Prodi : PAI-C
NIM :
21086030044
Konsep Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh
bapak Nadiem Makarim (Mendikbud-Ristek) dengan tujuan agar peserta didik
bahagia dalam menempuh pendidikan, bahagia yang dimaksud adalah kebebasan untuk
mengakses ilmu. Sumber ilmu bukan sebatas pada ruang kelas, guru, tetapi bisa
di luar kelas, di media online atau internet, perpustakaan, dan juga di
lingkungan sekitar. Pendidik tidak lagi menjadi sumber utama dalam transformasi
pengetahuan.
Konsep Merdeka belajar ini pula yang diimplementasikan oleh Dr.K.H
Faqiudinn Abdul Qodir, M.A. (Kyai Faqih) dalam mengampu mata kuliah Tafsir dan
hadis tarbawi pada program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon,
Tentang selayang pandang beliau, Kyai Faqih
mengambil S1 double degree pada Fakultas Dakwah Abu Nur (1989-1995) dan
Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, Syiria (1990-1996). Guru Kang Faqih di
Damaskus Pendidikan S2 diraih dari Universitas Khortoum-Cabang Damaskus
kemudian pindah ke International Islamic University Malaysia
Fakultas Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences pada bidang
pengembangan fiqh zakat (1996-1999).Kemudian S3 di Indonesian Consortium for
Religious Studies (ICRS) UGM Yogyakarta, dan lulus tahun 2015.
Terkait merdeka belajar, Beliau menjelaskan
dalam ruang perkuliahan daring pada hari sabtu tanggal 4 September 2021
mulai pukul 14.40 – 16.45. dalam merefleksikan merdeka belajar mas Menteri,
terdapat kunci sukses dalam menempuh akademik di Pascasarjana IAIN Syekh
Nurjati Cirebon yaitu 3 P dan 4 K, Niat baik dan semangat saja tidak cukup
dalam proses pembelajaran, sehingga implementasi reflektif merdeka belajar dengan
konsep 3 P dan 4K yang dijadikan kunci oleh Kyai Faqih dalam penerapan merdeka
belajar, adapun pengertian dari 3P dan 4 K adalah :
1. Perencanan :
Perencanaan yang
sistematis yang baik dan terstruktur akan memberikan hasil yang baik dan
terstruktur pula. perencanaan secara umum merupakan suatu upaya dalam
menentukan berbagai hal yang hendak dicapai atau tujuan di masa depan dan juga
untuk menentukan beragam tahapan yang memang dibutuhkan demi mencapai
tujun, Allah Swt pun menyebutkan dalam beberapa ayat-Nya terkait
bagaimana kita semuanya manusia harus benar-benar merencanakan kehidupan sampai
kematian kita, salah satunya tercantum dalam surat al-hasyr ayat 18.
Perencanaan menjadi
pondasi awal sebelum melangkah ke langkah-langkah selanjutnya agar pelaksanaan
dalam proses memerdekakan belajar tersusun dengan rapih, sehingga maksud dan
tujuan dapat difahami oleh pendidik maupun peserta didik yang menjadi organ
vital dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
2. Prioritas :
Konsep prioritas
tentunya sangat relevan dalam kunci merdeka belajar, karena dengan skala
prioritas peserta didik maupun pendidik dapat menentukan perencanaan mana yang
akan dilaksanakan terlebih dahulu, skala prioritas menjadi tahapan lanjutan
dari perencanan, bahan analogi skala prioritas dapat dilihat dari konsep
syariat fiqih, contohnya dalam melaksanakan perkara wajib tentunya harus
diprioritaskan dari perkara sunah, analogi ini tentunya berlaku juga dalam
dunia pendidikan, khususnya dalam implementasi merdeka belajar, peserta didik harus
mampu memberikan prioritas yang sangat tinggi ketika proses transformasi
keilmuan, bukan malah memprioritaskan hal lain seperti membalas pesan yang
masuk atau bahkan bermain game ketika proses pembelajaran sedang dimulai.
prioritas juga berlaku
bagi pendidik, yang tentunya sebagian dari kami adalah pendidik dan juga calon
pendidik, dimana dituntut harus memiliki skala prioritas, contohnya pendidik
harus mampu memprioritaskan tanggung jawab sebagai peserta didik ketika proses
pembelajaran berlangsung, bukan malah mementingkan urusan pribadi.
3. Proaktif :
Mahasiswa tentunya sudah
berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi seorang maha dari siswa-siswa pada
umumnya, oleh karena itu mahasiswa dituntut untuk memiliki sikap pro aktif,
karena salah satu alasan untuk tidak aktif adalah tidak ada alasan itu sendiri,
tentunya mahasiswa sudah siap berlomba-lomba dalam kebaikan, menjadi penggerak
yang bisa menggerakan para penggerak, menjadi penggagas yang bisa memberikan
gagasan kepada para penggagas, dan juga memberikan semangat kepada para pemberi
semangat.
Sikap proaktif akan
sangat membantu untuk mewujudkan tujuan dari konsep merdeka belajar, karena
dengan aktif dalam proses pembelajaran peserta didik tentunya akan mampu
memberikan warna terhadap dunia pendidikan, dan tentunya akan memunculkan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat didiskusikan baik diskusi dalam diri sendiri
ataupun diskusi dalam proses transformasi keilmuan.
Dengan refleksi merdeka
belajar 3P tersebut, maka akan melahirkan sikap 4K yang harus dimiliki
oleh para pencari ilmu agar bisa mewujudkan cita-cita bangsa indonesia yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa adapun sikap 4K, yaitu :
1) Kritisme
Kritisisme merupakan
bagian dari filsafat modern. Secara garis besar kritisisme merupakan teori yang
dihasilkan dari sintesis antara rasionalisme dan empirisme. Aliran ini
berpendapat bahwa kebenaran itu perlu diuji sebab memiliki batasan-batasan
tersendiri antara rasionalisme dan empirisme. Sikap kritis adalah hasil
dari metamorfosis tahap awal dari sikap proaktif yang menjadi organ vital dalam
kosep merdeka belajar, menjadi kritis bukan berarti menjadi aktor antagonis
dalam proses pembelajaran, akan tetapi lebih kepada mendorong agar suasana
lebih aktif atau hasil yang lebih jauh adalah mendapatkan jawaban dari
kegelisahan hati tentang perspektif intuisi transformasi keilmuan.
Dogma seorang kritikus
adalah antagonis haruslah dihilangkan untuk mewujudkan konsep merdeka belajar,
merdeka belajar tentunya menjadi pelindung bagi para kritikus yang sejatinya
sudah langka ditemukan dalam proses pembelajaran daring khususnya, dimana
proses pembelajaran menjadi formalis untuk memenuhi jam belajar saja, tanpa
memperdulikan esensi dari pembelajaran itu sendiri.
2) Kreatif
Tidak
sedikit orang yang berpendapat bahwa kreatif itu lebih bernilai dibandingkan
cerdas. Opini tersebut dapat dipahami mengingat di zaman sekarang tantangan dan
problema kehidupan kian kompleks. Untuk mencari solusi orang perlu mencari ide
baru yang inovatif dan tanpa kreativitas yang tinggi hal ini sulit diwujudkan.
Tanah Air kita membutuhkan para teknokrat dan pemikir yang kreatif untuk
merespon perkembangan kehidupan yang kian cepat terkait dengan teknologi dan
ilmu pengetahuan. Inilah sebabnya lembaga pendidikan akan menjadi ujung tombak
dalam mencetak siswa-siwa yang kreatif.
Mereka yang kreatif
berpotensi lebih baik dalam mengembangkan daya nalar dan menemukan solusi dari
berbagai permasalahan pembelajaran. Jika dikembangkan potensi berpikir kreatif
akan membangun motivasi diri yang tinggi untuk hal-hal positif. Ini misalnya
kemauan yang kuat untuk belajar, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, serta
dapat mampu berpikir tinggi.
3) Komunikasi
Sekarang ini, bisa
dikatakan hampir semua informasi yang kita butuhkan bisa kita dapatkan melalui
internet. Dengan bermodalkan kata kunci yang ingin diketahui, kita hanya
tinggal mengetik kata kunci tersebut pada mesin pencari dan beberapa detik
kemudian kita bisa mendapat banyak alternatif situs/web/blog yang menyediakan
informasi tersebut. Hal tersebut juga berlaku untuk dunia pendidikan. Dengan
melakukan browsing kita bisa menemukan banyak informasi materi pelajaran
yang ada di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kenyataan ini membuat para
pelajar dapat mengetahui lebih awal mengenai materi bahan ajaran mereka sebelum
guru menerangkannya di sekolah.
Berdasarkan proses
transformasi informasi yang sangat mudah haruslah dibarengi dengan komunikasi
yang baik, komunikasi yang baik tentunya yang bersifat kolaboratif, dimana
dalam konsep merdeka belajar peserta didik haruslah diberikan ruang yang jauh
lebih luas untuk berkomunikasi dengan pendidik.
4) Kolaborisme
Komentar
Posting Komentar