Nama :
Mohamad Imron
Kelas : PAI C
Mata Kuliah : Tafsir Hadist Tarbawi
METODOLOGI TAFSIR
Alhamdulillah, pada
kesempatan ini kita masih di beri taufiq dan hidayah oleh Allah SWT, sehingga
kita semua masih bisa saling bersilaturahim. Sholawat dan salam tetap
tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, Semoga kita semua, keluarga kita
semua kelak di yaumil qiyamah mendapatkan Syafaat dari beliau, Aamiin.
Pada hari sabtu, 11 september
2021 pukul 14.40 – 16.10 adalah jadawal mata kuliah Tafsir hadist Tarbawi yang
di ampu oleh Bapak Dr. Faqqiudin Abdul Kodir, MA. Yang pada kesempatan ini
beliau menjelaskan tentang ‘’Metodologi Tafsir Hadist Tarbawi”. Dalam pertemuan
tesebut di jelaskan bahwa Pengertian metodologi adalah “pengkajian terhadap
langkah-langkah dalam menggunakan sebuah metode”, adapun Tafsir berasal dari
bahasa arab . fassara, yufassiru, tafsiron yang berarti penjelasan, pemahamn
dan perincian. Menurut pengertian terminologi, seperti dinukil Al-Hafizh
As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi, tafsir ialah ilmu untuk memahami kitab
Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, menjelaskan makna - maknanya,
menyimpulkan hikmah dan hukum-hukumnya
Abu Hayyan, seperti yang
ditulis Manna Al-Qaththan mendefinisikan
tafsir sebagai ilmu yang membahas
tentang cara pengucapan lafazh – lafazh al-Qur’an,
indikator-indikatornya , masalah hukum-hukumnya baik yang independen maupun
yang berkaitan dengan yang lain, serta tentang makna-maknanya yang berkaitan
dengan kondisi struktur lafazh yang
melengkapinya. Menurut Az-Zarkasi, Tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menerangkan
makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmah-hikmahnya.
Jelas sudah bahwa dalam
memahami atau mengartikan ayat-ayat Al-Quran harus mengetahui ilmu tafsir,
tidak boleh asal-asalan.
Menurut Abuddin Nata, dalam sejarah
tafsir al-Qur’an ada beberapa corak dan pendekatan yang digunakan para
mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an.
Ada yang menggunakan pendekatan kebahasaan, pendekatan Akhlak, Pendekatan Ilmu
balaghah, pendekatan filsaafat, pendekatan teologi, pendekatah hukum,
pendekatan sufi dan masih banyak lagi yang lainnya. Sedangkan dari segi metode
yang digunakan, dijumpai adanya penafsiran secara tahlili atau tajz’i, dan ada
yang bersifat tematik (maudhu’i).
Ada berbagai bentuk tafsir Al-Qur’an,
namun bentuk yang paling penting untuk dikenal ada dua, yaitu:
1. Tafsir bi Al-Ma’tsu
Dinamai
dengan nama ini (dari kata “atsar” yang berarti sunnah, hadits, jejak,
peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran, seorang mufasir menelusuri
jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya, hingga kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam. Tafsir bi Al-Ma’tsur adalah tafsir berdasar pada
kutipan-kutipan yang shahih, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an; Al
Qur’an dengan sunnah, karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah; dengan
perkataan sahabat, karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah;
dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in, karena mereka pada umumnya menerimanya
dari sahabat. Tafsir bi Al-Ma’tsur yang terkenal antara lain: tafsir Ibnu
Jarir, tafsir Abu Laits As Samarkandy, tafsir Ad Durul Mantsur fit Tafsir bil
Ma’tsur (karya Jalaluddin As Suyuthi), tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al Baghawy,
dan tafsir Baqy bin Makhlad.
2. Tafsir bi Ar-Ra’yi
Perkembangan
zaman menuntut pengembangan metode tafsir yang disebabkan tumbuhnya ilmu
pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah, maka ilmu tafsir membutuhkan peran
ijtihad yang lebih besar dibandingkan dengan tafsir bi Al-Matsur. Dengan
bantuan ilmu bahasa Arab, ilmu qira’ah, ilmu Al-Qur’an, ilmu hadits, ushul
fiqh, dan ilmu-ilmu lain, seorang mufassir akan menggunakan kemampuan
ijtihadnya untuk menjelaskan dan mengembangkan maksud ayat dengan bantuan
perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Namun, tidak semua hasil tafsir
yang mereka tulis bisa diterima karena merupakan hasil ijtihad yang berpeluang
untuk benar dan salah. Beberapa tafsir bi Ra’yi yang terkenal antara lain:
tafsir Al Fakhrur Razy, tafsir Abu Suud, tafsir Al-Khazin.
Dalam memahami, menjelaskan
isi kandungan Al-Quran tersebut ada macam-macam metodologi atau pendekatan yang
harus di kuasai, diantaranya:
1. Metode Tahlili (analitik)
Metode
tahlili adalah metode tafsir Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur’an dengan
mengurai berbagai sisinya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al Qur’an.
Metode ini merupakan metode yang paling tua dan sering digunakan. Tafsir ini
dilakukan secara berurutan ayat demi ayat, kemudian surat demi surat dari awal
hingga akhir sesuai dengan susunan Al Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan
lafazh, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan
ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat,
menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqh, dalil syar’i,
arti secara bahasa, norma-norma akhlak, dan lain sebagainya.
2. Metode Ijmali (global)
Metode
ini berusaha menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan
menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas
sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili, namun
memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar.
Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh
tiap lapisan dan tingkatan ilmu kaum muslimin.
3. Metode Muqarran
Tafsir
ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan
hadits, atau antara
pendapat-pendapat para ulama tafsir,
dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.
4. Metode Maudhui (tematik)
Metode ini adalah metode tafsir yang
berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an
yang mempunyai tujuan yang satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul
tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan
sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan
penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan
ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.
Semoga
apa yang sudah di jelaskan oleh Dr. Faqqiudin Abdul Kodir, MA bisa menjadikan
cakrawala keilmuan kita dan menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan kelak
sampai akhirat, Aamiin.

Komentar
Posting Komentar