya adalah QS. al-Baqarah: 17.

 

 

 

 

 

 


21 Wahbah Zuhaily, Al-Tafsir al-Munir..., jilid 28, hlm. 41.

22 Usman, Metafora al-Qur’an dalam Nilai-Nilai Pendidikan dan Pengaj - ran, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm. 1-3.


4Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[26], maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”

5Metode pendidikan dalam al-Quran selanjutnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh an-Nahlawy, adalah metode h}iwa>r (dialog), yang didefinisikan dengan percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai satu topik dan sengaja diarahkan kepada satu

tujuan yang dikehendaki. Adapun jenis-jenis hi> war>  diantaranya: h}iwar>

khit}abi/taabudi, yaitu dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dan hamba-Nya. H{iwa>r was}fi>,yaitu dialog yang diambil dari dialog antara Tuhan dengan malaikat atau makhluk gaib lainnya seperti dialog ahli surga dalam QS. as}-S{affa>t: 50-57. H{iwa>r qas}as}i, yaitu yang terdapat di al-Qur’an, baik bentuk maupun rangkaian ceritanya sangat jelas, merupakan bagian dari gaya bahasacerita dalam al-Qur’an. Jika seandainya terdapat kisah yang keseluruhannya merupakan dialog  langsung,  yang  sekarang  disebut  sandiwara,  h}iwa>r  ini  tidak dimaksudkan sandiwara seperti kisah Nabi Syu’aib a.s. dan kaumnya dalam QS. Hu>d. H{iwa>r jadali, di mana dialog ini bertujuan untuk memantapkan h}ujjah (alasan), seperti dalam QS. an-Najm: 1-5.23

6.    Pendidikan di Indonesia

1Mencermati   pendidikan   di   Indonesia,   sebenarnya   telah

banyak mengalami perubahan atau pembaharuan agar produk pendidikan kita tetap relevan dengan segala kebutuhan baik kebutuhan dunia kerja ataupun prasyarat pendidikan lanjut. Namun pendidikan nasional terperangkap di dalam sistem kehidupan yang operatif sehingga telah terkukung di dalam paradigma-paradigma yang tunduk pada kekuasaan otoriter dan memperbodoh rakyat, terlebih pada masa orde baru berkuasa. Memangkita akui bahwa perkembangan pendidikan di Indonesia secara kuantitatif mengalami kemajuan, namun pemberdayaan masyarakat secara luas sebagai cermin dari keberhasilan itu, tidak pernah terjadi. Karena di masa Orde Baru, setelah lima tahun pertama berkuasa, secara sistematik telah mempersiapkan skenario pemerintahan yang memiliki visi dan misi utama yaitu melestarikan kekuasaan.


23Triyo Supriyatno dan Muhammad Syamsul Ulum, Tarbiyah Qur’aniyah,

(Malang: UIN Malang Press, 2006), hlm. 99-102.


2Pada  masa  Orde  Baru  sistem  pendidikan  yang  diterapkan dalam pendidikan nasional kita memiliki ciri utama yang berjalan hingga sekarang, yaitu: Pertama,sistem yang kaku dan sentralistik, yaitu satu sistem pendidikan yang terperangkap di dalam kekuasaan otoritas pasti akan kaku sifatnya, karena ciri-ciri sentralisme yaitu birokrasi yang ketat telah mewarnai penyelenggraan sistem pendidikan nasional. Kedua,sistem pendidikannasional di dalam pelaksanaannya telah diracuni oleh unsur-unsur korupsi, kolusi, nepotisme dan koncoisme (cronyisme). Ketiga,sistem pendidikan tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, sehingga tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan rakyat telah sirna dan diganti dengan praktek-praktek memberatkan rakyat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Keempat,pada kenyataannya, sistem pendidikan kita sekarang ini belum mengantisipasi masa depan dan masyarakat madani.24

3Begitu juga halnya pendidikan Islam di Indonesia mengalami hal yang serupa di mana pendidikan Islam di Indonesia menghadapi berbagai persoalan dan kesenjangan dalam berbagai aspek yang lebih kompleks, yaitu: berupa persoalan dikotonomi pendidikan, kurikulum, tujuan, sumber daya, serta manajemen pendidikan Islam. Dengan kenyataan ini, sebenarnya sistem pendidikan Islam haruslah senantiasa mengorientasi diri untuk menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat kita sebagai konsekuensi logis perubahan.

4Pada   era   reformasi   sekarang   ini,   pendidikan   nasional ditekankan membangun manusia dan masyarakat madani Indonesia yang mempunyai identitas, berdasarkan budaya Indonesia. Maka, untuk mencapai cita-cita tersebut, pendidikan harus bertolak dari pengembangan manusia Indonesia yang harus berbudaya dan berperadaban, merdeka, bertakwa, bermoral, dan berakhlak, berpengetahuan dan berketerampilan, inovatif dan kompetitif, sehingga dapat berkarya secara profesional dalam kehidupan global menuju masyarakat madani Indonesia. Makna dari masyarakat madani di sini adalah suatu bentuk komunitas masyarakat yang memiliki kemandirian aktivitas warga masyarakatnya, yang


24Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, ( Yogyakarta: Safiria Insania Press,2003), hlm. 8.


berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama, dengan mewujudkan dan memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan, penegakan hukum, jaminan kesejahteraan, kebebasan, kemajemukan, dan perlindungan terhadap kaum minoritas.

C.   Simpulan

1Banyaknya    tema    tentang    pendidikan    di    al-Qur>an menunjukkan bahwa betapa pentingnya arti pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat, di mana berawal dari pendidikan seseorang bisa mencapai keinginannya dengan tidak mengesampingkan nilai- nilai moral dan sekaligus bisa mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha kuasa dan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

2Nilai-nilai moral ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS.  an-Nah}l:  97,  di  mana  al-Qur>an  menyerukan  untuk  berbuat. Dan ketika manusia mengutamakan nilai-nilai moral dalam berbagai kondisi, maka Allah Swt. akan memberikan balasan terbaik di dunia dan akhirat. Balasan di dunia seperti kehidupan yang layak di mana segala keperluannya dicukupi oleh-Nya bukan memberi kekayaan yang bersifat materi. Balasan di akhirat seperti dimasukkannya ke dalam surga dan kenikmatan yang agung yaitu bertatap muka dengan Allah Swt.

3Kemudian   dalam   QS.   al-Muja>dalah:11   juga   disinggung tentang orang-orang dalam menjalani kehidupannya selalu belajar atau menuntut ilmu, di manapun dan kapanpun, akan diberi derajat yang bertingkat-tingkat baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita cermati, makna derajat yang bertingkat-tingkat di dunia ini tentu akan kita temukan interpretasi yang beraneka ragam sesuai dengan teori interpretator ataupun pengalaman religius seseorang. Sehingga janji  Allah  tentang  «yarfa>illa>h»  dan  «ad-daraja>t»  benar-benar terasa nyata di dunia dan sudah pasti akan lebih terasa lagi ketika di akhirat kelak.

4Namun, jika melihat pendidikan dalam konteks keindonesiaan, kita merasa ada yang kurang dalam sistem pendidikan Indonesia. Seperi kita tahu dan merasa prihatin, banyak sekali tindak kekerasan terjadi tanpa terkecuali tawuran dikalangan para pelajar bahkan sekelas mahasiswa, maka menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia ini sedikit banyak sudah melupakan aspek keimanan dan


nilai-nilai moral yang ditanamkan kepada anak didik atau banyak institusi pendidikan yang gagal menerapkan kedua aspek tersebut, sehingga banyak menelurkan lulusan-lulusan atau sarjana-sarjana yang bermental anarkis.


5DAFTAR PUSTAKA

 

6Abdullah, Abdullah Rahman Shalih, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Qur’an serta Implementasinya, Bandung: Penerbit CV. Diponegoro, 1991.

7Bukhari al-, S{ah}i>h} al-Bukha>ri, Kairo: Da>r T{auq an-Naja>h, 1422 H.


8Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan,

Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1994.


Kamus Besar Bahasa


9Djumransjah dan Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam: Menggali Tradisi Meneguhkan Eksistensi, Malang: UIN-Malang Press, 2007.

10Jamal al-, Hasan Izzuddin ibn Abdul Fatta>h Ahmad, Makht}u>tah al- Jama>l: Mujam wa Tafsi>r Lugawi li Kalimat al-Quran, Kairo: Al-Haiah al-Mis}riyah al-Amah li al-Kutub, 2003-2008.

11Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisia Psikologi, Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Penerbit Pustaka al-Husna, 1989.

12-----------,  Asas-asas  Pendidikan  Islam,  Jakarta:  Pustaka  al-Husna, 1992.

13Rokhimin, Tafsir Tarbawi: Kajian Analisis dan Penerapan Ayat-Ayat Pendidikan, Yogyakarta: Penerbit Nusa Media, 2008.

14Sanaky,  Hujair  A.H.,  Paradigma  Pendidikan  Islam:  Membangun

Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press. 2003.

15Supriyatno,      Triyo     dan    Muhammad     Syamsul     Ulum,Tarbiyah Qur’aniyah, Malang: UIN Malang Press, 2006.

16T{ant}awi, Muhammad Sayyid, At-Tafsi>r al-Wasi>t} li al-Quran al-Kari>m, Kairo: Da>r An-Nahd}ah, 1997.

17Usman,   Metafora   al-Quran   dalam   Nilai-Nilai   Pendidikan   dan

Pengajaran, (Yogyakarta: Teras, 2010) .

18Zuhaili, Wahbah, At-Tafsi>r al-Muni>r fi al-Aqi>dah wa asy-Syariah wa al- Manhaj, Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1418 H.

19Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,1995.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Welcome To Campus Merdeka

Nama                  : Muhammad Faiz Amali NIM                    : 21086030046 Mata Kuliah    : Tafsir dan Hadis Tarbawi Pengampu           : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.A   Welcome To Campus Merdeka             Selama ini pada dasarnya sebuah kampus sendiri menerapkan sistem pembelajaran dengan SKS yang hampir keseluruhan mengharuskan adanya kegiatan belajar didalam kelas. Ini menunjukkan kurangnya kemerdekaan belajar yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa dalam melakukan pembelajarannya.   Apa itu Merdeka belajar?                       Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada  lembaga pendiikan, dan merdeka  dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit sert...

HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS

  Nama                           : Mohammad Syahru Assabana Prodi                            : PAI-C NIM                             : 210860300 44 Mata Kuliah               : Tafsir dan Hadits Tarbawi   HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS   Haid adalah darah yang dikeluarkan dari rahim apabila perempuan telah mencapai usia balig. Setiap bulan perempuan mengalami masa-masa haid dalam waktu tertentu. Jangka waktu haid minimal sehari semalam dan maksimal selama lima belas hari, namun umumnya adalah enam atau tu...

Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis

  Nama                    : Umi Azizaturrosyidah Prodi                     : PAI-C NIM                       : 21086030051 Mata Kuiah           : Tafsir dan Hadits Tarbawi      Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis Kewenangan dan hak pada perempuan dalam menentukan pilihan dan mengontrol tubuh, seksualitas, dan alat serta fungsi reproduksinya dapat dimulai dari adanya penelitian tentang hak reproduksi. Salah satu permasalahan yang dilekatkan pada perempuan adalah haid (menstruasi). Haid (menstruasi) merupakan siklus biologis-kodrati yang dialami perempuan dalam kelangsungan kesehatan reproduksi perempuan. Menstruasi sesungguhnya merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian pematangan seks, kesuburan, kesehatan tubuh, dan perubahan (p...