Prodi :
PAI C
Mata Kuliah : Tafsir dan Hadist Tarbawi
Puji dan syukur tentunya kita panjatkan kehadirat Allah swt dzat
yang mengatur segala urusan mahluknya. Semoga kita menjadi hambanya yang pintar
bersyukur dengan cara bertafakur terhadap segala pemberianNya yang tidak pernah
kan terukur. Sholawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada junjunan
terkasih, ikutan terbaik dan sumber inspirasi untuk segenap muslimin khususnya
dan manusia pada umumnya, manusia terbaik yang telah menuntun kepada jalan yang
lurus yakni habibana wanabiyana Muhammad SAW, semoga kita semua mendapatkan
syafaat daripadanya di yaumil qiyamah insyaAllah,, aamiin.
Terima kasih banyak kepada al ustadz Dr H Faqihuddin yang telah
memberikan pencerahan bagi kami mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan.
Beliau telah memberikan sebuah inspirasi kepada kami untuk senantiasa bergerak
dan berubah, senantiasa menjadi pembelajar yang baik tidak hanya saat
perkuliahan namun belajar sepanjang hayat harus menjadi pola fikir untuk
mahasiswa khsusnya di PAI C. khususnya untuk diri saya pribadi merasakan suatu
hal yang dapat diambil dan dijadikan sebagai bahan perenungan. Tentang
bagaimana dan kemana kita menjadi dan harus seperti apa kita berbuat.
Untuk menguraikannya ada beberapa hal yang patut kita jadikan
pedoman dalam meraih mimpi dan asa yang kan kita raih, poin-poin itu adalah apa
yang telah disampaikan dari beliau :
1.
Perencanaan
Sudah
semestinya kita sebagai pembelajar mesti memiliki perencanaan dalam hidup. Ya
karena perencanaan itu hampir 50 % dari sesuatu hal yang akan kita jalankan
menurut ilmu menejemen. Setidaknya jika kita memiliki rencana maka apapun yang
akan kita lakukan minimal ada acuannya, ada sumber pijakannya. Dan hal ini
tentunya memberikan kepada kita sebuah sikap yang akan kita ambil pada Langkah
berikutnya. Sederhananya adalah coba kita perhatikan saat sseorang guru akan
mengajar, pastilah memiliki perencanaan sebelum memulai pembelajaran, ada juga
seorang pedagang pastilah memiliki perencanaan ketika akan memulai
pekerjaannya, semua contoh diatas memungkinkan untuk kita memilki
persiapan-persiapan untuk menjalankan Langkah apa yang akan kita ambil dan
keputusan yang seperti apa yang akan kita buat. Konteks dari apa yang ingin
saya sampaikan adalah bahwa seorang pembelajar yang baik adalah mereka yang
memiliki perencanaan-perencanaan dalam hidupnya sehingga apa yang kita kenal
dengan action plan itu merupakan buah dari fikiran-fikiran yang
menggelayuti memori akalnya yang itu semua bersumber dari hati dan pada saat
yang sama perencanaan itu berbuah keinginan yang di dorong dengan tekad yang
kuat lalu mengejewantah dalam perilaku dalam aksi nyata untuk mewujudkan apa
yang menjadi kehendaknya. So milikilah perencanaan yang matang agar hidup
memilki tujuan dan arah yang jelas. Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S 59
ayat 18 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ
اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti
terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang
mukmin untuk melakukan kehendak dari keimanan dan konsekwensinya yaitu tetap
bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala baik dalam keadaan rahasia maupun
terang-terangan dan dalam setiap keadaan serta memperhatikan perintah Allah
baik syariat-Nya maupun batasan-Nya serta memperhatikan apa yang dapat memberi
mereka manfaat dan membuat mereka celaka serta memperhatikan hasil dari amal
yang baik dan amal yang buruk pada hari Kiamat. Karena ketika mereka menjadikan
akhirat di hadapan matanya dan di depan hatinya, maka mereka akan
bersungguh-sungguh memperbanyak amal yang dapat membuat mereka berbahagia di
sana, menyingkirkan penghalang yang dapat memberhentikan mereka dari melakukan
perjalanan atau menghalangi mereka atau bahkan memalingkan mereka darnya.
Demikian juga, ketika mereka mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala
Mahateliti terhadap apa yang mereka kerjakan, dimana amal mereka tidak ada yang
tersembunyi bagi-Nya dan tidak akan sia-sia serta diremehkan-Nya, maka yang
demikian dapat membuat mereka semakin semangat beramal saleh.
Ayat ini merupakan asas dalam meintrospeksi diri, dan bahwa
sepatutnya seorang hamba memeriksa amal yang dikerjakannya, ketika ia melihat
ada yang cacat, maka segera disusul dengan mencabutnya, bertobat secara tulus
(taubatan nashuha) dan berpaling dari segala sebab yang dapat membawa dirinya
kepada cacat tersebut. Demikian juga ketika ia melihat kekurangan pada dirinya
dalam menjalankan perintah Allah, maka ia mengerahkan kemampuannya sambil
meminta pertolongan kepada Tuhannya untuk dapat menyempurnakan kekurangan itu
dan memperbaikinya serta mengukur antara nikmat-nikmat Allah dan ihsan-Nya yang
banyak dengan kekurangan pada amalnya, dimana hal itu akan membuatnya semakin
malu kepada-Nya. Sungguh rugi seorang yang lalai terhadap masalah ini dan mirip
dengan orang-orang yang lupa kepada Allah; lalai dari mengingat-Nya serta lalai
dari memenuhi hak-Nya dan mendatangi keuntungan terbatas bagi dirinya dan hawa
nafsunya sehingga mereka tidak mendapatkan keberuntungan, bahkan Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka lupa terhadap maslahat diri mereka,
maka keadaan mereka menjadi melampaui batas, mereka pulang ke akhirat dengan
membawa kerugian di dunia dan akhirat serta tertipu dengan tipuan yang sulit
ditutupi, karena mereka adalah orang-orang yang fasik.[1]
2.
Prioritas
Sebuah sikap yang harus kita miliki sebagai pembelajar yang baik
adalah menentukan prioritas. Prioritas dalam hidup, ini tentang apa saja yang
akan kita lakukan dan kita perbuat dapat mengantarkan kepada target dan tujuan
yang akan kita capai dalam hidup. Prioritas memberikan ruang untuk kita
berfikir sebelum melakukan sesuatu, apakah itu bermanfaat dan mendekatkan kita
pada capaian yang akan kita tuju atau sebaliknya membuat target yang kita tuju
menjadi tidak tercapai. Ini semua membutuhkan komitmen yang jelas dan tekad
yang kuat, karena pastilah jalan dalam mewujudkan cita-cita itu syarat dengan
perjuangan dan pengorbanan. Kita harus memiliki mental seperti unta rohilah
yang siap memikul beban yang berat untuk waktu yang cukup lama. Sebgaiamana hadis
Rasulullah SAW yang patut menjadi bahan renungan untuk kita bersama :
عن عبد الله بن
عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
(إنما الناس كالإبل المائة لا تكاد تجد فيها
راحلة.( متفق عليه.
“Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya manusia seperti unta
sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan diantara unta-unta
tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi” (Muttafaqun ‘alaih).[2]
Jadi, saat kita sudah memiliki perencanaan dalam hidup dan membuat
keputusan dalam hidup kita harus siap menerima segala konsekwensinya, dan
diperlukan kesabaran yang dalam untuk menjalaninya, memiliki mental yang kuat
seperti unta rohillah yang siap memikul beban sampai kita layak untuk disebut
sebagai pemenang kehidupan.
3.
Pro Aktif
Sahabatku, ada
sebuah idiom yang ini secara tidak langsung memberikan sebuah suntikan semangat
kepada kita semuanya, yakni “Bergeraklah karena diam itu mematikan”. Sebuah
ungkapan yang syarat akan makna mendalam jika kita mau sedikit saja
merenunginya. Bahkan saya pernah membaca sebuah pesan imam asyafi’i yang
mengatakan “jika air diam maka kekeruhanlah yang akan menghiasinya, tapi jika
air itu mengalir maka kejernihanlah yang akan menghiasinya”.
Sahabatku yang
dimuliakan oleh Allah SWT semoga kita semua diberikan kemampuan untuk
merealisasikan segala apa yang menjadi hajat kita semuanya dengan cara terus
menerus bergerak, bekerja dan beramal sampai ajal kita tiba. Seorang pejuang
yang gagah berani yang mengarungi samudera kehidupan luas ditengah hiruk pikuk
gemerlapnya dunia yang mampu melalaikan Sebagian hambanya, maka kita bermohon
kepadaNYa agar kita diberikan oleh Allah SWT kemanisan dalam berjuang, dalam
beribadah dan dalam beramal di jalanNYa, sungguh jalan cinta para pejuang itu
memang dihiasi dengan hambatan dan tantangan akan tetapi bagi mereka yang terus
bergerak dan berjuang insyaAllah semuanya hanyalah fatamorgana yang tak nyata
karena bagi mereka yang nyata adalah kenikmatan yang akan diperoleh nanti saat
berjuma denganNya.
Poin-poin
diatas yang saya sampaikan adalah sebuah kerangka berfikir bagi seorang
pembelajar untuk meraih kemerdekaan hidup yang sesungguhnya. Tentunya masih
banyak factor-faktor pendukung lainnya yang akan mengantarkan seseorang
memperoleh kesuksesan dalam hidupnya. Yang memerlukan pembahasan yang Panjang
jika harus diurai dan dituangkan dalam selembar kertas ini, seperti Kritis
dalam berfikir, kreatifitas, komunikatif dan kolaboratif. insyaAllah akan saya
coba uraikan pada tulisan-tulisan saya yang lain. Sahabatku, merdeka merupakan
naluri setiap manusia, manusia menyukai kebebasan mereka tidak suka akan
pengekangan, pendiktean dan lain sebagaianya yang semisal dengan itu. Akan
tetapi kebebasan yang saya sampaikan diatas adalah merupakan manisfetasi
perenungan seorang hamba al fakir, bahwa arti hakiki dari kebebasan itu adalah
jika kita hidup dalam kehidupan bisa bersama dengan yang maha hidup dzat yang
kekal yakni Allah swt. Kebebasan yang seiring dengan apa yang Allah swt
inginkan kepada kita, bukan apa yang kita inginkan semata. So keep hamasah and
being employee of Allah (sebenar-benar hamba)
Salam ta’dzim
dan cinta semanis kurma untuk sahabatku semuanya….. 😊

Komentar
Posting Komentar