Nama : Mohamad Imron
NIM :
21086030043
Tolonglah
Saudaramu, Allah Akan Menolongmu
Musibah akibat letusan gunung berapi dan banyaknya bantuan yang datang
untuk para korban yang terdampak mengingatkan kita akan sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ
نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ
كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ
اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (رواه مسلم)
Maknanya: “Barang siapa
meringankan suatu kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Allah ringankan
darinya kesulitan di antara kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Barang siapa
memudahkan bagi orang yang kesulitan, maka Allah mudahkan baginya di dunia dan
akhirat.” (HR. Muslim) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa
meringankan suatu kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Allah ringankan
darinya kesulitan di antara kesulitan-kesulitan di hari kiamat.”
Hal ini kembali kepada kaedah bahwa balasan yang diberikan kepada
seseorang itu sejenis dengan amal yang ia lakukan. Banyak nash-nash semakna
dengan hadits di atas, seperti hadits:
إنَّمَا
يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ (رواه البخاري)
Maknanya:
“Sesungguhnya Allah menyayangi di antara para hamba-Nya orang-orang yang
penyayang” (HR. al Bukhari)
Begitu pula hadits:
إنَّ
اللهَ يُعَذِّبُ الَّذِيْنَ يُعَذِّبُوْنَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا (رواه مسلم)
Maknanya: “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa
orang lain di dunia” (HR. Muslim)
Kurbah yang disebutkan dalam
hadits di atas adalah kesulitan besar yang menyebabkan seseorang dirundung
kebingungan dan kesedihan. Tanfiis (naffasa) adalah meringankan beban seseorang
dari kesulitan tersebut. Sedangkan tafriij (farraja) lebih besar dari itu,
yaitu menghilangkan kesulitan dari seseorang sehingga sirna kegundahan dan
kesedihannya. Jadi balasan dari tanfiis adalah tanfiis dan balasan dari tafriij
adalah tafriij. Al-Baihaqi meriwayatkan dari hadits Anas secara marfu’ bahwa
suatu ketika salah seorang penghuni surga di hari kiamat melihat ke arah penduduk
neraka. lalu salah seorang penghuni neraka berseru memanggilnya: “Wahai fulan,
apakah engkau mengenaliku?” Penghuni surga pun menjawab: “Tidak, aku tidak
mengenalimu, siapakah engkau?” Penghuni neraka itu lalu berkata: “Aku yang
pernah bertemu denganmu di dunia dan engkau meminta seteguk air dariku lalu aku
memberikannya kepadamu.” Penghuni surga itu kemudian menjawab: “Ya, aku kenal.”
Lalu penghuni neraka itu pun berkata: “(Jika begitu) mohonkanlah pertolongan
dari Allah untukku.” Nabi bersabda: “Lalu ia memohon kepada Allah dan berkata:
“Jadikanlah aku pemberi syafaat untuknya.” Maka diterimalah syafa’atnya untuk
penghuni neraka itu sehingga diperintahkan kepada para malaikat untuk
mengeluarkan orang tersebut dari neraka.” Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kesulitan di antara
kesulitan-kesulitan di hari kiamat.” Hal ini dikarenakan berbagai kesulitan
dunia dibandingkan dengan kesulitan-kesulitan di akhirat tidak ada apa-apanya.
Dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
يَعْرَقُ
النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُم فِي الْأَرْضِ سَبْعِيْنَ
ذراعًا، وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ (رواه البخاري)
Maknanya: “Banyak orang yang bercucuran keringat di
hari kiamat hingga menetes di tanah setinggi 70 hasta dan mengekang mereka
hingga tingginya mencapai telinga-telinga mereka” (HR. al-Bukhari)
Dalam Shahih Muslim dari al-Miqdad ibn al-Aswad berkata: Aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تُدْنِي
الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ
كَمِقْدَارِ مِيْلٍ فَيَكُوْن النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ
فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى
رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ
يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا (رواه مسلم)
Maknanya: “Pada hari kiamat, matahari akan mendekat
kepada para hamba sehingga jaraknya dari mereka sekitar satu mil, maka
orang-orang akan bercucuran keringat sesuai dengan amal mereka, di antara
mereka ada yang keringatnya mencapai kedua mata kaki, ada yang mencapai dua
lutut, ada yang mencapai dada dan ada yang terkekang mulutnya dengan
keringatnya” (HR. Muslim)
Sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa memudahkan bagi orang yang
kesulitan, maka Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” Hal ini
menunjukkan bahwa kesulitan akan terjadi di akhirat. Allah telah menegaskan
tentang hari kiamat bahwa hari itu adalah hari yang sulit dan tidak mudah bagi
orang-orang kafir. Kemudahan di hari itu hanya berlaku untuk selain orang
kafir. Allah ta’ala berfirman:
وَكَانَ
يَوْمًا عَلَى الكَافِرِينَ عَسِيرًا (الفرقان: 26)
Maknanya: “Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang
kafir” (QS. Al-Furqan: 26)
Memudahkan orang
yang kesulitan di dunia dalam segi harta adalah dengan salah satu dari dua hal:
Pertama, dengan memberikan waktu penundaan hingga mendapatkan kemudahan (mampu
membayar hutangnya). Hukumnya wajib berdasarkan firman Allah ta’ala:
وَإِنْ
كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إلَىَ مَيْسَرَةٍ (البقرة: ٢٨٠)
Maknanya:
“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu
sampai dia memperoleh kelapangan” (QS. Al-Baqarah: 280)
Atau kedua, dengan membebaskannya dari tanggungannya
jika orang yang memberi kemudahan adalah orang yang menghutanginya. Jika bukan,
maka dengan memberikan harta yang menghilangkan kesulitannya tersebut. Dua hal
ini memiliki keutamaan dan pahala yang agung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ
النَّاسَ فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوْا عَنْهُ
لَعَلَّ اللهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا فَتَجَاوَزَ اللهُ عَنْهُ (رواه البخاري ومسلم)
Maknanya: “Ada seorang pedagang yang menghutangi
orang-orang, maka jika ia melihat orang yang kesulitan membayar hutang, ia
berkata kepada para pembantunya: Biarkan dan bebaskan dia, mudah-mudahan Allah
mengampuni dan membebaskan kita, maka Allah pun mengampuni pedagang tersebut”
(HR. al Bukhari dan Muslim)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
مَاتَ
رَجُلٌ فَقِيْلَ لَهُ بِمَ غَفَرَ اللهُ لَكَ؟ فَقَالَ كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ
فَأَتَجَّوَزُ عَنِ المُوْسِرِ وَأُخَفِّفُ عَنِ المُعْسِرِ (رواه البخاري ومسلم)
Maknanya: “Suatu ketika ada seorang laki-laki yang
meninggal, maka ditanyakan kepadanya: dengan sebab apa Allah mengampuni
dosa-dosamu?. Maka ia menjawab: Aku berdagang dan berjual beli dengan banyak
orang, maka aku mempermudah terhadap orang-orang yang berkecukupan dan
meringankan orang yang kesulitan” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits
yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَأَنْ
تكُشَفَ كُرْبَتُهُ فَلْيُفَرِّجْ عَنْ مُعْسِرٍ (رواه أحمد)
Maknanya:
“Barang siapa yang ingin dikabulkan doanya dan diangkat kesulitannya, hendaklah
ia membebaskan orang yang kesulitan” (HR. Ahmad).
Komentar
Posting Komentar