Kelas : PAI C
Mata kuliah : Tafsir
Alhamdulillah
telah mengikuti perkuliahan dengan bapak dosen Dr. H. Faqihuddin Abdul kodir,
MA yang insyallah banyak sekali manfaat dan pengalaman yang beliau sampaikan
tentu banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan dari hasil perkulihan dari
beliau, semoga beliau selalu diberi kesehatan. Saya akan memaparkan tentang
merdeka belajar menuju pendidikan ideal yang mana dunia pendidikan semakin
memiliki nilai untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi
kita semua untuk memperolehnya secara adil, layak dan beradab karena ini sudah
menjadi cita-cita bangsa kita yang tertulis dalam UUD 1945 bahwa pendidikan
bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.Pendidikan juga bertujuan untuk
memanusiakan manusia yang sering kita dengar tetapi tidak banyak yang tahu
bagaimana implementasi memanusiakan manusia dalam kurikulum pendidikan dan
kegiatan sehari-harinya di sekolah.
Belajar merupakan suatu tindakan dan
perilaku siswa yang sangat kompleks dalam mencari dan menerima suatu ilmu pengetahuan.Dalam
belajar terdapat interaksi antara guru (pendidik) dengan siswa (peserta didik)
untuk mencapai tujuan pembelajaran.Tujuan pembelajaran akan tercapai jika
penerapan pembelajaran sesuai dengan kondisi peserta didik yang beragam.
Selama ini proses belajar hanya bertumpu
kepada pendidik sebagai sumber utama, sehingga peserta didik kurang terlibat
dalam pembelajaran, karena peserta didik dikatakan belajar apabila mereka mampu
mengingat dan menghafal informasi atau pelajaran yang telah disampaikan.
Pembelajaran seperti ini tidak akan
membuat peserta didik menjadi aktif, mandiri dan mengembangkan pengetahuannya
berdasarkan pengalaman belajar yang telah mereka lakukan. Sedangkan seiring
kemajuan zaman dan teknologi, dibutuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) dengan
karakteristik yang baik.
Karakteristik manusia masa depan yang
dikehendaki adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian,
tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, dan mengembangkan
segenap aspek potensi melalui proses belajar untuk menemukan diri sendiri dan
menjadi diri sendiri.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Nadiem Makarim sudah menggebrak dengan idenya, Merdeka Belajar. Bahkan, dia
menyebut, Merdeka Belajar ini merupakan permulaan dari gagasan-gagasannya nanti
yang juga akan diluncurkan untuk memerbaiki sistem pendidikan nasional yang
terkesan monoton.
Merdeka
Belajar menjadi salah satu program inisiatif Nadiem Makarim yang ingin
menciptakan suasana belajar yang bahagia, baik bagi murid maupun para guru.
Merdeka Belajar ini konon dilahirkan dari banyaknya keluhan orangtua pada
sistem pendidikan nasional yang berlaku selama ini. Salah satunya ialah keluhan
soal banyaknya siswa yang dipatok nilai-nilai tertentu. "Jadi ini yang
menjadi sangat penting. Kita dari Kemendikbud ingin menciptakan suasana belajar
di sekolah yang happy. Makanya, tag-nya Merdeka Belajar," kata Kepala Biro
Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ade Erlangga, dalam Diskusi
Polemik tentang Merdeka Belajar Merdeka UN, di Jakarta.
Ade juga menjelaskan, tujuan Merdeka Belajar
ialah agar para guru, siswa, serta orangtua bisa mendapat suasana yang bahagia.
"Merdeka Belajar itu bahwa pendidikan harus menciptakan suasana yang
membahagiakan. Bahagia buat siapa? Bahagia buat guru, bahagia buat peserta
didik, bahagia buat orangtua, untuk semua umat," papar Ade. Secara
keseluruhan, Merdeka Belajar yang diluncurkan Nadiem terdiri atas empat isu
penting, yakni penggantian format ujian nasional (UN), pengembalian kewenangan
ujian sekolah berstandar nasional (USBN) ke sekolah, rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang hanya satu lembar, dan naiknya kuota jalur prestasi
pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) dari sebelumnya 15% menjadi 30%.
Ujian nasional yang selama ini menjadi pintu
gerbang bagi para pelajar di Tanah Air untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi
akan ditiadakan pada 2021 dan digantikan dengan asesmen kompetensi minimum dan
survei karakter. Pemberlakuan UN dianggap kurang tepat karena lebih mendorong
siswa untuk menghafal bahan pelajaran, bukan memahaminya. Ujian nasional juga
dianggap bisa menjadi sumber stres bagi pelajar, bahkan orangtua dan guru
karena ada tuntutan pencapaian nilai yang tinggi. Keberadaan UN yang lebih
mengedepankan capaian nilai akademis dinilai bertentangan dengan prinsip
pendidikan itu sendiri yang juga membutuhkan aspek psikologis dan perkembangan
kepribadiansiswa.
Tentang ketidakefektifan UN ini juga pernah
disurvei PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 2012. Hasilnya, bahwa
70% masyarakat dan guru setuju UN dihapus. Program penggantian format UN juga
mendapat lampu hijau dari Komisi X DPR RI. Namun, sebagian menyatakan khawatir
para guru tidak siap dengan sistem asesmen yang baru itu. Alasannya, beberapa
sekolah mungkin belum siap diberikan kebebasan untuk membuat sistem penilaian
sendiri karena minimnya fasilitas dan kualitas guru. Hal tersebut dikhawatirkan
bisa memperparah ketimpangan pendidikan. Tanggapan yang beragam muncul dari
kalangan pemerhati pendidikan. Sebagian mempertanyakan standar apa yang akan
diterapkan secara nasional bila ujian nasional dihapus. Sebagian lain menilai
kebijakan ini membuat guru lebih leluasa dalam menilai siswa didiknya.
Penilaian utuh Tidak ada kebijakan tanpa kritik. Menanggapi berbagai kritik dan
kekhawatiran tidak adanya standar akibat penghapusan UN, Nadiem menegaskan
bahwa standar nasional tentu saja ada. Namun, cara penilaian dan bentuk tesnya
akan menjadi kedaulatan pihak sekolah. Alasan Nadiem hanya pihak sekolahlah
yang mengetahui kemampuan kognisi dan perkembangan psikologis anak. Adapun
perihal sekolah yang belum siap untuk membuat asesmen, Nadiem mengatakan,
mereka bisa menggunakan soal-soal dari USBN atau UN.
Pada akhirnya, memberi kemerdekaan berarti
tidak ada paksaan bagi sekolah untuk menggunakan sistem asesmen. Pada
prinsipnya sekolah dipacu untuk melakukan proses adaptasi. "Bagi yang
belum siap, bagi yang masih mau belajar menggunakan cara penilaian baru.
Silakan. Itu haknya sekolah. Namun, bagi sekolah-sekolah dan guru yang sudah siap,
bisa maju duluan. Dan itu tentunya tidak akan kita tinggalkan sendiri, kita
akan selalu memberikan contoh-contoh," kata Nadiem saat rapat kerja dengan
Komisi X DPR RI. Satu lagi, pekerjaan rumah yang mendesak ialah meningkatkan
kompetensi guru secara merata. Keberhasilan program Merdeka Belajar akan sangat
ditentukan kompetensi guru yang kondisinya stabil.

Komentar
Posting Komentar