Nama : Mohamad Imron
NIM :
21086030043
Setelah kita menjalankan shalat fardhu lima waktu, kita terbiasa berdoa:
رَبَّنا
آتِنَا فِي الدُّنْيا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka."
Pertanyaannya, bagaimana cara menggapai hidup bahagia? Tentu kita akan
menjawabnya sesuai dengan tuntunan Allah swt dan Rasulullah Nabi Muhammad saw.
Dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 97 Allah berfirman:
مَنْ
عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ
حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا
يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Barangsiapa
mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri
balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS
an-Nahl: 97).
Imam al-Qurtubi menjelaskan di dalam kitabnya Tafsir al-Qurtubi juz 10
halaman 174 bahwa terdapat beberapa tanda hidup bahagia: Pertama adalah rezeki
yang halal. Rezeki yang halal membuat hidup menjadi bahagia dan berkah, segala
urusan menjadi mudah, keluarga penuh sakinah, mawaddah, dan rahmah,
putra-putrinya saleh dan salehah, jiwa raga semangat untuk ibadah, harta
melimpah ruah, bisa digunakan untuk haji dan umrah ke Makkah, serta ziarah Nabi
Muhammad saw di Madinah, dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Âmîn.
Rezeki yang halal menjadi pertanda seseorang hidup bahagia di dunia ini. Hal
ini terbukti jika kita melihat beberapa contoh dalam kehidupan nyata: sebuah
keluarga yang serba pas-pasan, membesarkan putra putrinya dengan serba
kekurangan, namun dengan harta yang halal, alhmdulillah berkah dan dapat untuk
mengarungi kehidupan. Walaupun jika dirumuskan dengan matematika manusia, tidak
akan cukup. Namun matematika Allah dapat mencukupinya. Bagaimana tidak, jika
sebulan penghasilan kurang dari satu juta, harus menghidupi 5 anaknya, namun
bisa cukup. Tidak hanya itu, karena berkah rezeki halal, anak-anaknya juga
menjadi orang yang dapat dibanggakan. Rezeki yang halal merupakan tanda hidup
bahagia. Kedua, qanaah, ridha dengan pemberian Allah, dalam bahasa Jawa disebut
nerimo ing pandum (menerima terhadap bagian yang diberikan Allah SWT).
Seseorang yang memiliki uang banyak, jabatan yang tinggi, harta yang melimpah
ruah, namun tidak memiliki sifat qanaah, ia akan selalu kurang, serakah, rakus,
dan tentunya hidupnya tidak bahagia. Nabi Muhammad saw bersabda dalam hadits
Riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juz 2 halaman 730:
قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya: “Sungguh beruntung
orang yang masuk Islam, diberi kecukupan rezeki, dan diberikan qanaah oleh
Allah atas apa yang diberikan kepadanya.
Bagaimana agar kita bisa qanaah? Nabi bersabda dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim:
انْظُرُوا
إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ،
فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang
yang ada di bawah kalian, jangan melihat seseorang yang ada di atas kalian, hal
tersebut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian (HR. Muslim).
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki mobil harus bersyukur karena
masih banyak orang yang naik motor dan tidak mampu membeli mobil. Mereka yang
naik motor harus bersyukur karena masih banyak yang naik sepeda dan tidak mampu
membei motor. Orang yang naik sepeda juga wajib bersyukur, karena masih ada
yang berjalan kaki dan tidak mampu membeli sepeda. Begitu juga orang yang
berjalan, harus bersyukur karena masih ada yang tidak bisa berjalan, dan begitu
seterusnya”. Orang yang memiliki sifat qanaah menunjukkan hidupnya Bahagia dan
tidak susah. Ketiga, taufiquhu ilath-thâ‘at, yakni mendapatkan pertolongan
Allah untuk melakukan kebaikan, ibadah, dan taat kepada Allah swt. Bagaimana
agar kita mendapatkan pertolongan Allah? Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat
Muhammad ayat 7:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
Artinya: “Hai orang-orang
mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan
meneguhkan kedudukanmu.”
Menurut Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Jamiul Bayan juz 21 halaman 191, Allah
akan menolong orang yang beramal sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhoi
Allah swt, yaitu orang yang berjuang di jalan Allah. Seperti orang yang
menuntut ilmu, mengajar di lembaga keilmuan, orang yang memakmurkan masjid, dan
sesamanya. Merekalah orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah dan hidupnya
akan diwarnai dengan kebahagiaan. Keempat, halâwah thâ‘ât, yaitu merasakan
manisnya ibadah dan taat kepada Allah swt. Nabi bersabda dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, juz 1 halaman
12:
ثَلَاثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللّٰهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ
إِلَّا لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Artinya: “Ada tiga orang
yang dapat menemukan manisnya keimanan: (1) orang yang lebih mencintai Allah
dan Rasul dibanding selainnya, (2) orang yang mencintai seseorang karena Allah,
(3) orang yang membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci
dimasukkan ke neraka.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa anjuran Rasulullah agar kita menggapai
kebahagiaan adalah memperoleh rezeki yang halal, qanaah (menerima) apa yang
telah diberikan Allah, mendapat pertolongan Allah dalam ketaatan, dan dapat
merasakan nikmatnya keimanan. Semoga kita semua selalu mendapatkan rahmat Allah
agar kita menjadi manusia yang bahagia hidup di dunia dan akhirat. Amin.
Komentar
Posting Komentar