Langsung ke konten utama

MERDEKA BELAJAR; METODE PEMBELAJARAN REALIS NATURALISME

 


MERDEKA BELAJAR; METODE PEMBELAJARAN REALIS NATURALISME

Oleh:

Dodi Kurniawan – NIM.21086030039

Catatan Renungan Diri

Selasa, 7 September 2021.

 

Berbicara tentang pendidikan maka berbicara tentang kehidupan manusia, dan sebaliknya, berbicara tentang kehidupan manusia maka berbicara pula tentang pendidikan. Keduanya adalah unsur senyawa yang tidak bisa dipisahkan, ibarat tumbuhan yang membutuhkan inangnya. Hakikat manusia memiliki sebuah potensi instingstif yang disebut dengan daya, cipta dan karsa. Ketiga potensi inilah yang harus dikembangkan, melalui pendidikan.

Manusia merupakan mahluk psikoanilisis, yaitu manusia memiliki prilaku psikologi yang harus diarahkan. Manusia merupakan mahluk Psikofisis mempunyai dua komponen kehidupan yaitu Jasmani dan Rohani yang selalu bertumbuh dan berkembang. Serta manusia merupakan mahluk humanistis yaitu cenderung mengarahkan pada hal lebih baik, dan mampu merubah nasib diri sendiri. Semua itu perlu adanya sebuah pendidikan. Pendidikan merubah pola pikir manusia serta memberikan ruh pada karakter masyarakat bangsa. Dimana ruh inilah yang akan mengantarkan baik buruknya sebuah bangsa.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, pendidikan perlu adanya sistem pendidikan yang bertujuan untuk mengatur, mengontrol, mengevaluasi dan memanajemen pola pendidikan agar lebih terarah dalam pembentukan karakter masyarakat Indonesia.

Dalam penerapannya, Sistem Pendidikan di Indonesia mengacu pada lima dasar negara (Pancasila), yang terbungkus dalam sebuah “kurikulum”. Kurikulum merupakan Sistem Pendidikan paling vital dalam pembentukan Karakter. Faktanya kurikulum menyesuaikan waktu atau kurikulum berlaku pada waktunya, contoh : pada tahun  1984, Kurikulum Konvensional (sistem pendidikan adaptasi jaman belanda) disempurnakan menjadi CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) pada tahun 1994, nyatanya banyak siswa pasif, selanjutnya pada tahun 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dengan fokus Life Skill (kerampilan untuk menghadapi setelah sekolah), sayangnya KBK 2004, berhenti ditengah jalan dan tidak ada kelanjutan dari kurikulum tersebut. Selanjutnya pada tahun 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan mengusung kemampuan peserta didik di tentukan oleh otonomi daerah masing-masing, berdampak pada siswa yang pintar tetap pintar, siswa yang bodoh tetap bodoh.Selanjutnya pada tahun 2013, munculah KURTILAS (Kurikulum Tiga Belas) dimana Kurikulum tersebut merupakan hasil penyempurnaan dari KBK dan KTSP. Dimana Sekolah dituntut agar dapat meluluskan 100% peserta didiknya, sehingga banyak siswa dan guru menggunakan segala cara agar siswanya dapat lulus 100%. Setelah dicanangkan KURTILAS pemerintah kembali membuat aturan baru dalam sistem pendidikan, yaitu KURTILAS REVISI, yang diterapkan pada tahun 2017, KURTILAS REVISI merupakan penambahan dan penyempurnaan KURTILAS. Pada masa pandemi seorang guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menghadapi pembelajaran sehingga muncullah Kurikulum 2013 versi Pandemi Covid-19.

Dalam mewujudkan tujuannya pada pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Sekolah merupakan garda utama pembentuk karakter bangsa. Bak ibarat jika pendidik adalah orang ahli besi, siswa adalah besi yang akan dibuat menjadi pedang yang tajam, kurikulum sebagai metode pembuatan pedang tersebut, maka sekolah adalah tungku api, yang mempengaruhi perubahan tersebut. Sistem pendidikan yang tertuang dalam lembar halaman kurikulum tidak akan pernah berfungsi dengan baik tanpa kualitas dari unsur pendidikan. Namun permasalahannya adalah sistem pendidikan Indonesia yang tidak pernah berubah dan monoton seperti itu saja berdampak pada pola pikir manusia yang stagman.

Dunia pendidikan di Indonesia menggunakan teknik teater Realis Naturalisme, dalam kaitanya; mereka selalu menggunakan “seolah-olah”. Realisme merupakan gaya pementasan yang menampilkan penggal nyata kehidupan sehingga “seolah-olah” yang terjadi dipanggung adalah kehidupan nyata. Sedangkan Naturalisme merupakan gaya realisme yang menghendaki sajian pertunjukan harus mirip dengan kenyataan. Fakta dilapangan, penerapan sistem pendidikan ini, dari SD hingga SLTA menggunakan 70% teori dan 30% praktik dengan konsep “seolah-olah”.

Lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, merupakan garda terdepan dalam mencetak generasi unggul, maka perlu sekolah harus menerapkan 4 pilar pendidikan (learning to know, learning to do, learning to life together, dan learning to be) dalam sistem pendidikan.

Dalam mewujudkan generasi emas berhati cahaya, maka perlu adanya sebuah pembaharuan sistem pendidikan pada metode pembelajaran, yaitu dengan menerapkan:

1.                  Upgrade to upgrade 4 unsur pendidikan

Unsur pendidikan (siswa, guru, kurikulum, dan lembaga pendidikan), merupakan unsur yang harus ada dalam sebuah pendidikan, tanpa keempat unsur ini, sebuah pendidikan tidak dapat terlaksana, begitupun dengan sistem pendidikan. Sistem pendidikan tergantung pada kualitas 4 unsur tersebut. Contoh : dalam penerapan sistem pendidikan, kurikulum menyebutkan siswa mampu mandiri, siswa dituntut untuk mandiri, guru mengajarkan apa itu arti dari mandiri, dan sekolah menerapkan siswa hidup mandiri setiap hari disekolah tanpa didampingi oleh wali murid. Sistem ini dapat terlaksana jika semua kualitas empat unsur tersebut terpenuhi (Simbiosis Mutualisme).

2.                  Aktualisasi penerapan Teknologi pada Metode Pembelajaran

Pandemi ini, kehidupan manusia dipengaruhi oleh teknologi maju, bahkan manusia sudah tergantung pada teknologi. Maka dalam hal ini, perlu sekali penerapan teknologi pada sebuah pendidikan. Contoh : penerapan Aplikasi pada metode pembelajaran dalam kelas daring. Penggunaan video edukasi dapat di realisasikan untuk lebih menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Tugas pada jenjang SMP/MTs harus mampu menggunakan email, dan internesasi. Terlebih, pada masa pandemi ini aplikasi pembelajaran mempengaruhi pola interaksi belajar siswa, mulai dari belajar online, dimana setiap malam siswa dapat belajar di dalam kamar dengan memilih mata pelajaran dan guru mapel untuk tambahan pelajaran. Dengan seperti ini, siswa dapat belajar dalam keterbatasan.

3.                  Penerapan Metode Pembelajaran Realis Naturalisme. (konsep nyata yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari)

Kebanyakan dari lembaga pendidikan, untuk memenuhi tugas mereka pada kurikulum, mereka mengajari peserta didik dengan cara seolah-olah, tanpa adanya media untuk visualisasikandan diamati. Contoh : dalam kelas V SD, mapel IPS, ada sebuah pelajaran tentang suku bangsa indonesia, dimana siswa dituntut untuk kenal dengan suku-suku tersebut. Namun faktanya, guru hanya memberikan seolah-olah guru tersebut tahu suku bangsa tersebut, baik dari pakaian adat, senjata, bahkan kebiasaan adat mereka. Seandainya seorang guru sedikit kreatif, dapat merealisasikan dengan membuat media pembelajaran baik berupa multimedia, gambar dan aplikasi khusus agar pembelajaran lebih menarik. Demikian merupakan salah satu bentuk metode pembelajaran realisme yang dituntut naturalisme. Stop “seolah-olah”, go “realis”.

4.                  Dicipline Teory

Disiplin merupakan karakter baja bagi setiap insan manusia, artinya  mereka yang berdisiplin tinggi maka kualitas diri mereka pun tinggi, loyalitas dalam diri sangat tinggi. Maka perlu dalam sistem pendidikan untuk menerapkan disiplin pada sebuah sistem pendidikan di lembaga pendidikan, baik dari guru, siswa, kurikulum maupun lingkungan lembaga pendidikan.

Disiplin mencerminkan jiwa pemimpin, bayangkan jika setiap masyarakat Indonesia dapat disiplin, mungkin tidak ada istilah jam karet. Maka dari itu perlulah sistem pendidikan di Indonesia Menerapkan disiplin teory.Bukan sebatas menerapkan teori melainkan praktik dalam kehidupan sehari-hari.Kekuatan disiplin itu luar biasa.

Metode untuk melaksanakan itu semua pada jenjang SD/MI adalah dengan mempraktekan secara disiplin pendidikan karakter tersebut , seperti :

a)      Senin         : Penerapan pendidikan karakter Patriotisme dengan melaksanakan kegiatan upacara Bendera.

b)      Selasa        : Penerapan pendidikan karakter Nasionalisme, dengan menyanyikan lagu-lagu wajib dalam kelas masing-masing.

c)      Rabu          : Penerapan pendidikan karakter cinta tanah air dengan menyanyikan lagu dari sabang sampai merauke.

d)     Kamis        : Penerapan pendidikan karakter beragama,dengan membaca surat-surat pendek Al-Qur’an, surat Yaasin, do’a harian, nalaran 25 nabi dan Rosul serta mukjizatnya, nama-nama malaikat berikut tugasnya,membaca Asmaul Husnabagi yang muslim, sedangkan yang non muslim dapat membaca do’a-do’a harian agama Kristen, menyanyikan lagu gereja, atau bagi agama Hindu dan Budha dapat pula menerapkan pembacaan wajib di pagi hari sebelum KBM dimulai dengan melafalkan Tri Ratna (ucapan kata budha, Dharma dan Sangha), atau mengucapkan bait-bait puja Tri Sandya dan panca Yadya,serta menerapkan sikap anjali kepada sesama, guru dan orang tua, bagi pemeluk agama Protestan, melafalkan Lukas 10 : 27 (hukum kasih) dan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

e)      Jum’at       : Penerapan pendidikan karakter kesehatan jasmani dan rohani denganmelakukan senam pagi bersama.

f)       Sabtu         : Penerapan Pendidikan karakter bahasa internasional dengan membacadan menerapkan bahasa inggris pada kegiatan KBM.

Dalam pembelajaran online nilai disiplin dapat diterapkan melalui kreatifitas dan inovasi pendidik dalam pembelajaran. Sedangkan metode penerapan kedisiplinan pada jenjang SMP/MTS sama seperti halnya pada jenjang sekolah Dasar, namun penerapan mental budi pekerti dan agama harus lebih diutamakan. Misal penerapan karakter budi pekerti dan karaktermental agama, yaitu pembacaan juz amma, sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, hafalan surat-surat pendek sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir semester (bagi yang muslim). Pemeluk agama Protestan dapat menerapkan nyanyian-nyanyian gereja seelum KBM dimulai, serta penerapan ajaran kasih yang tertuang dalam Lukas 10 : 27 dan Matius 22 : 37 – 40, agama Hindu, dapat pula menerapakn ajaran Taiwamsi, di lingkungan lembaga pendidikan, sedangkan untuk Budha, dapat menyanyikan dan menerapkan lagu Pancasila Budhis, menerapkan dana paramitha (kemurahan hati untuk sesama), menerapkan ajaran Tri Hita Karana dilingkungan pendidikan maupun di lingkungan masyarakat, Tri Hita Karana, merupakan ajaran budha, yang menghubungkan tiga hubungan manusia dalam kehidupan didunia, seperti hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan tuhannya yang saling bersangkutan, serta siswa agama budha harus dapat menerapkan kasih sayang rwa bhineda pada perbedaan agama yang ada, agar terjalin sebuah keseimbangan dan keharmonisan alam semesta, berkehidupan bangsa dan Negara yang berbhinneka tunggal ika. Lintas agama dituntut dalam sebuah pendidikan agar dapat disiplin diri mulai dari hal kecil hingga besar.

Metode jenjang SMA/MA/SMK dalam pembentukan karakter lebih pada keahlian individu pelaku pendidikan yaitu dengan sistem pendidikan yang melahirkan soft skill, mental kuat, dan kepribadian luhur. Artinya Soft skill, mental dan spiritual harus seimbang dalam penerapannya. Seperti : kompetensi khusus yang diterapkan oleh SMK jurusan TKR harus ada kompentensi khusus tentang Riding Safety, Bhayangkara, dan kegiatan lainnya seperti : kemandirian dalam Pramuka, pengembangan bakat dalam kegiatan Kesakaan, lintas sekolah, lintas jurusan dan lain sebagainya. Serta menerapkan rambu-rambu lalu lintas pada halaman sekolah, agar membiasakan diri disiplin pada aturan yang telah ditetapkan.

Metode Pembelajaran yang terbaik adalah metode yang membentuk karakter manusia berbangsa dan bernegara, diutamakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti hormat pada guru dan orang tua, saling tolong menolong, toleransi, berlaku sopan dan santun pada siapa saja atau dengan apa saja.

5.                  Kegiatan KBM asyik dan menyenangkan

Sekarang ada kunjungan industri yang diterapkan jenjang SMK, kemudian Study Tour yang diterapkan SMP dan SMA. Maka perlu juga adanya sebuah kegiatan KBM yang jauh dari yang biasanya, yaitu kelas mengenal alam, kelas mengenal saudara, kelas mengenal sejarah, kelas mengenal tokoh masyarakat, kelas mengenal instansi pemerintahan, kelas mengenal rambu lalu lintas, dengan langsung menuju pada sumber yang bersangkutan. Belajar yang menyenangkan bukanlah penerapan teori “seolah-olah” melainkan tentang interaksi gaya Realis Naturalisme dengan sumber yang berbeda.

Agar terciptanya sebuah sistem pendidikan diatas, maka dibutuhkan simbiosis mutualisme unsur pendidikan, maksudnya adalah sistem pendidikan tidak akan terlaksana tanpa adanya hubungan timbal balik antara guru, siswa, kurikulum (sistem pendidikan), dan lembaga pendidikan (sekolah) yang saling menguntungkan serta disiplin pada diri sendiri itu perlu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Welcome To Campus Merdeka

Nama                  : Muhammad Faiz Amali NIM                    : 21086030046 Mata Kuliah    : Tafsir dan Hadis Tarbawi Pengampu           : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.A   Welcome To Campus Merdeka             Selama ini pada dasarnya sebuah kampus sendiri menerapkan sistem pembelajaran dengan SKS yang hampir keseluruhan mengharuskan adanya kegiatan belajar didalam kelas. Ini menunjukkan kurangnya kemerdekaan belajar yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa dalam melakukan pembelajarannya.   Apa itu Merdeka belajar?                       Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada  lembaga pendiikan, dan merdeka  dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit sert...

HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS

  Nama                           : Mohammad Syahru Assabana Prodi                            : PAI-C NIM                             : 210860300 44 Mata Kuliah               : Tafsir dan Hadits Tarbawi   HAID (MENSTRUASI) DALAM TINJAUAN HADIS   Haid adalah darah yang dikeluarkan dari rahim apabila perempuan telah mencapai usia balig. Setiap bulan perempuan mengalami masa-masa haid dalam waktu tertentu. Jangka waktu haid minimal sehari semalam dan maksimal selama lima belas hari, namun umumnya adalah enam atau tu...

Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis

  Nama                    : Umi Azizaturrosyidah Prodi                     : PAI-C NIM                       : 21086030051 Mata Kuiah           : Tafsir dan Hadits Tarbawi      Haid (Menstruasi) dalam Tinjauan Hadis Kewenangan dan hak pada perempuan dalam menentukan pilihan dan mengontrol tubuh, seksualitas, dan alat serta fungsi reproduksinya dapat dimulai dari adanya penelitian tentang hak reproduksi. Salah satu permasalahan yang dilekatkan pada perempuan adalah haid (menstruasi). Haid (menstruasi) merupakan siklus biologis-kodrati yang dialami perempuan dalam kelangsungan kesehatan reproduksi perempuan. Menstruasi sesungguhnya merupakan proses biologis yang terkait dengan pencapaian pematangan seks, kesuburan, kesehatan tubuh, dan perubahan (p...