Nama : Mohammad Syahru
Assabana
Prodi : PAI-C
NIM : 21086030044
Mata Kuliah : Tafsir dan Hadits Tarbawi
BERPIKIR
DALAM PERSPEKTIF ALQURAN
Al-Qur’an berulang-ulang mengajak pembacanya berpikir
tentang tanda-tanda Sang Pencipta di alam semesta, dan di dalam diri mereka
sendiri, dengan tujuan agar mereka memahami “kehadiran-Nya”. Terdapat
kurang lebih 750 ayat Al-Qur’an yang mendesak pembacanya untuk berpikir tentang
alam, sejarah, Al-Qur’an itu sendiri, dan manusia. Berpikir dalam kacamata
Al-Qur’an setidaknya terkluster dalam lima tema utama: 1) Keesaan dan kasih sayang Allah (Tauhid); 2) Tadabbur pada Al-Qur’an; 3) Manusia dan alam
semesta; 4) Preseden sejarah; 5) Berpikir itu sendiri.
Berpikir dalam
pandangan Al-Qur’an, adalah satu bentuk ibadah manakala dilakukan dengan niat
ikhlas dan tujuan yang baik. Hirarki dari lima fungsi persepsi-kognitif, sering
disebut dalam Al-Qur’an, yaitu pendengaran, penglihatan, pemikiran, ingatan,
dan kepastian (lawan dari keraguan). Aspek lain dari pandangan Al-Qur’an
tentang berpikir adalah penekanan pada hikmah (kebijaksanaan dan penulaian yang
adil). Hikmah dipandang lebih penting dari pengetahuan praktis dan keahlian,
karena dapat memandu pengetahuan dan keahlian yang dimiliki supaya digunakan
secara tepat.
Memang dalam berpikir tidak menutup
kemungkinan akan terjadi kerancuan atau kesalahan, di mana hal ini bisa masuk
dalam kategori—apa yang diistilahkan oleh Rakhmat (2005: 5-7) sebagai— fallacy
of dramatic instance, yaitu suatu hal yang bermula dari kecenderungan orang
dalam melaksanakan apa yang dikenal dengan istilah over generation. Yaitu
pemanfaatan satu dua kasus guna mendukung argumen yang sifatnya general (Umum).
Kesalahan berpikir seperti ini banyak terjadi pada berbagai telaah sosial.
Argumen yang bersifat overgeneralized ini biasanya agak sukar untuk dipatahkan.
Sebab rujukan dari satu dua kasus itu seringkali berasal dari individual's
personal experience (Pengalaman pribadi seseorang). Dampaknya
sangat jelas yaitu lewat dengan bacaan-bacaan dan tayangan-tayangan di media
elektronik yang sifatnya tidak mendidik, sehingga banyak generasi kita yang
kerjanya hanya menghayal dan bahkan jatuh ke dalam lembah kemaksiatan seperti
narkoba dan free sex.
Kata " فكر "menurut al-
Ashfahaniy (t.th: 398) adalah bermakna semacam daya atau kemampuan untuk
memperoleh ilmu pengetahuan guna diketahui…dan ini berada pada manusia tidak
pada hewan. Jadi tentunya makna ini mengarah ke makna berpikir, sebagaimana hal
ini telah tergambar pada awal pembahasan di atas.
Kata " تـتفكرون) "berpikir)
yang bersifat negatif dalam Alquran mengarah kepada hal-hal di antaranya
berkaitan "hukum mengenai khamar dan judi", seperti yang tergambar
dalam QS. Al- Baqarah(2): 219 yang artinya: ”Mereka bertanya kepadamu tentang
khamar dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa
manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya
...Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.”
Ayat tersebut–sebagaimana yang
dinyatakan oleh Shihab (2000, I: 437)—adalah berbicara tentang khamar dan judi.
Nabi Muhammad saw. diperintahkan oleh Allah untuk menjawab kedua pertanyaan
tersebut. Katakanlah : pada keduanya terdapat dosa besar, misalnya hilangnya
keseimbangan, kesehatan terganggu, kebohongan, penipuan, mendapatkan harta
dengan tidak benar, tertanamnya benih permusuhan, dan beberapa manfaat duniawi
bagi sebagian manusia, misalnya keuntungan materi, kenikmatan sementara,
kehangatan pada waktu musim dingin dan terbukanya lapangan kerja. Selanjutnya
Shihab menjelaskan bahwa isyarat yang kuat mengenai keharamannya mulai lebih
jelas, sekalipun belum begitu tegas. Jawaban yang menyatakan bahwa dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya mengindikasikan bahwa ia mestinya
dihindari, sebab sesuatu yang keburukannya lebih dominan dibandingkan
kebaikannya adalah sesuatu yang tercela bahkan haram (Shihab, 2000, I: 437).
Dengan demikian, tampak bahwa karena orang-orang (Pada zaman Nabi ) itu hanya
memikirkan manfaat yang bersifat sesaat dalam khamar dan judi itu tanpa
memikirkan mudharatnya yang justeru jauh lebih banyak dari manfaatnya, maka
mereka tetap melakukan kedua hal tersebut. Itulah sebabnya, pada akhir ayat
tersebut mereka diajak untuk berpikir tentang mudharatnya itu. Ketika mereka
diajak untuk berpikir tentang hal tersebut, ayat itu menggunakan lafal " تـتفكرون لعلكم "di mana kata
" لعـل "di antara maknanya–sebagaimana yang dikemukakan oleh al-
Qattan (1996: 301)—adalah "harapan" karena mukhatab-nya (mitra
bicara) yaitu manusia. Jadi maknanya diharapkan mereka itu mau memikirkan
mudharat kedua hal tersebut, sehingga dengan begitu mereka tidak melakukannya
lagi.
Mencermati apa yang telah
dikemukakan di atas, tampak jelas bahwa berpikir dalam Alquran dengan
menggunakan term atau atau نظـر " dan" يعقلون atau تعقلون " ; "يتفكرون atau تتفكرون " redaksi ينظـر
"masing-masing mengarah kepada hal yang bersifat negatif dan positif,
sedang redaksi " احـالم "hanya
mengarah kepada hal yang bersifat negatif saja (Memang hanya kata ini yang dua
kali terulang , yang bermakna pikiran-pikiran pada ayat tersebut). Sebaliknya,
redaksi " االلـباب اولو "tampaknya ia
hanya mengarah kepada hal yang bersifat positif. Berpikir yang bersifat
negatif, dengan menggunakan redaksi " تتفكرون "mengarah
kepada hal yang di antaranya tentang "hukum khamar dan judi", redaksi
" تعقلون "mengarah kepada hal di antaranya tentang "perintah
/ajkan kepada kebajikan," redaksi " نظـر "mengarah
kepada "ketetatapan seorang (al-Walid) dalam penolakannya terhadap
Alquran," dan redaksi " احـالم "mengarah
kepada hal tentang "tuduhantuduhan (Kaum musyrikin) terhadap Muhammad
saw". Sementara berpikr yang bersifat positif dengan redaksi " يتفكرون "mengarah
kepada hal yang di antaranya tentang "fenomena alam binatang
(Lebah)," redaksi " يعقلون "mengarah
kepada hal di antaranya mengenai "penciptaan alam dan fenomenanya,"
redaksi " ينـظـر "mengarah
kepada hal yang menyangkut "asal-usul kejadian manusia", dan term
" اولو االلـبـاب "mengarah kepada hal-hal yang di antaranya tentang
"penerimaan dan penolakan terhadap Kitab Allah swt. (Alquran)" yang
diungkapkan dalam bentuk perumpamaan.
Komentar
Posting Komentar