Paradigma Tafsir Tarbawi
Nama : M. Syahru Assabana
NIM : 21086030044
Paradigma atau kerangka berpikir, disebut juga mainstream, adalah bagian dari sistem berpikir yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dengan paradigma diharapkan dapat tercipta sistem dan pola pikir yang lebih mendekati ke pola yang diharapkan atau diidealkan. selain itu paradigma juga dapat diartikan sebagai metodologi, pendekatan, atau bahkan secara spesifik dapat diartikan sebagai media dalam tafsir tarbawi.
Tafsir tarbawi berasal dari dua kata, yang pertama yaitu tafsir, Tafsir menurut bahasa mengikuti wazan “taf’il” yang artinya menjelaskan, menyingkap dan menerangkan makna-makna rasional. Kata kerjanya mengikuti wazan “dharaba – yadhribu” dan Nashara – Yanshuru”. Kata At-Tafsir mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup atau menyingkap kan maksud suatu lafadz yang musykil. sedangkan kata Tarbiyah berasal dari bahasa arab yaitu: rabba-yurabbi-tarbiyah, yang berarti raja/penguasa, tuan, pengatur, penanggung jawab, pemberi nikmat. Istilah tarbiyah dapat diartikan sebagai proses penyampaian atau pendampingan terhadap anak yang di empu sehingga dapat mengantarkan masa kanak-kanak tersebut kearah yang lebih baik. Jadi definisi tafsir tarbawi adalah pengungkapan atau penjelasan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan proses atau cara yang dilakukan oleh pendidik untuk mengambangkan pengetahuan, atau potensi peserta didik melalui berbagai metode, sehingga menyebabkan potensi yang dimiliki peserta didik tersebut dapat tumbuh dengan produktif dan kreatif.
Dalam mata kuliah pada program pascasarjana tafsir alquran juga disandingkan dengan hadis, hadis juga dalam pandangan imam syafii berfungsi sebagai bayan al-quran. oleh karena itu hadis adalah adalah bayanul quran, bayan artinya penjelasan quran, tafsir hadis adalah tentang bagaimana kajian terhadap quran baik berupa hadis maupun berupa hadis tentang tarbawi.
Tafsir Hadits Tarbawi adalah bagaimana kita mengkaji semua upaya ulama terkait dengan isu-isu tarbawi dengan sumber al quran dan hadis, yang perlu di cermati tafsir tentang isu tarbawi adalah isu pendekatan baru yang muncul pada abad ke 20, berdasarkan dari kesadaran tarbawi sebagai disiplin ilmu, tentuya didahului oleh fiqih, kalam, tasawuf maupun filsafat, dan tarbawi masih melebur pada disiplin-disiplin ilmu tersebut, ketika kita kembali pada kajian awal tafsir merupakan kajian baru, ta’wil bahkan lebih dulu karena dalam alquran menggunakan ta’wil, oleh karena itu kajian tafsir adalah kajian yang bersifat genuin.
Pada Abad I, II, III esensi tafsir masih menggunakan istilah ta’wil,karena memang disebut sepuluh kali di dalam quran, jadi kalau kita kembali pada tafsir at-thabari majma'ul bayan, maka dalam kitab ini jelas-jelas menggunakan istilah ta’wil bukan menggunakan tafsir, pada perkembangannya ta’wil digunakan dan dianggap sebagai trademarknya mu’tazilah, tafsir dominan digunakan selain oleh mu'tazilah, termasuk ahlussunnah wal jamaah menggunakan istilah tafsir untuk menyebutkan pendekatan terhadap metode penjelasan quran, tafsir sering didefinisikan sebagai semua ilmu atau upaya intelektual untuk memahami al quran, semua ilmu-ilmu ketika digunakan memahami quran maka dikatakan sebagai ilmu tafsir, kemudian tafsir menjadi disiplin ilmu, yaitu ilmu tentang upaya ulama untuk menjelaskan alquran, tafsir kemudian meluas yang mengandung beberapa pendekatan termasuk pendekatan tarbawi.
Tafsir terbagi menjadi dua, yaitu cara memahami dan juga perspektif atau ideologi,kemudian jika mentafsir melihat dari sumbernya maka dapat dibagi menjadi dua yaitu sumber bil ma'tsur ( teks yang otoritatif) , atau bil ma'qul (selain teks otoritatif, atau sumber akal), tapi juga melihat keluasan dan kependekan membahasnya mentafsir dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu Ijmali (engga dalam, contohnya tafsir jalalain) dan ithnabi ( dalam atau detail), ithnabi dibagi menjadi dua yaitu bayani (tekstual dikupas habis tanpa ada pembanding) dan muqarin ( membandingkan), kemudian ithnabi kembali dibagi menjadi dua yaitu dengan cara maudhu'i ( tematik, ketika susunannya dikumpulkan menjadi satu tema dan bukan melihat dari susunan surat) dan tahlili ( ketika penjelasan ayat dan hadis tidak dikelompokan menjadi dua tema). berikutnya mentafsir juga memiliki latar belakang atau beberapa pendekatan seperti pendekatan fiqih, kalam, tasawuf, filsafat, maupun disiplin ilmu lainnya. Menafsirkan tentunya memiliki latar belakang, seperti tafsir dengan pendekatan asyaari, mu’tazili,qodari, jabari, maupun yang lainnya.
Selain tafsir dengan pendekatan klasik, dalam perkembangan kontemporer ada beberapa metode kajian kontemporer, seperti kajian maqasidhi dan juga mubadalah yang dikarang oleh Dr. K. H. Faqiuddin, M.Ag. dari apa yang telah disarankan oleh beberapa ulama kontemporer yang menjadi paradigma kajian baru dalam tafsir tarbawi yang memiliki perspektif sendiri, bisa mengandung disiplin-disiplin ilmu dalam menjelaskan paradigma tafsir tarbawi
Paradigma tafsir alquran maupun hadis kontemporer seperti maqashidi maupun mubadalah secara garis besar dibagi menjadi dua paradigma, yaitu :
1. Sejauh mana quran dan hadis sebagai sumber
nilai pendidikan nilai yang dimaksud adalah-nilai-nilai dalam pendidikan,
contohnya tentang karakteristik pendidik dan peserta didik,kemudian relasi
antara orang tua dan anak, tentang relasi guru dan murid.
2.
Sejauh
mana quran dan hadis sumber konsep, konsep tentang gradualitas, dimana konsep
pendidikan haruslah berjenjang, atau konsep tentang dialog dalam pendidikan, apakah
metode dialog itu efektif atau tidak, dan bagaimana quran maupun hadis membahas
tentang konsep tersebut.
Kemudian secara spesifik dan praktis dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Isu, artinya adalah sejauh mana quran dan
hadis membicarakan isu pendidikan, contohnya pendidikan moral, siapa yang
bertanggung jawab dalam pendidikan, siapa yang berhak memanusiakan manusia, apa
yang dimaksud dengan manusia dalam pendidikan, bagaimana menjadikan seorang
anak menjadi lebih dewasa, kekerasan dalam pendidikan atau bahkan isu-isu
pendidikan lainnya
2. Metode, artinya dialog andragogi, metode
dialog dalam pendidikan, metode bagaimana pengelolaan pendidikan dalam quran,
maupun metode psikologi dalam pendidikan pada quran.
3. Perspektif, Perspektif yang dimaksud adalah
perspektif tarbiyah, otomatis semua ayat dalam alquran maupun hadis harus
dilihat dan dimunculkan sisi tarbiyahnya, contohnya pembahasan alif laam
miim dalam perspektif tajwid yaitu tentang bagaimana hukum bacaannya,
kemudian alif laam miim dalam perspektif fiqih khususnya dalam
pembahasan shalat, apakah alif laam miim, termasuk dalam satu ayat yang
bisa dibaca dalam sholat, atau bahkan alif laam miim dalam perspektif
tarbiyah, apakah alif laam miim, ada tujuan pendidikannya, kalau kita
bilang tidak ada, maka kita menggunkan metode dan isu tanpa menggunakan
perspektif.

Komentar
Posting Komentar